Kenaikan Harga BBM yang Ditunda dan Manunggaling Hanura-Rakyat

fogging hanura
fogging hanura

Alhasil, harga BBM tak jadi naik. Bukan dihapus, tapi ditunda. Meski tak seperti yang dikehendaki rakyat, setidaknya pilihan ini melegakan. Ya, harga-harga tidak lagi terus melambung.

Ketahuilah, penundaan kenaikan harga BBM bukan lagi menjadi hal sepele lantaran banyak hal yang telah terkorbankan. Mulai dari bentrok mahasiswa-aparat yang mengingatkan kita pada peristiwa Mei 1998, hingga berubah-ubahnya resistensi beberapa Fraksi di DPR-RI yang sebelumnya mendukung menjadi menolak.

Ini tentu bukan hanya soal kejadian kasat mata. Peristiwa bentrok mahasiswa-polisi mewakili ketidakpercayaan luar biasa generasi penerus pada alat-alat negara. Intelektualitas mahasiswa tiba-tiba berubah menjadi kemarahan luar biasa lantaran Pemerintahan SBY-Boediono dinilai telah sangat keterlaluan.

Berubah-ubahnya sikap sebagian Fraksi di Parlemen menandakan dinamika politik yang luar biasa tinggi. Meski mungkin peran aksi demonstrasi di mana-mana menjadi pertimbangan penting,tapi Parpol-parpol tersebut telah mengalami kebuntuan diplomasi.

Isu pergantian kepemimpinan nasional menjadi akumulasi ketidaksukaan rakyat pada pemimpinnya. Seperti tak dapat belajar dari kejadian-kejadian yang telah berlalu, Pemerintahan SBY-Boediono bahkan menganggap penembakan besar-besaran pada demonstran sebagai hal biasa.

Demarkasi Pro-Rakyat dan Bukan

Pentas politik pengambilan keputusan menaikkan atau tidak menaikkan harga BBM lantas bermuara pada pemisahan tegas; mana Parpol yang sehati dengan nurani rakyat dan mana Parpol yang hanya memanfaatkan rakyat dalam Pemilu. Betapa gampang kini membedakan, mana arus besar politik yang berusaha mati-matian pro-rakyat dan mana kekuatan politik yang tega melihat rakyat terjepit.

Meski secara ideologis, Parpol-Parpol yang pro atau kontra tidak juga kentara, akhirnya muncul dua kelompok besar yang langsung dapat ditonton rakyat. Pemilahan oposisi atau bukan oposisi juga bukan jaminan menjaga reputasi moral politik masing-masing anggota dewan.

Rakyat mulai dapat menuding; mana Parpol yang sangat mengerti rakyat dan mana Parpol yang tidak mau tahu kesulitan rakyat. Bila benar-benar baik, mulailah untuk mendukung mereka. Atau sebaliknya, bila memang tidak baik, ya usahakan jangan memilih mereka lagi.

Kini rakyat tak lagi gampang dibohongi dengan janji-janji. Rakyat sekarang bahkan tidak mau ambil pusing, bila pada kenyataannya, keberadaan Parpol tidak dapat mengartikulasi kepentingan ekonomi-politik rakyat. Sebuah negara di mana mesin politik hanya bermakna kekuasaan.

Partai Hanura

Beruntung, Partai Hanura tetap konsisten pada pilihannya; menolak kenaikan harga BBM bersubsidi. Bila tidak, apa jadinya tag-line Hanura Takkan Khianat: Hidup Mati Bersama Rakyat? Kini terbukti, Hanura menepati janjinya.

Beruntung, Partai Hanura tergerak untuk melawan kekuatan dominasi, meski jumlahnya tidak besar. Mentalitas menang ini layak dipelihara untuk menuju kesuksesan yang sesungguhnya; membangun masyarakat yang mandiri dan bermartabat, demi keunggulan bangsa.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.