RSBI yang Kontraproduktif

Sistem

Sejak munculnya program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) tujuh tahun silam beberapa sekolah negeri dan swasta berlomba-lomba meningkatkan kualitas sekolahan agar bisa masuk dan memenuhi syarat sebagai sekolah bertaraf Internasional.

Betapa tidak, dengan adanya label RSBI di tiap-tiap sekolahan, kualitas dan pelayanan di tiap sekolahan menjadi diperhitungkan sehingga output yang dihasilkan oleh siswa lebih menjanjikan.

Berdasarkan Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas). Program RSBI adalah satuan pendidikan bertaraf internasional yang dikembangkan di semua jenjang pendidikan.

Satuan bertaraf internasional ini mencakup sistem manajemen yang terbuka transparan dan akuntabel, fasilitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar, pelayanan yang memuaskan bagi pengguna pendidikan serta kursi bagi siswa yang kurang mampu dan sistem evaluasi yang mementingkan kualitas tanggung jawab dan kejujuran.

Dengan terpenuhinya satuan tersebut tujuan dari program RSBI untuk meningkatkan mutu sekolahan di berbagai bidang akan terwujud dan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan indonesia akan terealisasi dengan menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang berstandar internasional.

Gagal

Sejalan dengan perkembangannya, program RSBI yang diagung-agung oleh pemerintah sebagai pendidikan yang ideal kemudian mulai diragukan kepercayaannya oleh masyarakat.

RSBI yang diluncurkan pada tahun 2005 silam, dalam perkembangannya dinilai sebagai sekolah yang salah konsep, sekolah yang mahal, sekolah yang eksklusif dan sekolah anak orang kaya  bahkan mendiskriminasikan anak bangsa yang tidak memberikan keadilan.

Pandangan tersebut muncul setelah siswa atau siswi tidak mengalami peningkatan dalam ilmu pengetahuan maupun kapasitas skill. Dengan dibarengi 1.305 sekolah yang berada di tingkat SD, SMP, SMA/SMK yang tidak memenuhi syarat menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

Selain kehilangan kepercayaan, keterbatasan sekolah dalam pendayagunaan sumber daya, pengelolaan dana maupun fasilitas serta inovasi yang kurang efektif juga menjadi penyebab gagalnya RSBI.

Terbukti tenaga pendidik yang mengajar di program RSBI masih berijazah sarjana, minim motivasi dan tidak kompeten dalam penguasaan ilmunya. Kondisi tersebut mengakibatkan siswa berperilaku eksklusif dan memfokuskan pada penilaian kognitif.

Pendidikan Kreatif

Sementara itu, untuk mengatasi kegagalan tersebut seharusnya sekolah jangan terfokus pada pengembangan aspek kognitif melainkan penggabungan antara kognitif, afektif dan psikomotorik.

Selain itu dalam wilayah pengembangan infrastruktur fasilitas yang melebihi batas dan konsep tenaga pengajar yang berpendidikan S2 perlu di desain ulang programnya. Untuk itu, agar program ini tidak terlihat karakter kontraproduktif maka pemerintah harus memfokuskan program pendidikan yang memfokuskan pada bakat dan keinginan siswa dalam suatu bidang.

Tidak hanya itu saja pengembangan karakter sosial dan budaya bangsa dibarengi dengan peningkatan kapasitas maupun kompetensi dari setiap guru juga perlu direalisasikan agar tercipta generasi bangsa yang kreatif. (*)

Recommended For You

About the Author: Agam Cendekia