Partai Politik sebagai Artikulator Kepentingan Petani

Selama ini, petani kurang mendapat tempat pada pengambilan kebijakan publik. Padahal, mereka terhitung luar biasa banyak. Petani juga kurang dapat beraspirasi, lantaran partai politik yang ada, sebagai artikulator kepentingan mereka, hanya akrab jelang event politik.

Kaum tani adalah kaum rasional. Mereka bersandar pada kepastian, lebih serius ketimbang profesi populer sejenis seperti buruh, wirausaha, atau pegawai pemerintahan. Sebab, hubungan mereka dengan alam lekat. Bila tak saling bergantung, kedua belah pihak akan sama-sama rugi. Mereka akan memutuskan sesuatu berdasarkan tingkat kepastian tertinggi, yang mereka pahami.

Petani juga merupakan kelompok masyarakat yang memiliki kultur sosial lebih tidak individualis dibanding kelompok lain. Sebab, mereka berbagi alam dengan teratur. Kalau tak teratur, jelas mereka akan berebut. Pertanian tidak akan bisa berjalan tanpa manajemen irigasi yang memadai, perolehan bibit yang berkualitas, musim tanam, diferensiasi komoditas tanam, hingga ke bagaimana memperjual-belikannya.

Kepentingan Politik Petani

Rasionalitas petani tentu bermuara pada ekspresi politik mereka yang juga berbeda. Mereka hanya mau berurusan dengan program yang pasti-pasti saja. Dan jelas, program yang berkaitan dengan kepentingan mereka. Kalangan petani sangat sulit dipengaruhi secara politik, kecuali berhubungan langsung dengan hajat hidup mereka.

Psikologi massa petani yang demikian dapat menjadi penghambat, atau dapat juga menjadi peluang besar berhasilnya partai politik dalam Pemilu. Sebab, bila kalangan petani benar-benar dapat tersenggol hajat hidupnya, mereka akan serta-merta menjadi konstituten yang sangat loyal, lebih dalam dibanding kalangan pedagang, pemilik modal, akademisi, atau pegawai negara.

Batasannya sederhana. Pertanyaan yang harus dijawab bagi politisi adalah apa yang akan mereka berikan secara langsung maupun tidak langsung pada petani. Jawabannya bisa sangat panjang. Namun bagi politisi yang peka terhadap realitas, pasti akan sederhana menjawabnya. Penyesuaian kebutuhan dapat segera dilakukan.

Pada hari ini, sebagian petani telah dapat mandiri dan berkecukupan. Dari areal pertanian, mereka dapat membangun kerajaan bisnis kecil, atau menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang perguruan tinggi. Sebagian dari mereka juga dapat duduk sebagai wakil rakyat, meski mungkin masih di tataran lokal. Namun, banyak dari para petani yang sangat kesulitan keluar dari lingkaran setan yang membelenggu mereka.

Pada satu sisi, untuk eksis dalam kompetisi industri saat ini, para petani membutuhkan inovasi produk. Biaya inovasi tidaklah murah. Sementara inovasi sangat penting untuk menaikkan pendapatan mereka. Lingkaran setan. Punya uang dulu lantas berinovasi. Atau berinovasi terlebih dahulu baru lantas memiliki uang. Dua variabel yang tidak kunjung selesai berbenturan ini lantas melahirkan kemiskinan merajalela di kalangan petani.

Partai politik tentu lekat dengan pengambilan kebijakan publik. Elite politik memiliki kans jauh lebih besar untuk memberikan pendampingan terbaik bagi para petani. Bukan hanya untuk kepentingan para petani. Tapi untuk menyejahterakan Indonesia. Bila para petani dapat tercukupi, adalah hal mudah untuk menulari pihak lain. Sebaliknya, selama petani masih belum eksis, lantaran pekerjaan mereka tidak pernah dihargai dengan pantas, negeri ini akan selalu semerawut. Sebab, makan adalah kebutuhan primer.

Kalau tidak demikian, wajar bila kemudian petani memiliki cara sendiri untuk bernegoisasi dengan kekuasaan. Mereka dapat melakukan boikot. Mereka dapat menyandera industri pupuk. Bahkan mereka tidak lagi percaya pada elite politik, setelah mereka tidak diberi ruang aspirasi dan aktualisasi yang cukup.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.