Jadilah Tuan Rumah di Negeri Sendiri!

Letak geografis yang strategis menunjukkan betapa kaya Indonesia akan sumber daya alam dengan segala flora, fauna dan potensi hidrografis dan deposit sumber alamnya yang melimpah. Sumber daya alam Indonesia berasal dari pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan serta pertambangan dan energi.
Fakta fisik bahwa dua per tiga wilayah Indonesia berupa laut, maka sumber daya alam di laut memiliki potensi yang sangat besar. Selain mengandung minyak, gas, mineral dan energi laut non-konvesional, serta harta karun yang sudah mulai digali meskipun masih terbatas, laut juga menghasilkan ikan yang potensi lestarinya diperkirakan sebesar 6, 4 juta ton per tahun. Saat ini yang baru dimanfaatkan sekitar 70 %. Pertambangan dan energi diharapkan menjadi primadona sumber penerimaan devisa, khususnya dari pendapatan ekspor minyak dan gas. Dua komoditi tambang tersebut kuantitasnya sangat mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia, sehingga sering digunakan sebagai asumsi dasar dalam perencanaan APBN. Energi listrik sebagian besar masih diproduksi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), sedangkan sisanya oleh perusahaan-perusahaan yang dikelola Pemerintah Daerah, koperasi, atau perusahaan swasta lainnya.
Kekayaan negara merupakan aset terbesar negara yang dapat menyejahterakan masyarakatnya. Tidak hanya sektor kelautan, pertambangan, pertania, hutan dan kebudayaan, namun beberapa sektor tersebut tersebut menjelma menjadi badan usaha milik negara (BUMN) yang menjadikan aset negara semakin membesar. Namun ternyata kekayaan aset negara tidak dibarengi dengan sumber daya manusia yang mantap juga mental kenegaraan yang kuat sehingga banyak aset negara yang dilarikan ke negeri orang.
Banyak data yang telah terkumpul adanya privatisasi aset-aset negara. Kasus lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan pada Desember 2002 merupakan satu bukti nyata kacaunya pengelolaan kekayaan Negara. Penguasaan Tambang Emas Indonesia yang merupakan tambang emas terbesar di dunia oleh Freeport McMoran.Total pemberian pemasukan PT.Freeport kepada Republik Indonesia hanya 10-13% pendapatan bersih di luar pajak atau 46 juta dollar (460 miyar rupiah). Sedang pemasukan yang didapat oleh Freeport McMoran yang mencapai 380 juta dollar (hampir 3,8 trilyun). Penguasaan Blok Cepu oleh Exxon Mobile, pembagian pendapatan yang masih simpang siur di kalangan publik dan Indonesia hanya mendapatkan pajak dari perusahaan tersebut. Bisa dikatakan dari hasil industri perusahaan tersebut, Negara hanya mendapatkan 0%. Belum lagi 44 BUMN yang dijual ke asing dengan dalih mencari keuntungan. Penjualan aset negara yang seyogyanya digunakan untuk menyejahkerakan dan untuk kemakmuran rakyat namun justru memakmuran pihak asing. Tidak sampai di situ. Aset kebudayaanpun kini telah banyak yang diswastakan seperti yang terjadi di Boyolali dan Solo.

Privatisasi yang terus berlangsung tersebut tentunya patut disayangkan dan perlu perhatian yang besar dari semua pihak. Meminjam ungkapan pakar Ekonom UGM, Revrisond Baswir, penjualan (privatisasi) BUMN itu akan dipersoalkan publik jika tidak memakai metode yang benar, profesional, hati-hati, tidak tepat momentumnya, tidak akuntabel, dan tidak transparan. Bahkan para pakar ekonomi kerakyatan yang lain menyatakan bahwa pemerintah tidak berhak menjual aset-aset negara. Sebaliknya, kewajiban pemerintahlah memiliki aset negara yang dikelola untuk kepentingan negara dan masyarakat
Melihat fenomena yang tidak seharusnya ini tentunya akan ada strategi yang akan diambil baik negara yang menjadi penanggungjawab kebijakan maupun stakeholder yang lain. Pengelolaan Kekayaan Negara yang efisien, efektif dan optimal adalah kunci keberhasilan pemerintah dalam melayani masyarakat. Landasan hukum yang kokoh dan terintegrasi sangat diperlukan untuk mengelola kekayaan negara sehingga tercipta kepastian hukum. Kepemimpinan yang kuat dan dukungan dari staf pengelola kekayaan negara, khususnya Direktorat Jendral Kekayaan Negara, sangat dibutuhkan guna menjamin tercapainya tujuan pengelolaan kekayaan negara. Juga dukungan dan peran aktif masyarakat juga ikut menentukan keberhasilan pengelolaan kekayaan negara. Nah yang menjadi penting untuk dibahas adalah bagaimana strategi-stategi tersebut dilakukan guna keuntuhan aset-aset negara dan bangsa Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri?. Sehingg klaim-klaim asing terhadap aset negara menjadi terminimalisir dan dihilangkan. (*)

Recommended For You

About the Author: Wulan Rahayu

Gadis mungil yang kesengsem dengan pemandangan alam ini adalah redaktur pelaksana Gema-nurani.com dan hobi menuangkan isi ide kepalanya dalam sebuah tulisan.