Dicari: Pemimpin dengan Intelektualitas Autentik!

Bila tak karbitan, pemimpin di Indonesia sering kali pesanan. Ada lagi yang mendapatkan kepemimpinan itu lantaran nasab. Dengan tanpa melupakan aspek kualitas diri yang juga sangat berpengaruh, intelektualitas para pemimpin layak dipersoalkan. Agar negeri ini tak terus terengah-engah di tengah kompetisi global yang semakin rakus.

Plato, seorang pemikir kenamaan Yunani, pernah mengkriteriakan pemimpin dari kalangan filsuf. Bagi Plato, bila kebajikan telah didapat, memimpin orang menuju kemaslahatan, bukanlah hal yang perlu diragukan. Nah, merangkai kebajikan dalam kepemimpinan jelas mensyaratkan intelektualitas. Artinya, tanpa intelektualitas yang cukup, kebajikan tak akan teraih, dan pemimpin ideal ala Plato hanyalah utopia.

Aristoteles, murid setia Plato, merevisi cara pandang Plato dengan mengetengahkan gagasan detail tentang kepemimpinan yang harus menyinggung massa. Tidak hanya bajik, seorang pemimpin dituntut untuk peka terhadap kebutuhan nyata kelompok atau masyarakat yang dipimpinnya.

Pemikiran Plato dan Aristoteles ini kemudian menginspirasi banyak pemikir setelah mereka, dan membuahkan bermacam genre pikir, yang hingga detik ke sekian turut menginisiasi terjadinya perubahan dunia. Tidak ada bantahan yang berarti tentang eksistensi kedua pemikir besar itu sebagai peletak dasar filsafat Barat. Teori-teori kepemimpinan pun berseliweran di kampus-kampus besar, merujuk pada gagasan Plato dan Aristoteles.

Lebih jauh, sejarah peradaban Eropa Modern juga dianggap bertumpu pada peran kedua pemikir ini. Banyak kalangan meyakini kesahihan gagasan Plato tentang idea turut melandasi keberhasilan Barat dalam memimpin dunia. Tradisi rasionalitas Aristoteles, salah satu amunisi intelektualitas Barat, mendominasi pesatnya perkembangan teknologi, laksana air dalam kehidupan; mengalir memenuhi rongga-rongga aktivitas keseharian.

Sejarah filsafat ‘resmi’ kontemporer bahkan bertolak dari pandangan eurosentris. Rute filsafat telanjur diakui bertahap dari Yunani, Romawi, Eropa era Abad Pertengahan, kemudian Eropa Modern. Sementara itu, peradaban lain yang terbangun bersamaan waktunya, dinilai gelap, atau setidaknya, masih terbelakang.

Maka seperti tak terelakkan, eksistensi Barat di jagad itu pun turut memengaruhi situasi dan kondisi Indonesia, meski setiap tempat pasti memiliki autentisitas nilai yang membentuk karakter sosio-politik masyarakatnya. Beberapa fondasi republik, semisal konstitusi negara, sistem hukum, atau kebijakan ekonomi banyak dipengaruhi oleh Barat. Serupa hal itu, tipe kepemimpinan juga tak lepas dari permak-permak intelektualitas Barat. Beberapa pemimpin formal terkadang dengan bangga menceritakan kekaguman mereka pada kedigdayaan nilai-nilai Barat.

Apakah kemudian dapat disimpulkan, bahwa kemajuan peradaban Barat, salah satunya, lantaran kepemimpinan ala Plato dan Aristoteles yang bertumpu pada intelektualitas itu? Bila masa depan sebuah bangsa dipertaruhkan pada pendidikan calon-calon pemimpinnya, apakah memiliki intelektual mumpuni adalah sebuah keharusan kaum muda untuk memimpin?

Intelektualitas Autentik

Siapa sangka, kalau persepsi mainstream seputar peran dominan filsafat Barat itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Tidak semua klaim Barat atas manjurnya intelektualitas yang berdasar pada idea Plato dan rasionalitas Aristoteles tersebut, benar-benar hanya bersumber dari filsafat Yunani.

Muhammad Abed al-Jabiri dalam bukunya, Takwin al-‘Aql al-‘Arabi—kemudian terbit berbahasa Indonesia dengan judul Formasi Nalar Arab—memaparkan data non-Eurosentris. Ia menulis, jalan perkembangan filsafat dari Athena ke timur, melalui pembukaan Iskandariah sampai ke Bagdad, ibu kota bani Abbas, jarang dikemukakan ke khalayak. Sebelum ke Romawi, Plato bahkan pernah belajar di Madrasah Iskandariah pada abad 3M kepada seorang misterius bernama Amonios Sakes. Filsafat sebenarnya bukan hanya monopoli beberapa orang. Sebab, ketika itu, telah menjadi konsumsi publik yang tak terelakkan.

Akibatnya, Iskandariah terabaikan baik sebelum atau sesudah Plato, termasuk pusat ilmu di Palestina, atau Antochia, sebagai pusat budaya yang sangat subur, berikut cabang-cabangnya di Suriah, Irak, Persia, dan Khurasan. Padahal, merekalah yang mengembangkan ilmu dan filsafat Yunani lebih dari sepuluh abad, sejak meninggalnya Iskandar tahun 323 SM hingga era kodifikasi Islam pada abad 8 M.

Menurut al-Jabiri, filsafat mulai marak di madrasah-madrasah timur, saat mereka berusaha keras menetapkan hubungan antara Tuhan dan manusia pada diri Isa as. Ada kelompok yang meyakini unsur ketuhanan menyatu dalam diri Isa as., sehingga Isa as. dianggap sebagai Tuhan. Ada pula kelompok yang menetapkan sifat-sifat kemanusiaan, baik dari segi eksistensi, kehendak, dan perbuatan yang membedakan Isa as. Ketika itu, hermeneutika sangat menentukan penetapan-penetapan tersebut.

Pada perkembangan selanjutnya, dalam filsafat Islam, Plato sama sekali tidak disebutkan. Ibnu Nadim menyebut Plotinus, komentator Aristoteles. Sementara itu, Syahrastani menyebut Plato dengan Syaikh al-Yunan. Terpampang jelas, bahwa peran Plato dan Aristoteles dalam mendominasi filsafat sangatlah minim, tidak seperti yang sering diceritakan literatur Barat.

Repotnya, al-Jabiri juga mengutip tulisan pemikir Prancis, Festugiere, tentang aspek-aspek sosial historis yang menyebabkan atau membantu hancurnya rasionalitas Yunani dan kemerosotannya pada awal abad Masehi. Khususnya, aspek keretakan sosial dan kejiwaan yang disebabkan oleh peperangan terus-menerus, sejak pembukaan Iskandariah pada abad ke-4 SM, hingga berdirinya Imperium Romawi pada abad ke-1 SM. Festugiere menulis, “Kepercayaan terhadap Phytagoras semakin kuat seiring dengan semakin lemahnya kekuatan akal.” Semua tahu, Phytagoras telanjur diyakini sebagai penemu rumusan segitiga yang fenomenal itu.

Sampai di titik ini, tampak bahwa Plato dan Aristoteles bukanlah satu-satunya peletak intelektualitas dalam bingkai sosial politik, termasuk kepemimpinan. Anjurannya untuk melahirkan pemimpin dari kalangan filsuf, yang kemudian diterjemahkan Aristoteles menjadi lebih aplikatif tidak beririsan dengan semangat keagamaan yang menjadi dasar maraknya filsafat, sesaat setelah Isa as. diangkat ke langit.

Sekali lagi, ada yang kurang dari sejarah filsafat modern, yang berarti ada yang perlu diperbaiki dari rujukan kepemimpinan yang sering dipergunakan intelektual atau para pemimpin di negeri ini. Tesis-tesis Max Weber, Macchiavelli, Francis Fukuyama, atau Talcott Parsons yang selama ini sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan global perlu direnungkan kembali, agar kontekstual dan tidak mencerabut akar kemanusiaan yang fitri.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.