Muslim Civil Society

Indo-Islam

Gener, seorang orientalis Barat mengatakan, bahwa umat Islam memiliki segenap potensi untuk membentuk masyarakat madani (sebagai terjemahan dalam bahasa Arab) yaitu civil society. Karena memiliki karakter yang terbentuk atas dasar keyakinan kebenaran agamanya. Baik yang menyangkut kebenaran atas nilai-nilai kemanusiaan, maupun nilai-nilai tentang kebebasan.

Dalam term ini, menyoroti umat Islam Indonesia, secara cultural memiliki karakteristiknya sendiri, oleh karena itu umat Islam Indonesia biasa dikenal dengan sebutan “Indo-Islam”. Hal ini disebabkan karena dilatarbelakangi oleh budaya Melayu yang berwatak pesisir dan lebih kosmopolitan.

Sesuatu watak yang terbuka terhadap kemajemukan, serta memiliki budaya mandiri tentunya menjadi modal dasar bagi terbentuknya civil society. Modal dasar budaya seperti ini terntunya harus diberikan ruang untuk berkembang sebagai modal dasar yang akan menjadi pilar-pilar terbentuknya civil society di masa yang akan datang.

Karena bagaimanapun, umat Islam Indonesia sedang berjalan bersama proses globalisasi dan modernisasi terutama pada kelas menengah akan serta merta membutuhkan kemampuan mengafiliasi diri dan membentuk simpul-simpul kelompok yang berbasiskan kemandirian.

Instrumen Metodologis

Dalam potret peradaban masyarakat Islam, pernah lahir masyarakat demokratis dan mandiri karena terbukanya ruang publik yang luas. Masyarakat yang secara politik dan hukum diatur oleh ajaran agama.

Sesuatu yang menjadi inspirasi banyak pakar, ilmuan Islam ternasuk Indonesia. Masyarakat Islam yang dibangun Nabi Muhammad merupakan konsepsi masyarakat ideal yang transparan dan berkeadilan.

Membangun civil society dalam term masyarakat madani tidak harus memijakkan kaki konseptual kita pada masyarakat Barat, mengingat latar belakang kita yang jelas-jelas berbeda. Namun, amat penting konsepsi civil society kita gunakan sebagai intrumen metodologis untuk melihat kondisi bangsa dan umat Islam Indonesia.

Walaupun melihat relitas yang ada saat ini, cita-cita terbentuknya civil society Islam Indonesia tentunya dapat menopang demokrasi masih sebagai wacana sosial politik. Kendala yang paling mendasar dari terbentuknya civil society dalam term masyarakat madani adalah bukan hanya persoalan politik, dan ekonimi, namun banyak variabel persoalan yang mengiringinya.

Potensi: Intelektual Islam

Potensi umat Islam Indonesia memiliki harapan yang besar untuk mewujudkan gagasan civil society karena memiliki indikator yang lain selain faktor kultural masyarakatnya, yaitu dengan tumbuhnya tradisi Intelektual Islam yang terbuka.

Hal ini akan mengantarkan umat Islam Indonesia pada satu pintu peradaban dunia yang baru namun tetap berpegang teguh pada substansi ke-Islamannya dan tetap berpegang pada tradisi Melayu dalam payung peradaban Timur.

Kehadiran dan perkembangan intelektual Islam Indonesia sangat penting peranannya dalam menjadikan dirinya sebagai pilar yang dinamis terhadap terwujudnya the open society yang merupakan karakter dasar dari civil society.

Selain itu, Islam sebagai kelompok mayoritas di Indonesia memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk civil society yang bermoral. Hal ini disebabkan karena Islam Indonesia memiliki ormas yang sangat banyak.

Tentunya ormas-ormas Islam memiliki fungsi yang sangat vital dalam membangun dan mensosialisasikan civil society atau masyarakat madani. Sehingga akan mendorong terciptanya apa yang dikatakan muslim civil society. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.