Pejabat Bermartabat

Di tengah-tengah samudera dan gelombang yang tak menentu, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang jujur, bersih, adil dan tegas. Akan tetapi profil pemimpin yang demikian ibarat bagaimana mencari jarum dalam sekam. Meski demikian, pemimpin demikian tetaplah ada di negeri ini. Fenomena politik kita semakin menunjukkan bahwasannya politik kita telah dikotori dengan persoalan perut dan bawah perut. Politik itu untuk pemenuhan kepentingan pribadi, golongan, hingga partainya sendiri-sendiri. Kita bisa membaca karakteristik partai politik kita tak jauh beda satu dengan yang lain. Kerap menampilkan citranya, dan jarang bicara kepentingan rakyatnya. Bagaimana mungkin mereka membicarakan kelaparan dan kemiskinan? Padahal gedung DPRnya bernilai miliaran rupiah. Baru saja DPR membatalkan rencana membangun gedung barunya, alih-alih meningkatkan profesionalitas kerjanya tapi justru membuat rakyat jengah. Bagaimana tidak, badan anggaran DPR baru saja membangun ruang rapat yang senilai 20 miliar. Setelah hampir selesai, tiba-tiba saja saling lempar antara ketua DPR, sekjen, hingga para politisi lainnya saling bersilat lidah akan fenomena tersebut. Nalar mana yang membenarkan membicarakan kemiskinan di hotel mewah, mobil mewah, hingga gedung-gedung mewah?. Rasanya tak mungkin membicarakan kemiskinan dalam nalar ruang yang seperti itu. Rakyat sepertinya tak bisa percaya dengan kualitas omongan para wakil rakyatnya ketika perilaku mereka sedemikian halnya. Belum lagi, ketika rapat DPR kita disuguhi wakil rakyat kita tidur. Bagaimana gaya politik yang sedemikian parah didiamkan oleh para pemimpin partai masing-masing, bagaimana bisa kultur politik seperti ini dijalankan dan dilestarikan?. Persoalan kepemimpinan lah yang sampai saat ini masih langka di negeri ini. Para founding fathers kita menunjukkan bagaimana seharusnya profil seorang pemimpin. Hatta adalah sosok yang bisa dijadikan pelajaran penting dari sosok kesederhanaan dia, hingga sikap asketisme intelektual yang dia jalankan. Tak hanya persoalan harta saja yang ia abaikan, hingga ia bersumpah tak akan menikah sebelum indonesia merdeka. Ikrar hatta bukan saja persoalan janji semata, tapi ia menyadari bagaimana dan seharusnya menjadi seorang pemimpin, hingga ia mengundurkan diri jika  politik sudah tak sesuai jalurnya. Yang ia tuangkan dalam demokrasi indonesia. Etos Politik Syahrir Sebagaimana Syahrir bapak pejuang kemerdekaan kita, ia mengajarkan politik itu tak mencari profil, politik itu tak mencari pamor, politik itu kerja. Maka itulah yang dialami Syahrir, ia adalah pejuang yang tenggelam namanya, ia bahkan tak sepopuler hatta, sukarno, dan yang lainnya. Bahkan ketika politik sudah tak sesuai lagi dengan yang ia harapkan, ia mengembalikan lagi jabatan yang dipegangnya sebagai perdana menteri. Maka usia Syahrir dalam politik begitu singkat, ia memimpin sebagai perdana menteri pada 1945-1947 yang kemudian digantikan oleh Amir Syarifudin. Berbeda dengan Syahrir saat itu, para penguasa kita saat ini berkunjung keseluruh negeri disambut dengan demonstrasi, bersambut dengan kritik dari rakyat, tapi masih saja tanpa malu merasa dirinya adalah pemimpin di negeri ini. Selain itu, gaya pencitraan masih diunggulkan, gaya foya-foya dengan cara meminta kenaikan gaji dan mobil baru adalah rutinitas mereka yang sebenarnya jengah untuk dipertontonkan di depan rakyat kita. Syahrir pernah menuliskan ini dalam artikel berjudul “Masyarakat kita : Feodal dan Parasit”: “Pemerintah di negeri kita, lurah, wedana, bupati, pejabat Negara, negeri itu sendiri hidup dengan motivasi” hidup sebagai parasit, boros, dan kemegahan akbar”. Kepemimpinan yang didasari etos politik yang benar, maka akan membuahkan kepercayaan dan juga semangat kebersamaan dalam kerja. Karena pada hakekatnya politik adalah usaha dan upaya untuk mewujudkan nilai-nilai martabat dan kesejahteraan manusia. Tipologi pemimpin yang seperti ini memang langka dan sulit dicari, akan tetapi tipe pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan di era saat ini, yang ia tak banyak bicara tapi menunjukkan kinerja dan keteladanannya pada rakyatnya. Masih ada harapan Masih adakah pemimpin yang sederhana, mengutamakan kerja, hingga kepentingan rakyatnya di era saat ini?. Jokowi dan Dahlan Iskan adalah sosok yang masih memegang prinsip itu. Dahlan Iskan dikenal sebagai sosok yang sederhana, tak mau mengambil gajinya, hingga makan soto di pinggir jalan sebelum membahas rapat kabinet. Maka sudah pasti bisa diduga omongannya pun tak seperti para wakil rakyat kita yang membahasakan rakyat dengan berbagai bahasa politisnya. Jokowi pun demikian halnya, ia adalah tipe pemimpin yang mengutamakan kerja, optimistik, hingga futuristik. Ia tak gila akan harta dan memanfaatkan jabatannya. Pemimpin bermartabat itu langka, tapi masih ada dalam masyarakat kita, dicari pemimpin bermartabat agar negeri ini kian berdaulat. Begitu. (*)

Recommended For You

About the Author: Arif Saifuddin Yudistira

ARIF SAIFUDIN YUDITIRA . Lahir 30 juni 1988, bermukim di Klaten, masih studi di universitas muhammadiyah surakarta mengambil jurusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan bahasa inggris, selain menulis puisi, penulis juga aktif menulis esai, esai dan puisinya tersebar di beberapa media massa seperti Radar surabaya, Suara merdeka, Harian joglosemar, Solo pos, Media Indonesia, Lampung post, Majalah bhinneka, Majalah papyrus, Bulletin sastra pawon, Koran opini.com, gema nurani-com dan lain-lain. Aktif di kegiatan sastra komunitas sastra pawon solo, pengajian jum’at petang, Disanalah penulis belajar tentang sastra dan dunia kepenulisan. Dalam dunia kemahasiswaan sempat menduduki ketua di beberapa lembaga IMM bidang SOSMI, LITBANG PERS FIGUR UMS, Dan KETUA DPM UMS. Selain di bangku kuliah, penulis aktif sebagai presidium kawah institute Indonesia dan bilik literasi Solo Cp : 085642255900