Penolakan Kenaikan Harga BBM ala Erik Satrya Wardhana

Penolakan Kenaikan Harga BBM ala Erik Satrya Wardhana
Penolakan Kenaikan Harga BBM ala Erik Satrya Wardhana

Adalah Erik Satrya Wardhana, Wakil Ketua Komisi VI DPR-RI. Ia anggota Fraksi Hanura. Bertarung habis-habisan di jalur diplomasi untuk menggagalkan kebijakan Pemerintah menaikkan harga BBM, Erik bahkan menandaskannya dengan argumentasi seilmiah dan serealistis mungkin.

Pernyataannya keras, tak kompromi, dan konsisten. Pertama, Erik menyatakan, penundaan dan perubahan isi klausul restrukturisasi (master restructuring agreement/ MRA) TPPI dapat merugikan negara hingga sekitar Rp 1,5 triliun per tahun.

PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) adalah sebuah perusahaan produsen petrokimia, bagian dari Grup Tuban Petro. Perusahaan ini memiliki masalah utang dalam status default dengan BPMIGAS sebesar ±US$169 juta; Pertamina sebesar ±US$406 juta dalam bentuk product delivery instrument dan ±US$183 juta dalam bentuk pokok open account, serta kepada kreditur lainnya sebesar ±US$1 miliar.

Kedua, anggota DPR-RI dengan Dapil Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor tersebut, mempertanyakan pola pembelian melalui broker atau trader yang dilakukan oleh Petral dalam pengadaan minyak mentah dan BBM jenis premium, hingga menimbulkan kerugian Negara yang sangat besar.

Minimal, dengan dua alasan ini, Erik tengah mendedah karut-marutnya manajemen Pemerintah, terkait Migas, yang sama sekali tidak pernah terekspose ke publik. Pantas saja bila selama ini, kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah hanya selesai di lobi dan kertas perjanjian, tanpa monitoring seutuhnya. Walhasil, rakyatlah yang merugi. Sementara segelintir elite menikmati keuntungan yang luar biasa besar.

Erik Satrya Wardhana Menolak Kenaikan BBM

Pesan yang ingin disampaikan Erik Satrya Wardhana sangatlah jelas. Untuk kemaslahatan rakyat banyak, Erik meminta Pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Banyak opsi untuk menggantikannya, yang tentu jauh lebih efektif dan efisien, daripada mengorbankan kepentingan publik, lantaran harga-harga yang terus merangkak naik, tak terkendali.

Sebagai apa pun Erik, ia berusaha merangsek sampai ke dalam; hingga Pemerintah mengurungkan niatnya untuk menaikkan harga BBM. Tak hanya di Parlemen dan statement media, Erik intens memobilisasi wacana tersebut di jaringan muda dan mahasiswa.

Naiknya harga BBM mewakili lemahnya Pemerintah di depan tekanan asing. Sekian lama kekayaan alam Indonesia dikeruk asing, tanpa monitoring yang berarti. Kepentingan asing untuk terus menguasai energi di Indonesia menggerakkan Erik pada positioning semestinya; berhadap-hadapan. Kekuatan asing tersebut terus melemahkan negeri ini untuk menjadi mandiri dan bermartabat di atas eksistensi bangsa sendiri.

Ketahuilah, sekecil apa pun kontribusi anak bangsa untuk mempertahankan martabat kebangsaan akan sangat penting bagi kelangsungan republik. Erik seperti hendak menyeru pada semua elemen bangsa untuk bersatu padu melawan tekanan asing.

Partai Hanura dan Anti-Neoliberalisme

Erik Satrya Wardhana hadir dalam politik formal Indonesia dari rumah besar Partai Hanura. Sejak awal, partai ini ingin berbuat banyak untuk rakyat; meloloskan hati nurani rakyat. Erik juga Ketua Umum Gerakan Muda Hati Nurani Rakyat atau Gema Hanura. Totalitas Erik menjadi penting saat rakyat memang membutuhkan sentuhan elite untuk hidup adil, aman, tenteram, dan sejahtera.

Bersama Partai Hanura, Erik mengejawantahkan idealitas pikirnya yang menolak neoliberalisme. Bahwa bangsa ini tidak perlu tunduk pada kekuatan asing. Bahwa bangsa ini dapat menentukan arah hidupnya, sendiri. Bahwa bangsa ini memiliki jutaan potensi yang dapat dikembangkan terus-menerus, tanpa harus mengemis pada kekuatan modal asing.

Gerakan tersebut akan terus menguat, seiring semakin keluarnya Pemerintah dari hati nurani rakyat. Pemerintah yang tidak membela rakyatnya adalah Pemerintah yang pantas dilawan, sampai kapan pun. Dan Erik Satrya Wardhana menjadi bagian penting, mengingatkan Pemerintah.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.