Keterpurukan Citra Kepolisian

Pembantaian warga Mesuji dalam kasus pelanggaran HAM Mesuji tentunya masih melekat di pikiran kita. Informasi yang penulis dapat dari detik.com postingan Selasa, (3/1/2012) ada dua perwira polisi yang terlibat dalam kasus tersebut.

Denny Indrayana, Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mengatakan jika dua Perwira polisi tersebut adalah AKP Wetman Hutagaol dan Aipda Dian Purnama.

Pembantaian tersebut tentunya sudah mencoreng nama kepolisian. Polisi terlihat tidak konsisten pada tribratanya yakni senantiasa  melindungi,  mengayomi  dan  melayani,  masyarakat  dengan  keikhlasan  untuk  mewujudkan  keamanan  dan  ketertiban. bukannya mengayomi dan melindungi malah membantai warganya sendiri.

Kasus lain, dugaan penembakan mahasiswa Bima ikut menambah daftar hitam kepolisian di Indonesia. Akibat penembakan di Bima itu mahasiswa dari universitas di seluruh Indonesia tersulut melakukan aksi solidaritas.

Sayangnya, polisi masih dianggap terlalu represif dalam menangani para demonstran. Seperti yang diberitakan okezone.com Jumat (6/1/2012) lalu tentang penganiyaan mahasiswa di Solo.

Segera Rombak Citra

Berita-berita macam ini tentunya semakin memperburuk citra Polisi. Citra menurut Paul A. Argenti yang dituliskan dalam bukunya Komunikasi korporat berarti sebuah cerminan dari identitas sebuah organisasi (2010:78).

Lalu, Identitas sendiri berarti manifestasi dari realitas perusahaan seperti yang disampaikan melalui nama perusahaan, logo, moto, produk, layanan, bangunan, alat-alat tulis, dan barang-barang bukti nyata yang diciptakan oleh organisasi tersebut dan dikomunikasikan kepada beragam konstituennya (2010:78).

Berdasarkan pengertian diatas mari kita lihat apa yang diidentitaskan polisi untuk institusinya :

KAMI POLISI INDONESIA

  1. Berbakti kepada nusa dan bangsa dengan penuh ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa.
  2. Menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kemanusiaan dalam menegakkan hukum negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945.
  3. Senantiasa melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dengan keikhlasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban.

Kasus-kasus selama ini menunjukan jika polisi tidak konsekuen dengan tridarmanya apalagi tridarma nomor tiga yang berbunyi senantiasa melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dengan keikhlasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban.

Bagaimana masyarakat bisa percaya jika polisi dalam mengatasi pendemo masih menggunakan cara kekerasan seperti pemberitaan okezone.com diatas.

Melihat kasus yang sudah terjadi, polisi harus segera merombak citra mereka. Polisi tentunya bisa merubah citranya dengan program-program yang menunjang perbaikan citranya.

Ada cara mudah yang bisa dilakukan polisi untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat yaitu dengan menerapkan Tribratanya. Dalam teknisnya polisi juga diharap bisa menemukan cara baru untuk menangani demonstran, dan jangan gunakan kekerasan. Polisi juga bisa menggelar acara bersamaan dengan mahasiswa karena sekarang ini yang paling tidak percaya dengan polisi adalah mahasiswa. (*)

Recommended For You

About the Author: Ryantono Puji Santoso

Mahasiswa Komunikasi ini adalah Pemimpin Umum LPM Pabelan UMS