Kartini, Politik Perempuan, dan Partai Hanura

Lazim di Indonesia, mengenang jasa pahlawan emansipasi perempuan, setiap 21 April. Ya, Kartini. Sosok penting pelahir kepedulian sungguh-sungguh atas perempuan di zaman penjajahan Belanda. Ia wafat saat melahirkan di usia muda. Namun cita-citanya mampu menyulut spirit eksistensi perempuan-perempuan Indonesia untuk terus menjadi yang terbaik di negeri ini.

Perempuan sebagai basis politik memang menggiurkan. Ada yang yakin, SBY menang karena dukungan para ibu. Mereka tak tampak di publik, tapi berperan signifikan memengaruhi preferensi pemilih pada saat Pemilu digelar. Bila pesan baik yang ditangkap para ibu dan perempuan, beruntunglah. Sebaliknya, bila pesan menyakiti, terlebih seperti tak memihak perempuan secara moral, mereka tiba-tiba menjadi mesin propaganda anti yang sangat mengerikan.

Sejarah mencatat, ketidaksukaan perempuan dapat berimbas pada eksis atau tidaknya seorang pemimpin. Tengoklah kasus Bill Clinton yang dianggap mengkhianati Hillary Clinton. Atau Ibu Tien Soeharto yang turut menentukan sikap kepemimpinan Presiden Soeharto. Atau Presiden Soekarno yang bergelimang perempuan.

Para pemimpin dunia yang berhasil memiliki kisah mereka sendiri tentang perempuan di balik mereka. Pun dengan Mao Tse Tung atau bahkan, Adolf Hitler. Perempuan memberikan andil pada dinamika dan warna-warni perjuangan para pemimpin dunia. Kelebihan mereka tak tampak, tapi tak dapat ditelan mesin debu sejarah. Lantaran pada kenyataannya, perempuanlah yang merawat setiap generasi untuk melahirkan pemimpin baru.

Maka tak aneh bila perempuan dijadikan segmentasi politik dan bisnis. Mereka adalah pemilih loyal. Asalkan telah menyentuh kenyamanan mereka, bahkan cerita-cerita buruk tentang sesuatu terkadang, berubah menjadi kabar gembira. Seperti dua mata pedang yang sama-sama menakutkan.

Kartini dan Politik Perempuan

Kartini di zaman ini termanifestasi dalam aktivitas perempuan yang tak mau kalah dengan laki-laki. Salah satunya, sebagai politisi. Di Indonesia, bahkan salah satu presiden adalah perempuan. Kepala daerah di beberapa tempat juga perempuan. Anggota parlemen pun tak jarang yang perempuan. Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar merepresentasi situasi perempuan saat ini?

Jawabnya dapat saja bervariasi. Sebab masing-masing kekuatan sosial-politik juga diduduki sebagian perempuan. Sebagian perempuan juga malahan berkompetisi habis-habisan dengan perempuan lain. Ada yang bilang, konflik kepentingan berdasarkan jenis kelamin hampir tidak signifikan pada hari ini. Kepentingan perempuan telah melebur bersama dinamika politik dan ekonomi dunia.

Batasan politik perempuan lantas menjadi tidak segampang di atas kertas Habis Gelap Terbitlah Terang tulisan Kartini. Sebab, perempuan bukan lagi obyek orientasi kepentingan. Sebagian mereka justru yang mengendalikan kepentingan. Politik perempuan lebih masuk akal dianggap sebagai upaya seruan atau penumbuhan simpati atas perjuangan kelompok politik tertentu. Bahkan banyak laki-laki pula yang turut menyerukan pemihakan pada kepentingan perempuan.

Partai Hanura dan Kepentingan Perempuan

Partai Hanura membangun gerakan kepedulian pada perempuan secara politik melalui Perempuan Hanura dan Srikandi Hanura. Kedua lembaga ini bergerak selaras dengan program-program nasional yang digelontorkan partai, seperti kemiskinan, penolakan BBM, dan lusinan kritisme pada kebijakan pemerintah.

Namun benarkah Hanura telah dapat mengerti perempuan, lantas mereka akan berkecenderungan untuk memilih partai ini?

Ada baiknya pertanyaan ini dijawab dengan pembuktian saja. Berapa banyak program perempuan yang dapat digarap oleh partai berikut lembaga-lembaga perempuan partai? Program-program inilah yang akan menentukan, apakah Kartini dapat termanifestasi dalam diri kader-kader perempuan Partai Hanura.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.