Hardiknas 2012 dan Pendidikan Hati Nurani

Hari ini, diperingati Hari Pendidikan Nasional atau biasa disingkat, Hardiknas. Momentum tahunan untuk merefleksikan pendidikan di Indonesia. Hingga kini, pendidikan justru lekat dengan kapital. Banyak bermunculan sekolah berkualitas tinggi dengan biaya yang juga tinggi, tapi kini, bangsa Indonesia dikenal tak lagi ramah pada sesama.

Ironis memang. Ketika Pemerintah SBY-Boediono membangga-banggakan pertumbuhan ekonomi yang selalu naik, inflasi yang dapat dikendalikan, kemiskinan yang dapat dikurangi, human development index yang lumayan lebih baik dibanding negara serumpun, pada waktu bersamaan, konflik horizontal tiba-tiba juga tak dapat dikendalikan.

Semua besaran statistik itu menguap di atas kertas, meja rapat, dan podium-podium seminar, tanpa menyentuh sisi terdalam kemanusiaan. Manusia Indonesia mendadak menjadi agresif, tak lagi toleran, dan tega pada sesama, lantaran sebagian dari mereka beranggapan, kalau tak begini, tak kebagian. Sungguh memprihatinkan.

Teladan Pemimpin

Pada momentum Hardiknas kali ini, Kemendikbud mengambil tema, Bangkitnya Generasi Emas Indonesia. Katanya, tema tersebut disesuaikan dengan rencana besar Kemendikbud untuk menyiapkan generasi emas sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan RI pada 2045. Grand design pun dibuat untuk mewujudkannya.

Namun, desain tersebut tetap saja masih di tataran formal. PAUD, penambahan kelas, dan keterjangkauan perguruan tinggi tidak menyentuh sungguh-sungguh perilaku anak didik. Pendidikan mengarah pada pemenuhan kesempatan kerja sebagai bukti bahwa pemerintah dapat menekan angka pengangguran. Sementara stimulan untuk melahirkan generasi yang memiliki kemandirian, kepribadian, dan visi besar belum dijelaskan lebih lanjut.

Lihatlah, pendidikan di Indonesia, kini melahirkan koruptor-koruptor canggih. Sayangnya, waktu yang ada kemudian dihabiskan untuk saling menginterogasi, terkait dugaan-dugaan kasus politik. Menjadi isu sentral, tapi tidak menyentuh akar persoalan korupsi. Sebab, tetap saja dijumpai pungli di mana-mana. Seakan korupsi hanya hasil ‘undian kekuasaan’. Siapa yang beruntung, ia tidak tersentuh. Sementara kalau tidak sedang bernasib baik ya siap-siap diberondong tudingan korupsi.

Baik yang dinyatakan sebagai koruptor maupun yang dianggap sebagai pahlawan pemberantas korupsi tidak dapat dijadikan ukuran maju-tidaknya cara berpikir dan bersikap anak bangsa hari ini. Semua masih saja pertarungan elite politik. Genius sebanyak ini tak dapat membuat sistem yang minimal, menghambat korupsi. Kalau semua orang dijebloskan ke penjara tanpa menyentuh perbaikan sistem, yang memungkinkan orang untuk tidak korupsi, lantas untuk apa gerakan anti-korupsi.

Motif korupsi adalah keserakahan. Sementara keserakahan hanya bisa diselesaikan dengan bentukan perilaku dasar yang menempatkan keserakahan pada tempat nista. Generasi seperti ini lahir pada masyarakat emas yang sangat menghormati sesama, dan diteladankan. Semua berawal dari contoh. Contoh berpikir, berbicara, dan bersikap.  Kalau tak ada teladan perilaku anti-keserakahan, praktik korupsi tetap saja akan menggurita.

Pendidikan Hati Nurani

Belum lama ini, Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Airlangga melakukan penelitian berjudul ‘Pendidikan Hati Nurani: Studi Pengembangan Model Pendidikan Hati Nurani yang Sesuai bagi Anak-anak Indonesia’.

Bahwa pendidikan yang berhasil memaksimalkan hati nurani akan dapat melahirkan manusia berkualitas. Pendidikan yang menempatkan Tuhan di atas segala-galanya. Pendidikan yang dapat membangun perilaku ketuhanan dengan sebenar-benarnya. Pendidikan yang dapat melahirkan kepribadian bertuhan, tanpa terkecuali.

Sepantasnya, Hardiknas kali ini beriring dengan niatan setiap anak bangsa untuk berbuat lebih baik, mengedepankan spirit ketuhanan. Sebagai manusia, memaksimalkan hati nurani dan akal tidak dapat dipisahkan. Keduanya terintegrasi dalam perikehidupan manusia.

Sebab, pendidikan megah tak menjamin seseorang akan menjadi lebih manusiawi.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.