Gerakan Mahasiswa 2012

Seminggu yang lalu, publik masih menyangka, mahasiswa adalah kalangan apatis yang hanya mementingkan IPK bagus, jaringan kerja, dan gaya hidup hedon. Siapa sangka, hanya dalam hitungan hari, mahasiswa tiba-tiba bergerak solid di jalan-jalan, menyerukan penolakan kenaikan harga BBM dan penurunan SBY-Boediono.

Mahasiswa menyemut di berbagai kota dan kampus, jelas dinaikkannya harga BBM bersubsidi 1 April 2012. Mereka menilai, kebijakan pemerintah ini tidak pro-rakyat dan zalim. Pemerintahan SBY-Boediono dianggap paling bertanggung jawab atas penderitaan rakyat akibat dinaikkannya harga BBM. Belum lagi harga BBM belum benar-benar naik, harga-harga telah lebih dahulu meninggi.

Poster-poster dibentangkan hingga memacetkan jalan-jalan. Mahasiswa bahkan menduduki instansi pemerintahan, memblokir sarana transportasi, dan bentrok dengan aparat kepolisian. Sekian lama menyerukan penderitaan rakyat dan tak ada respons positif dari pemerintah, mereka pun bergerak masif, tanpa kompromi.

Cetak Sejarah

Gerakan Mahasiswa 2012 dapat dikatakan sebagai titik balik eksistensi gerakan ekstraparlementer. Mahasiswa kembali mencetak sejarah dengan segala intelektualitasnya, menyusul pendahulu mereka pada 1926, 1928, 1945, 1966, 1974, dan 1998. Pada zaman-zaman tersebut, mahasiswa menjadi inisiator penting perubahan konstelasi nasional.

Hari ini, dalam belitan era informasi, liberalisasi, dan kapitalisasi gila-gilaan, yang bahkan mencerabut identitas altruis manusia, mahasiswa mampu berdiri tegak di atas panji-panji kebenaran yang mereka yakini; melawan tirani. Keadaan yang semakin sulit dan kepemimpinan nasional yang tumpul berhadapan dengan dominasi asing memaksa mahasiswa untuk merangsek ke dalam perpolitikan formal; menegur para pemimpin nasional.

Katakanlah, gerakan mahasiswa takkan lahir tanpa stimulasi kepentingan politik elite, tapi independensi gerakan mahasiswa tetaplah menemukan kekhasan tersendiri. Ya, mereka hanya menyerukan penderitaan rakyat, tanpa berkepentingan pada kekuasaan. Selain itu, mereka bergerak dengan argumentasi yang cukup.

Tudingan sebagian kalangan tentang gerakan mahasiswa yang ditunggangi tentu bukan hal bijak, mengingat tak ada kompensasi langsung yang berarti bagi mahasiswa. Mereka meninggalkan bangku kuliah, berpanas-panas di jalan raya, dan bentrok dengan aparat keamanan hanya untuk idealisme khusus, tentang bangsa yang lebih bermartabat. Tentang kepemimpinan yang harus mengerti apa yang dirasakan rakyat. Tentang kezaliman yang harus dilawan.

Kaderisasi

Format bijak yang layak diketengahkan adalah negeri ini yang selalu saja memiliki cara untuk membesarkan generasi penerusnya dengan cara jalanan. Setiap zaman, selalu saja ada pembicaraan tentang gerakan mahasiswa yang harus selalu tetap ada. Setiap generasi, selalu saja ada polemik yang diketengahkan untuk menjaga moralitas para pemimpin tetap pada relnya. Benar-benar mahasiswa adalah agen perubahan.

Lebih dari itu, anak-anak muda yang bersemangat itu adalah representasi keberhasilan generasi sebelumnya dalam mendidik mereka. Bila dilahirkan dengan inferioritas, mereka akan bergejolak meraih eksistensi. Bila dibesarkan dengan keserakahan, mereka akan menuntut balas. Bila diberi asupan materialis berlebihan, mereka akan berkonfrontasi.

Sebab, kaum mudalah pemilik masa depan negeri ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat melahirkan, membesarkan, mendampingi generasi muda untuk terus berbakti kepada bangsanya. Seperti kata Gus Mus, seorang ulama dan budayawan, “Menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, mencintai sesama manusia.”

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.