Membangun Karakter Kader Partai Hanura

Setiap organisasi membutuhkan nilai. Terlebih sebuah organisasi partai politik seperti Partai Hanura. Ketika sebuah partai berdiri dan berkembang, sistem pendukung secara strukturalis maupun secara fungsionalis akan berkembang seiring perjalanan waktu, lapisan demi lapisan, birokrasi demi birokrasi, struktur demi struktur. Bertambah mengikuti nama besar sebuah partai politik.

Kebanyakan partai politik mulai tumbuh menjadi besar, lantas mulai menunjukkan pola manajemen yang berlebihan. Secara psikologis, manajemen organisasi partai semakin berat setelah partai politik mencapai posisi puncak kekuasaan.

Hal ini diindikasikan dari lambannya pengambilan keputusan mengenai masalah-masalah internal organisasi partai, kaburnya tanggung jawab dalam struktur organisasi partai, dan mengakibatkan tidak berjalannya program-program partai. Hal tersebut memiliki efek signifikan pada mandeknya kaderisasi.

Angka Parliamentary Threshold yang ditetapkan, dari awal 2,5% lantas naik menjadi 3,5%, dinilai cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi partai baru maupun partai lama; sejauh mana keyakinan dan kesiapan masing-masing partai agar dapat melewati nilai ambang batas.

Manajemen Partai Hanura

Manajemen partai perlu ditata ulang melihat elektabilitas parpol yang semakin tidak memiliki korelasi dengan program-program internal parpol. Persoalan ideologi juga semakin memudar dan tidak terlalu berpengaruh lagi, sepanjang tiga kali Pemilihan Umum terakhir.

Beberapa aspek manajemen partai terkait ideologi dan program parpol (manajemen strategis), pola rekrutmen dan perkaderan (manajemen sumberdaya manusia), sumber pendanaan parpol (manajemen keuangan), dan produk politik parpol (manajemen pemasaran) adalah aspek-aspek yang saling berkait dalam membangun partai politik secara profesional sebagai sarana mencapai solusi atas permasalahan kondisi kebangsaan hari ini.

Manajemen Strategis adalah aspek mendasar bagi sebuah partai baru yang sedang berkembang. Penting bagi sebuah partai politik untuk memiliki ideologi dan platform gerakan sebagai pembeda dengan parpol lain. Sayang, banyak partai politik masih belum mampu merumuskan ideologi mereka ke dalam platform yang kemudian diterjemahkan dalam program dan kebijakan.

Partai politik tidak mampu berperan mendidik rakyat menjadi melek berpolitik. Hal ini akan sangat penting bagi rakyat, di mana ke depan, memiliki pola manajemen rekrutmen dan kaderisasi. Sejauh ini, pasca-Orde Baru, belum tampak konsistensi para kader partai untuk melakukan ini. Akhirnya, banyak partai politik yang tidak memiliki kader sejati.

Kader Berkarakter

Bila manajemen Partai Hanura bermasalah, berarti manajemen sumber daya kader bermasalah. Ia impak dari pola rekrutmen yang berdiri di atas tidak konsistennya elite Partai terhadap platform gerakan. Sebagian memberikan budaya pragmatis, yang justru menggerogoti nilai-nilai ideologis Partai Hanura.

Sistem elektoral tidak selesai pada target perolehan suara yang hanya menjadikan Partai Hanura semakin terikat pada kebutuhan dana dan logistik pendukung yang besar. Produk dari platfom gerakan sangatlah penting; menjadikan para kadernya berkarakter, militan, ideologis, dan memiliki integritas. Semua itu merupakan harga termahal sekaligus indikator kesuksesan eksistensi sebuah partai politik.

Manajeman keuangan dan sumber pendanaan partai yang tidak efektif telah melahirkan budaya money politic di negeri ini. Kondisi keuangan partai hari ini semakin tidak efektif karena citra partai di mata konstituen sudah tidak lagi mendapat kepercayaan sebagai dampak atas inkonsistensi pemahaman ideologisasi dan platfom gerakan awal berdirinya sebuah partai.

Kegagalan tersebut disebabkan lemahnya manajemen sumber daya manusia para kader dalam memahami sebuah platform gerakan untuk dimanifestasikan dalam tataran praksis, sebagai bentuk standar perilaku berorganisasi dalam partai, sekaligus menjalankan kewajibannya sebagai warga negara yang sadar akan peran dan tanggung jawabnya sebagai rakyat secara umum sekaligus sebagai kader partai secara pribadi.

Manajemen partai yang baik akan menghasilkan produk-produk kader berkarakter. Mereka mempunyai platform ideologi gerakan idealis, selalu bersemangat, dan memiliki kecintaan terhadap organisasi partai. Selain itu, memiliki kemampuan membangkitkan dan memberi inspirasi di tengah lapisan masyarakat, dalam rangka menanamkan nilai-nilai gerakan kepada masyarakat, serta menjalankan peran eksistensi partai politik.

Penilaian konstituen terhadap citra diri seorang kader sebagai standar sikap merupakan bentuk kecil terwujudnya program infiltrasi platfom gerakan melalui para kader. Ia merupakan tumpuan awal dalam mewujudkan tujuan partai. Pengetahuan teknis yang didukung pemahaman finansial baik merupakan keharusan bagi pemimpin di struktur unit terkecil partai. Karena, peran unit terkecil di tingkat ranting adalah ujung tombak kaderisasi sebuah partai politik.

Recommended For You

About the Author: Roseno Hendratmojo

Praktisi psikologi yang juga pencinta alam. Lekat dengan program kaderisasi dan pemberdayaan rakyat membawanya larut ke masalah-masalah kebanyakan. Mentor kaum muda yang tekun dan bersemangat.