Tragedi Trisakti: Spirit Moral Gerakan Mahasiswa

Penembakan empat mahasiswa Trisakti dalam demonstrasi penurunan Soeharto terngiang kembali setiap 12 Mei datang. Hingga kini, publik masih belum bisa melihat jernih, alasan peristiwa itu terjadi. Disebut tragedi lantaran benar-benar mencederai kemanusiaan. Bagaimana dengan generasi muda setelahnya?

Ada permakluman sejarah yang sulit terkontrol. Sebagaimana realitas tak terbantahkan, gurita kekuasaan seperti mengenyahkan prasangka-prasangka publik seputar motif di balik Tragedi Trisakti. Debat yang tak kunjung usai, lantaran seperti mengulik jarum dari tumpukan jerami.

Kesulitan yang tak berkesudahan. Apalagi, sejarah konspirasi selalu menyisakan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Tengok saja kasus penembakan John F. Kennedy yang entah kapan bisa terkuak. Atau tewasnya Indira Gandhi. Lusinan peristiwa yang sungguh menyesakkan dada bila pada kenyataannya, tak seperti yang diharapkan.

Aksi demonstrasi mahasiswa sebagai reaksi atas keadaan, berbalas kekejian yang tak bertanggung jawab. Anak-anak muda yang berteriak perubahan, berbalas peluru tajam siluman. Sesama anak bangsa lantas saling bernapsu untuk membunuh lantas mengklaim diri sebagai yang paling bermoral.

Situasi dilematis ketika itu. Pada satu sisi, kekuasaan tiran harus segera diakhiri, sementara pada sisi lain, berakhirnya kekuasaan berbuntut pada garapan konstitusional yang masih debatable. Parlemen jalanan jelas tidak akan menyelesaikan masalah. Dan negeri ini pun terancam oleng. Masing-masing lantas merasa perlu untuk berbuat tegas, demi penyelamatan republik.

Peringatan Tragedi Trisakti

Sebagai momentum yang perlu diingat setiap saat, Tragedi Trisakti secara seremonial tetap diperingati, minimal di Kampus Trisakti. Biasanya, kembali didengung-dengungkan peristiwa itu untuk memperkuat ingatan generasi penerus, dan berujung pada doa bersama.

Tafsiran peringatan jelas berbeda-beda. Sebagian kalangan beranggapan, Tragedi Trisakti cukup dikenang sebagai kenangan pahit. Kalangan yang lain ingin menuntut pertanggungjawaban aktor-aktor di balik penembakan. Kalangan yang lain lagi memoles citraan tragedi tersebut untuk kepentingan pribadi atau segelintir orang.

Hal paling penting dari peringatan tersebut sebenarnya adalah pesannya. Pesan tentang penembakan yang keji dan menjijikkan. Manusia yang kehilangan kemanusiaannyalah yang menganggap tragedi ini sebagai hal wajar dalam proses perubahan.

Apabila pesan tersebut tak sampai, percuma adanya peringatan dilakukan. Sebab, bila hanya dimaknai secara politis, tentang Tragedi Trisakti sebagai produk kekuasaan zalim, nuansa dendam kesumat akan menghantui generasi baru. Hasilnya, pada saat mereka memimpin, bukan tidak mungkin, akan melakukan perbuatan keji lainnya atau minimal, serupa.

Generasi Altruis-Empatik

Kepemimpinan berkualitas lahir dari regenerasi berkualitas. Selain keteladanan, kultur positif dan harmonis menjadi syarat wajib terbinanya generasi muda yang penuh dedikasi. Bila sebaliknya, output buruk tak akan bisa terelakkan.

Banyak yang bilang, runtuhnya Orde Baru ternyata tak sebanding dengan kedewasaan generasi baru dalam memproduksi pemimpin yang dicintai. Sebagian besar dari mereka justru disubordinasi kekuasaan. Tak sedikit pula yang merasa telah berjasa pada perubahan, tapi tak bernasib baik, dengan tetap hidup apa adanya.

Sebaiknya direnungkan kembali, mengapa generasi muda justru lahir tak lebih baik dari pendahulunya. Generasi muda yang peduli perubahan ternyata hanya bermuara pada kekuasaan. Mereka tak lagi peka terhadap persoalan rakyat yang butuh penanganan serius.

Generasi altruis-empatik adalah generasi muda yang progresif tapi penyayang. Generasi yang tak segampang itu mengorbankan banyak jiwa hanya untuk kekuasaan sementara. Cara berpikir sempit tentang perubahan selalu bermuara pada kekuasaan harus diganti dengan bekal kebergunaan bagi masyarakat banyak.

Generasi muda semoga menjadi generasi akademis, pencipta, pengabdi, yang religius. Mereka mampu bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhai Tuhan Yang Maha Esa.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.