Pemerintah dan Pangan Indonesia

Masih ingatkah dengan sasaran pemerintah pada tahun 2011 ini? Banyak sekali program kerja yang ingin direalisasikan oleh pemerintah, salah satunya dibidang produksi pangan dan pertanian.

Pemerintah menetapkan lima komoditas utama yang menjadi prioritas penanganan yaitu beras, jagung, kedelai, dan daging sapi.

Begitu bahagianya rakyat Indonesia yang selalu mendapat janji surga dari pemerintah, bak sang raja yang menjanjikan rakyatnya dengan iming-iming kesejahteraan.

Namun, keadaan yang terjadi sekarang ini sepertinya harus memaksa negara ini sabar. Menurut data yang penulis kutip dari Surat kabar Kompas beberapa minggu lalu. Pemerintah sekarang ini masih senang berwacana sehingga kurang memperhatikan kebutuhan petani.

Petani saat ini membutuhkan dukungan seperti perbaikan infrastruktur irigasi, jalan, benih, pupuk, alat produksi, sarana pasca panen, lahan, industri pengolahan untuk memberikan jaminan pasar, pengaturan tata niaga yang baik, dan pendampingan, namun yang diberikan pemerintah saat ini adalah bantuan sosial.

Ibarat sakit gigi, para petani itu hanya diberi sikat gigi. Sebut saja beberapa program pengembangan usaha agribisnis pertanian yang sudah menyalurkan dana lebih dari Rp 2,8 triliun, lembaga mandiri mengakar di masyarakat, dan sarjana membangun desa.

Buat Program Untuk Petani

Program-program ini baru seperti peredam nyeri pada sakit gigi para petani. Beberapa program memang sudah terlihat bagus, namun bagaimana dengan controlingnya, apakah program-program yang dibuat sudah terealisasikan dengan benar dan tepat pada sasaran?.

Jika memang pemerintah serius menggarap program ini lantas bagaimana kejadian di lapangan apakah benar-benar ada sarjana yang membangun desa, apakah petani sudah tertolong dengan program tersebut.

Masih menjadi pertanyaan dibenak penulis, bagaimana dengan evaluasi program-program itu, sampai sekarang Indonesia masih mengandalkan impor beras.

Jika beras saja yang masih menjadi kebutuhan pokok masih impor, apakah program ini memang benar-benar bagus atau harus dievaluasi lagi.

Jika memang program ini masih banyak kekurangan sebaiknya pemerintah harus cepat mengubahnya agar kondisi pangan kita bisa lebih baik lagi. Pemerintah jangan hanya terus berwacana, namun segera tunjukan kerja nyata agar rakyat tahu jika pimpinan mereka benar- benar ingin mengubah keadaan kearah yang lebih baik.

Kondisi belum maksimal

            Bagaimana dengan kondisi pangan Indonesia di tahun 2011 ini, apakah sudah memuaskan? ini mungkin pertanyaan yang masih membebani masyarakat Indonesia.

Penulis meminjam data dari kompas beberapa minggu lalu. Data tersebut menunjukan produksi empat dari lima komoditas utama itu belum mencapai target. Produksi beras, jagung, dan kedelai malah turun.

Produksi padi lebih rendah 5,2 juta ton gabah kering giling, jagung 4,77 juta ton pipilan kering, kedelai 629.932 ton kupasan kering, dan 400.000 ton gula Kristal putih. Apa akibatnya? akibatnya negara kehilangan potensi pendapatan riil dari empat komoditas strategis itu sebesar Rp 40,2 triliun, bukan angka kecil. Uang itu langsung ada di masyarakat dan nyata menggerakkan perekomomian nasional.

Melihat kondisi daging sapi, hasil sensus sapi Badan Statistik 2010 menunjukan  populasi sapi nasional 15,8 juta ekor. Jumlah ini menunjukan hasil yang bagus, namun beredar kabar jumlah ini tercapai karena Indonesia jorjoran mengimpor sapi bakalan dan daging sapi.

Data diatas sebenarnya sudah bisa menjadi acuan pemerintah untuk memilah program kerja yang masih mungkin dijalankan dan tidak mungkin dijalankan. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah menyikapi keadaan ini.

Sebagai orang yang dipilih masyarakat untuk mewakilinya tentunya pemerintah harus segera mengubah keadaan seperti ini.

Maksimalkan Sarjana                  

Salah satu program pemerintah adalah memanfaatkan sarjana untuk membangun desa. Program ini menurut penulis bisa menjadi program yang bagus karena pemanfaatan sarjana sekarang ini sangat minim terbukti dari banyaknya pengangguran yang ada di Indonesia.

Jika pemerintah mau memanfaatkan para sarjana ini tentunya pengangguran akan berkurang dan petani akan mendapat pendamping untuk penyuluhan. Misalnya, bagaimana cara menanam yang baik dan sebagainya.

Jika program ini benar-benar dimaksimalkan tentunya produksi panen akan meningkat dan pemerintah juga berhasil mengurangi pengangguran khususnya dibidang pertanian.

Selain itu, pemerintah juga harus mengontrol bagaimana kondisi lapangan selama ini sehingga tahu bagaimana kondisi sebenarnya dilapangan. Pemerintah juga harus mengevaluasi kinerjanya dan menjalankan evaluasi itu dengan sebaik-baiknya.

Recommended For You

About the Author: Ryantono Puji Santoso

Mahasiswa Komunikasi ini adalah Pemimpin Umum LPM Pabelan UMS