Kualitas Sistem Pendidikan Nasional dalam Ujian Nasional 2012

Hasil Ujian Nasional 2012 diumumkan. Sebagian siswa bergembira, karena dinyatakan lulus sekolah. Mereka bahkan mengekspresikannya dengan mencorat-coret seragam sekolah atau membotakkan kepala. Sebagian yang lain bersedih, lantaran tak lulus ujian.

Setiap tahun, kengerian itu datang menghantui setiap siswa Indonesia. Setiap tahun, upaya untuk keluar dari ketakutan itu dilakukan habis-habisan. Bimbingan belajar laris manis. Les privat menjadi hal yang wajib. Pengayaan materi di sekolah-sekolah ditempuh untuk memberikan bekal yang cukup pada calon peserta ujian. Bahkan ada yang berbuat tak baik, dengan menyiasati soal ujian agar turut lolos dalam Ujian Nasional.

Orangtua mana yang tidak khawatir, melihat anaknya belajar keras, tapi tidak ada jaminan mereka lulus. Bukan hanya waktu dan energi mereka terkuras, uang yang mereka keluarkan pun tak sedikit. Banyak orangtua lantas tak berkeberatan bila kemudian anaknya berbuat curang, dengan mencontek, misalnya.

Sebuah paradoksi kompleks tentang bangsa yang tengah belajar menjadi bangsa pembelajar. Maksud pemerintah untuk menerapkan ‘sakralisasi’ Ujian Nasional memang masuk akal. Salah satu alasannya, agar generasi penerus negeri ini dapat berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain. Namun pada kenyataannya, Ujian Nasional akhirnya menjadi momok tak berkesudahan setiap siswa kelas akhir.

Pendidikan Berkarakter

Dennis Coon, dalam karyanya, Introduction to Psychology: Exploration and Application, mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karakter adalah jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di dalam masyarakat.

Pendidikan berkarakter itu tentang output didik yang dapat berguna bagi sesama. Sepandai apa pun peserta didik, bila tak melahirkan empati dan dedikasi pada kemaslahatan, mencerminkan pendidikan nasional yang keropos. Formalitas tak lagi dapat menembus ruang-ruang terdalam generasi penerus bangsa. Bahwa peserta didik memiliki ruh perubahan dalam diri mereka, bila memang diproses dengan cara yang benar.

Ketaatan pendidik pada norma, kemudian tecermin dalam ucapan dan tindakan, ternyata bukan pekerjaan mudah di zaman materialis yang mengedepankan kekasatmataan. Dalam beberapa kasus, para guru justru memberi bocoran jawaban saat Ujian Nasional, lantaran mereka takut dianggap gagal, bila anak didik mereka ada yang tidak lulus.

Pertimbangan reputasi yang akan anjlok bila peserta didik tidak lulus ternyata lebih menjadi pilihan, ketimbang melatih peserta didik untuk tetap jujur, meski nilainya tidak memuaskan. Sungguh pilihan yang mengkhawatirkan, lantaran ini akan berdampak signifikan pada karakter anak untuk tidak lagi mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Parahnya, kesan tampil baik lebih lekat ketimbang menampakkan karakter baik bernama kejujuran.

Pendidikan Curang Lahirkan Bangsa Curang

Wajar saja bila kemudian negeri ini dipenuhi silang-sengkarut persoalan tak berujung. Sederhana saja. Karena tak banyak pendidik yang menekankan pentingnya nilai-nilai kejujuran sebagai sebuah spirit penting menuju bangsa yang beradab.

Dengan kejujuran, sistem akan tumbuh kuat, lantaran kelindan kualitas dan kuantitas proses pendidikan sama sekali tak meninggalkan norma dasar. Pembedaan baik dan buruk lebih utama daripada formalitas kasat mata tentang prestasi yang terkadang, bisa juga dimanipulasi.

Bangsa ini akan berubah menjadi bangsa yang curang. Bangsa yang tak peduli pada sesama anak bangsa, untuk kepentingan sesaat. Mereka berlomba-lomba saling menguasai untuk sesuatu yang sama sekali tidak perlu diperebutkan. Sebagiannya bahkan menjijikkan.

Generasi penerus yang jujur adalah masa depan. Upaya melahirkan generasi yang jujur, bahkan dengan habis-habisan, akan melahirkan bangsa bermartabat. Bangsa yang tidak melulu menghamba pada asing. Bangsa yang sadar, bahwa kakinya harus tegak berdiri kuat, agar berguna bagi sesama.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.