Peringatan Reformasi 2012: Mengais Jejak Tumbangnya Orde Baru

Pahlawan Reformasi
Pahlawan Reformasi

Empat belas tahun lalu, 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mundur dari kursi kepresidenan. Momentum ini menandai berakhirnya 32 tahun kekuasaan Orde Baru. Isu mainstream tentang diharamkannya korupsi, kolusi, nepotisme merebak bagai fatwa mati perubahan. Kini, 21 Mei 2012, bahkan korupsi tak beranjak dari keniscayaan birokrasi Indonesia.

Adalah Era Reformasi. Era di mana negara bukan lagi satu-satunya penentu hajat hidup orang banyak. Zaman di mana institusionalisasi politik dianggap mewakili kepentingan rakyat. Era di mana keterbukaan informasi seperti air bah tak terbendung. Dan zaman di mana demokrasi menemukan ujung-pangkalnya, termasuk kebobrokan-kebobrokannya.

Cita-cita membawa negeri ini menuju kehidupan yang lebih baik tecermin pada aksi demonstrasi jalanan yang berlangsung terus-menerus untuk menuntut turunnya Presiden Soeharto dari jabatannya. Ketika itu, sebagian besar publik beranggapan, republik akan menemui nasib baiknya, bila Soeharto dapat dienyahkan.

Dan Soeharto pun mundur. Lantas apa yang terjadi? Pentas politik nasional justru memanas. Semua kelompok kepentingan berebut mengepung istana. Semua ingin menjadi pemimpin baru. Semua ingin merasakan kenikmatan Soeharto di zamannya. Semua ingin menjadi terkenal dan dicintai. Semua bahkan melakukan bermacam cara untuk mewujudkannya.

Polarisasi terjadi. Dan lihatlah, kepemimpinan nasional pada kenyataannya justru jatuh pada kelompok yang tidak pro-rakyat. Ketika mereka memimpin, pasca-lengsernya Soeharto, justru Indonesia menjadi sangat mengerikan. Huru-hara di sana-sini. Harga-harga terus merangkak naik. Parahnya, banyak dari pemimpin baru ini yang terus berkelit, dengan berujar bahwa ini kewajaran dinamika masa transisi. Sungguh memprihatinkan.

Peringatan Reformasi

Pada 21 Mei 2012, apa yang dapat diketengahkan? Mungkin sebagai pengingat linier keberhasilan Reformasi. We’ve got nothing. Banyak memang yang berubah. Tapi praktis, rakyat menentukan sendiri ke mana mereka harus melangkah. Efek signifikan dari peran negara justru semakin membuat keadaan karut-marut.

Semangat Reformasi untuk mengganti tatanan tiran menuju tatanan demokratis menguap di tengah janji-janji ompong elite politik, tak hanya di pentas nasional, tapi juga daerah. Korupsi semakin merajalela, tak terbendung. Kolusi terdistribusi hingga ke level birokrasi terkecil. Nepotisme tak lagi jadi diskursus penting, setelah kekuasaan baru memenuhi ruang-ruang aspirasi publik.

Bukan tanpa sebab, jelas, bila sekarang Reformasi hanya cukup diperingati. Diingat sebagai momentum pergantian kepemimpinan nasional. Dikenang sebagai saat di mana rakyat dapat sewaktu-waktu marah bila terus-terusan diinjak. Dikutip sejarah sebagai tulisan heroik penuh makna. Dan saat di mana sesama anak bangsa harus saling bunuh untuk keyakinan sakral bernama, perubahan.

Mimpi Kesejahteraan

Era apa pun menjanjikan kesejahteraan bagi manusia. Kehidupan yang lebih baik dimaksud sebagai alasan untuk menumbangkan dominasi. Begitu mengena hingga tak sedikit yang kepincut berangan-angan, akan datang zaman baru di mana rakyat akan diperlakukan baik dan sejahtera. Kemiskinan dihapuskan. Pendidikan dan kesehatan gratis. Pengangguran bisa entas. Dan bangsa menjadi jauh lebih bermartabat.

Pada hari ini, semua bayangan hidup yang lebih baik tak juga kesampaian. Di sana-sini, korban penindasan negara terus bertambah. Generasi muda tak cukup diberi tempat untuk memerankan diri lantaran dianggap sebagai pesaing. Distribusi modal belum terjadi, lantaran konglomerasi sisa-sisa Orde Baru tak juga melego jangkar mereka. Nah!

Momentum tumbangnya Orde Baru sebaiknya berguna bagi bangsa yang terus ingin menjaga kewarasannya dalam bernegara. Sebab, Indonesia lahir sebagai kesepakatan bersama tentang sebuah cita-cita. Indonesia bukan hanya milik segelintir orang yang dapat memaksakan kehendaknya sedemikian rupa.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.