Tragedi Sukhoi dan Masa Depan Kedirgantaraan Indonesia

Tragedi Sukhoi mengirim pesan kuat kepada anak negeri untuk membangun kerajaan dirgantaranya sendiri, tanpa perlu tergantung pada negara-negara adikuasa. Ini bukan agitasi murahan tak berdasar. Indonesia memiliki semua perangkat membuat pesawat supercanggih sekalipun.

Republik berduka. Pesawat Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia jatuh saat melakukan demo flight pada Rabu (9/5). Sebelumnya, pesawat hilang kontak pada pukul 14.33 dan sempat meminta turun pada ketinggian 6.000 kaki kepada Aero Traffic Center Bandara Soetta, Jakarta. Pada Kamis (10/5), puing-puing pesawat ditemukan berceceran di sebuah tebing di Gunung Salak, Bogor.

Selain evakuasi korban dan evaluasi, spekulasi tentang pesawat yang jatuh atau dijatuhkan itu menjadi topik paling dominan pada media, baik nasional maupun lokal. Tak pelak, hingga ke sudut-sudut desa, pembicaraan seputar kepesawatan pun seperti menjadi biasa. Bahkan orang awam yang belum pernah merasakan naik pesawat tiba-tiba turut merasa ngeri.

Ya, apa pun sebab jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, negeri ini tengah dilanda kedukaan luar biasa. Bila benar disebabkan karena human error, betapa takdir tak dapat dielakkan. Bila kesalahan prosedur yang terjadi, betapa bangsa ini harus belajar lebih disiplin menghargai nyawa manusia. Dan bila benar, pesawat memang dijatuhkan, betapa rentannya sekuritas negara atas keselamatan rakyatnya.

Kompetisi Bisnis Pesawat Terbang

Beberapa kalangan menilai, conflict interest paling potensial pada konteks Sukhoi Superjet 100 adalah bisnis pesawat terbang di dunia. Semua tahu, transaksi barang sangat mahal tersebut didominasi oleh negara-negara kuat seperti AS, Inggris, China, dan Rusia. Mereka berlomba-lomba mendistribusikan dagangan, bukan hanya karena motif keuntungan, tapi juga pengaruh.

Pesawat terbang jelas mewakili keteknologian mutakhir yang paling dicari. Ia menandakan majunya sebuah bangsa perihal teknologi. Selain menggiurkan karena keuntungan yang luar biasa, ketergantungan sebuah negara akan kebutuhan pesawat terbang tentu merupakan keberhasilan luar biasa. Sebab, dari pesawat terbang, ketergantungan di bidang lain dapat pula dicapai.

Tak pelak, Indonesia pun turut ngiler dibuatnya. Bermacam jalur pembelian pesawat terbang dipenuhi makelar-makelar papan atas untuk mengegolkan dagangan mereka. Pemerintah takluk. Di tengah rakyat miskin yang terus merajalela, mereka menandatangani bermacam kontrak pembelian pesawat terbang. Sungguh memprihatinkan.

Kedirgantaraan Indonesia

Lantas bagaimana dengan kedirgantaraan Indonesia? Tentu bukan hanya tentang PT Dirgantara Indonesia. Ini tentang kemandirian bangsa memiliki pesawat terbang sendiri. Sebab, semua perangkat ada di sini mulai dari baja hingga orang pintar. Lantas mengapa tetap memilih untuk membeli pesawat terbang?

Kabar baik datang dari PT DI. Pada awal 2012, Dirgantara Indonesia berhasil mengirimkan 4 pesawat CN235 pesanan Korea Selatan. Selain itu, mereka juga tengah berusaha menyelesaikan 3 pesawat CN235 pesanan TNI AL dan 24 Heli Super Puma dari Eurocopter.

Selain beberapa pesawat tersebut, Dirgantara Indonesia juga sedang melakukan penjajakan untuk membangun pesawat C295 (CN235 versi jumbo) dan N219, serta bekerja sama dengan Korea Selatan membangun pesawat tempur siluman KFX.

Bukan hanya itu. SMKN 12 Bandung saja bisa membuat pesawat terbang yang dinamai Jabiru atau J-430 berkapasitas 4 orang penumpang. Pesawat itu mampu mengangkut beban hingga 700 kilogram di ketinggian 9.000 kaki dengan daya jelajah mencapai 400 km jika tangki bensin penuh atau bisa terbang selama 4 jam tanpa henti.

Kedirgantaraan Indonesia yang berdikari adalah sebuah keniscayaan, bila upaya anak negeri membuat pesawat terbang terus didukung pemerintah. Bukan malah dengan jor-joran menghabiskan uang rakyat, yang hasilnya juga belum dapat dipastikan.

Semoga Tragedi Sukhoi dapat membukakan mata elite politik Indonesia, untuk kemudian bersungguh-sungguh memperhatikan masa depan kedirgantaraan domestik.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.