Temu Tani Cianjur Bersama Erik Satrya Wardhana

Dalam sebuah Kunjungan Kerjanya,  Erik Satrya Wardhana, Wakil Ketua Komisi VI DPR-RI, dari Fraksi Hanura, menggelar TemuTani dengan sejumlah Gapoktan. Bertempat di Warung Kondang , Cianjur, pada akhir April 2012, Kang Erik menaut aspirasi para petani.

Selain silaturahmi, mempererat sambung rasa antara masyarakat dan wakilnya, Temu Tani ini akan menggelar sarasehan untuk mendiskusikan berbagai tema, seputar masalah pertanian. Acara ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Bumi Sawargi, di mana Kang Erik selaku Pembina, dengan Asosiasi Produsen Pupuk Organik Hayati Indonesia (APOHI).

Dalam kesempatan ini, Kang Erik member bantuan bio dekomposer dan benih padi jenis IR 64 kepada petani. Langkah ini dimaksudkan agar menjadi stimulus (pancingan) bagi pemerintah bahwa pemulihan kesuburan lahan merupakan agenda mendesak dan perlu dilakukan secara efektif dengan melibatkan partisipasi semua pihak (pemerintah dan masyarakat). Sedangkan bantuan benih sebagai upaya untuk meringankan petani memasuki masa tanam.

Temu Tani ini dihadiri oleh kurang lebih 500 undangan,yang terdiri dari calon penerima bantuan dan penerima manfaat dari sejumlah program bantuan yang direkomendasikan oleh Kang Erik pada tahun 2010, saat masih bertugas di Komisi IV (Pertanian, Kehutanan, Kelautan dan Pangan).

Masing-masing penerima manfaat pada saat itu sebanyak 58 desa dalam program PUAP dan 70 Kelompok Tani dalam bentuk bantuan Alsintan, berupa traktor tangan dan pompa serta program LM3.

Dalam kesempatan Temu Tani kali ini, sebanyak 3000 liter bio dekomposer dan 8 ton benih padi jenis IR 64 dibagikan kepada 133 Kelompok Tani di 12 Kecamatan di Cianjur. Sesuai kapasitas, bio dekomposer sebanyak itu, setara dengan kebutuhan dekomposisi lahan seluas 1.500 hektar.

Pemulihan Kesuburan

Mengapa pemulihan kesuburan lahan menjadi agenda penting?

Indonesia menghadapi masalah ganda, yaitu di saat krisis pangan dunia mengancam, sekitar 5 juta hektar tanah sawah dari total tanah persawahan, yaitu 7,9 juta hektar, rusak atau sakit, akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.

Dengan demikian, sebanyak 60% dari total luas lahan sawah kita dalam kondisi sakit atau kelelahan, akibat penggunaan pupuk kimia. Indikasi kerusakan tersebut diperlihatkan dari menurunnya produktivitas tanah, sehingga mengancam nilai tambah dan pendapatan petani, serta ketahanan pangan nasional secara umum.

Lebih parah lagi, program ketahanan pangan nasional juga terancam oleh ekspansi liberalisasi perdagangan bebas di sektor pangan yang mengakibatkan hancurnya struktur produksi pertanian nasional.

Menghadapi realitas itu, pemerintah harus segera turun tangan dengan melibatkan semua pihak, guna memberikan pemahaman kepada petani mengenai dampak-dampak penggunaan pupuk kimia. Selain itu, perlu mengubah paradigma secara bertahap, pentingnya penggunaan pupuk organik, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada—salah satunya—memanfaatkan jerami dengan cara dikompos. Menurut ahli bioteknologitanah dan teknologi dari Universitas Padjajaran, kandungan zat pupuk dalam 5 ton jerami sama dengan kandungan 100 kg pupuk urea atau sama dengan 60 kg SP 36 atau sama dengan 200 kg pupuk KCL.

Menurut kajian Bumi Sawargi, luas lahan persawahan di Cianjur, 65.540 hektar (2011) telah beralih fungsi seluas 100 hektar, dari sebelumnya 65.736 hektar (2010), berubahmenjadi jalan, pabrik, dan perumahan.

Penggunaan pupuk kimia mencapai 48.500 ton, sedangkan pupuk organik hanya sekitar 2.400 ton. Kondisi ini, cepat atau lambat, akan berdampak serius pada penurunan produktivitas dan nilai tambah petani. Untuk itu, menjadi tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan untuk memperbaiki struktur lahan dengan menjaga tingkat kesuburannya.

Salah satu cara yang perlu dilakukan adalah dengan mengubah cara pandang dan paradigma petani mengenai pentingnya kelestarian lahan. Dengan pemakaian dekomposer, petani bisa menciptakan pupuk secara alami, yaitu dengan cara mendekomposisi jerami. Denganhancurnya jerami, kembali pada tanah persawahan dalam bentuk ion-ion maka tanaman mudah menyerap unsur-unsur hara yang dibutuhkan. Bisa dikatakan, jerami yang telah didekomposisi, sama halnya 50% dari pupuk telah terpenuhi.

Pengertian dekomposer, menurut Ketua APOHI, Ir. Wahyu, MM, merupakan mahkluk hidup/mikroorganisme yang dapat mengurai mahkluk hidup yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya. Dekomposer dilakukan oleh beberapa mikroba, baik dalam kondisi aerob maupun anaerob. Pada umumnya, dekomposer mempunyai standar ukuran tertentu, seperti contoh dalam pembuatan kompos,dosis untuk percepatan pengomposan dapat diberikan langsung maupun diencerkan dengan air.

Recommended For You

About the Author: Wulan Rahayu

Gadis mungil yang kesengsem dengan pemandangan alam ini adalah redaktur pelaksana Gema-nurani.com dan hobi menuangkan isi ide kepalanya dalam sebuah tulisan.