Elektabilitas Wiranto untuk Elektabilitas Hanura

LSI (Lingkar Survei Indonesia) telah merilis hasil survei untuk memastikan, siapa kandidat terkuat Capres dan Parpol untuk Pemilu 2014 nanti. Tidak ada nama baru yang muncul.

Megawati dengan tingkat dukungan 18,3% dan Prabowo dengan dukungan 18% menduduki ranking tertinggi sebagai kandidat Capres terkuat. Sementara untuk Partai Golkar didapuk sebagai kandidat partai pemenang Pemilu dengan dukungan sebanyak 20,9% diikuti dengan PDIP dengan dukungan sebanyak 14%.

Yang lebih mengejutkan, Demokrat sebagai pemenang Pemilu 2009 lalu justru merosot ke peringkat ketiga dengan mendapatkan dukungan sebanyak 11,3%.

Lantas di mana letak Wiranto dan Hanura dalam survei LSI? Wiranto tidak muncul sebagai kandidat dengan peringkat 5 besar dalam survei. Sementara Hanura, harus terima dengan hanya memperoleh dukungan kurang dari 5%.

Terlepas dari kontroversi yang selalu dialamatkan kepada lembaga survei, hasil ini tentunya harus dijadikan warning baik bagi Hanura maupun bagi Wiranto sendiri untuk meningkatkan kinerjanya guna meraih suara pada 2014 nanti.

Oposisi Hanura BelumTentu Berpengaruh

Oposisi seharusnya dapat mengambil keuntungan ketika pamor pemerintah sedang mengalami kemerosotan. Merosotnya dukungan terhadap partai “pemerintah” jika dianalisis berdasarkan kelas, masyarakat kecil banyak dikecewakan dengan kondisi perekonomian yang belum mampu mencapai apa yang mereka harapkan di samping isu kenaikan harga BBM. Sementara untuk masyarakat kelas menengah dan menengah atas banyak dikecewakan dengan isu-isu korupsi.

Wiranto dan Hanura tidak banyak mendapatkan dukungan seperti terlihat pada hasil survei. Padahal posisi politik Wiiranto, Prabowo dan Megawati adalah sama-sama oposan. Jika Megawati dan PDIP mampu mendapatkan dukungan yang signifikan, karena memang Megawati dan PDIP memiliki masa pendukung tetap.

Tidak hanya itu, positioning Megawati dan PDIP sebagai oposisi memiliki keuntungan tersendiri manakala pamor Demokrat sebagai parpol pemenang Pemilu dan Pemerintah semakin merosot.

Antara Prabowo dan Gerindranya tidak akan sama dengan Megawati dan PDIP nya karena Gerindra tidak se-establish PDIP. Namun sosok Prabowo mampu memainkan isu-isu yang strategis melalui publikasi yang masif.

Prabowo dianggap akan membawa angin perubahan ketika kinerja pemerintah tidak mamapu memenuhi ekspektasi masyarakat luas.  Sebaliknya naiknya dukungan terhadap Prabowo tidak membawa  sebesar hasil yang didapat Gerindra. Meskipun dukungan terhadap partai ini mungkin naik, namun tidak lebih besar bahkan mampu menyamai dukungan yang didapatkan Prabowo. Apa yang terjadi dengan Prabowo seharusnya dapat dijadikan pelajaran untuk Wiranto dan Hanura.  

Saatnya Hanura Bertindak

Oposisi yang diambil Hanura seharusnya mampu membawa pengaruh yang signifikan terhadap ekektabilitas Wiranto dan Hanura, namun dari survei yang diperlihatkan tidak berbanding lurus. Persoalannya Wiranto dan Hanura belum menunjukkan posisi oposannya di hadapan public secara masif. Wiranto seharusnya gencar menunjukkan positioningnya ke muka publik. Secara retorika isu-isu yang digulirkan oleh Wiranto belum begitu signifikan menaruh appeal terhadap publik secara luas.

Mengapa Wiranto, karena elektabilitas yang didapatkan Wiranto akan membawa dampak bagi elektabilitas Hanura. Sementara untuk saat ini masih diyakini bahwa elektabilitas Hanura belum sebesar Wiranto. Jika elektabilitas Wiranto naik diharapkan dukungan terhadap Hanura terus naik.

Oleh sebab itu, perlu kiranya Wiranto memilih isu-isu yang strategis untuk segera digulirkan ke public yang diharapkan mampu menarik simpati masyarakat lebih luas. Hal ini dimaksukan untuk lebih mewacanakan perubahan di tengah pamor pemerintah yang lagi merosot. Dengan demikian akan tampak bahwa sosok Wiranto dianggap mampu memberikan perubahan dengan member tawaran alternative terhadap kondisi yang ada.

Publikasi hanya akan menjadi wacana maupun retorika semata, dan Publik juga belum tentu terpengaruh. Setidaknya ada program yang disusun yang kemudian dipublikasikan untuk membangun basis massa yang paling potensial. Program pemberdayaan misalnya bisa dijadikan langkah nyata kinerja Hanura sebagai motor untuk meningkatkan elektabilitas Wiranto maupun Hanura sendiri. Dengan demikian setidaknya ada harapan untuk membuat  Hanura mampu bertahan di Parlemen RI.

Recommended For You

About the Author: Zaki Faddad