Penolakan Kenaikan Harga BBM dan Gema Hanura

Aksi Gema Hanura Menolak Kenaikan Harga BBM
Aksi Gema Hanura Menolak Kenaikan Harga BBM

Menjelang detik-detik akan dinaikkannya harga BBM bersubsidi, Indonesia pun bergerak, serentak. Tak hanya mahasiswa, kini, Ormas dan Parpol pun turun ke jalan, meneriakkan ‘Tolak Kenaikan BBM’.

Untuk ke sekian kali, Pemerintah SBY-Boediono melempar isu kebijakan yang menstimulasi kemarahan publik. Isu kenaikan harga BBM jelas bukan perkara sepele, meski lusinan alasan dapat dikemukakan untuk membenarkan kebijakan. Setiap rezim memiliki alasannya sendiri untuk menaikkan harga BBM, dan setiap rezim, menuai sendiri apa yang telah mereka perbuat pada rakyat banyak.

Awalnya, kenaikan harga BBM bersubsidi digelontorkan Pemerintah dengan alasan-alasan yang menurut mereka, realistis. Menurut Pemerintah, kenaikan harga BBM bersubsidi dipandang sebagai suatu hal yang tak terhindarkan, menyusul meroketnya harga minyak mentah dunia.

Kebijakan ini lantas didukung dengan statistik menggiurkan, yang katanya berpihak pada rakyat kecil. Menurut mereka, sebanyak 10 persen orang kaya menggunakan Rp 5,8 triliun subsidi BBM. Sementara sebanyak 10 persen orang miskin hanya menggunakan Rp 500 miliar subsidi BBM.

Belum lagi tentang alasan upaya penghematan dan penciptaan energi terbarukan, subsidi BBM yang dapat dialihkan untuk pembangunan infrastruktur, dan pengurangan subsidi yang turut menekan kasus penyelundupan BBM ke negeri tetangga.

Harga-harga Naik

Masalahnya, belum lagi harga BBM benar-benar naik, harga-harga sembako meninggi tak terkendali. Rakyat merasa tertekan, jauh sebelum Pemerintah benar-benar melakukan penekanan yang sesungguhnya, beratas nama rakyat.

Sewaktu harga-harga naik, negeri ini seperti tak lagi memiliki Pemerintah. Sebagai administrator publik, Pemerintah malahan disibukkan dengan sosialisasi besar-besaran membela kebijakan, ketimbang mengamankan situasi perekonomian yang mulai mengkhawatirkan.

Kritik terhadap Pemerintah, juga dinilai sebagai kontraproduktif. Mereka yang tidak setuju dituding melakukan gerakan yang membahayakan Negara. Pemerintahan SBY-Boediono tiba-tiba menjadi paranoid dan mati-matian membela reputasinya.

Jangankan merespons tepat atau tidaknya kebijakan menaikkan harga BBM, mengamankan dapur sendiri lantaran harga-harga naik saja masyarakat sudah sangat kesulitan. Penjelasan Pemerintah yang berbusa-busa pun tak dapat menenteramkan rakyat. Sebab, rakyat tak butuh penjelasan. Rakyat membutuhkan harga barang yang terjangkau.

Aksi Massa Parpol

Kini, tak hanya mahasiswa yang turun ke jalan. Massa Parpol juga turut menyerukan suara rakyat. Biasanya, mereka bersuara melalui wakil rakyat yang mereka pilih di Parlemen. Tapi karena dirasa sangat mengkhawatirkan, jangan-jangan Pemerintahan SBY-Boediono tetap nekat menaikkan harga BBM, mereka lantas memenuhi ruas-ruas jalan, dengan teriakan yang lebih mewakili penderitaan rakyat, dibanding wakil rakyat mereka.

Fenomena ini menjadi kenyataan di Indonesia. Secara formal, tentu ada semacam keraguan pada sistem politik. Parlemen berusaha bernegoisasi dengan Pemerintah, sementara rakyat yang memilih Parlemen tetap merasa perlu untuk menyerukan aspirasi. Masing-masing dapat saja dianggap komplemen, tapi masing-masing dapat pula dianggap saling menegasikan.

Bila sistem perpolitikan dapat merepresentasi kehendak rakyat, tentu tidak akan perlu ada mobilisasi massa Parpol. Bila Parlemen dapat melakukan fungsinya secara maksimal, tentu hanya mahasiswa yang berdemonstrasi, lantaran mereka tidak memiliki afiliasi politik. Kenyataannya tidak demikian. Massa Parpol aksi ke jalan karena Parlemen dianggap tidak dapat mewujudkan aspirasi rakyat. Pun dari konstituen sendiri.

Gema Hanura dan Hati Nurani

Katakanlah, aspirasi rakyat adalah hati nurani rakyat, maka sudah selayaknyalah didukung maksimal. Gerakan Muda Hati Nurani rakyat atau biasa disingkat Gema Hanura lantas memutuskan bergabung bersama peserta aksi untuk berteriak penolakan kenaikan harga BBM.

Kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi dianggap Gema Hanura mewakili kepentingan Neolib di Indonesia. Menolak adalah sebentuk perlawanan terhadap dominasi Neolib yang telah lama bercokol di Pemerintahan. Selain itu, aksi juga merepresentasi hati nurani rakyat yang semakin terpuruk lantaran harga-harga terus naik.

Pilihannya jelas. Gema Hanura tentu melanjutkan janji Partai Hanura yang takkan pernah khianat. Partai Hanura akan hidup dan mati bersama rakyat.

 

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.