Hanura dan Kemunculan Partai Baru Menuju Suksesi Pemilu 2014

Geliat suksesi Pemilu 2014 mulai tampak ke permukaan. Pemilu yang masih dua tahun lagi, mulai menyibukkan partai politik. Masing-masing Parpol melakukan konsolidasi internal dari tingkat pusat hingga daerah. Di samping itu, partai politik juga mulai menebarkan pesona untuk mengikat hati rakyat, melaui publikasi di media cetak maupun elektronik.

Partai politik sebagai konsekuensi logis dari sistem demokrasi, adalah salah satu alat perjuangan rakyat untuk menyalurkan aspirasinya. Tentu hal ini harus menjadi bayaran partai politik untuk dapat memperbaiki citranya, mengambil perhatian rakyat, di tengah gelombang krisis kepercayaan rakyat terhadap partai politik yang menduduki peringkat teratas. Sehingga fungsi partai sebagai kendaraan perjuangan pun menjadi alat yang benar-benar mengusung kepentingan rakyat.

Kemunculan Partai Politik Baru

Suksesi Pemilu 2014 memiliki warna yang berbeda. Pasalnya, ada beberapa partai politik baru yang akan meramaikan suksesi ini. Beberapa nama lama, tampil kembali dengan bajunya yang baru. Nama-nama lama itu, di antaranya adalah Partai Nasional Demokrat (NASDEM). Partai yang pada awalnya berdiri sebagai organisasi massa dan berkilah menjadi partai ini pun, akhirnya melebur sebagai partai yang siap bertarung dalam Pemilu 2014.

Partai yang digawangi Surya Paloh dan merupakan mantan politisi partai Golkar, yang kalah dalam bursa pencalonan Ketua Umum Golkar oleh Aburizal Bakrie, seolah tampil dengan kepercayaan diri. Dengan beberapa underbow-nya yang cukup melakukan kampanye, mulai dari organiasasi mahasiswa, kepemudaan, dan organisasi masyarakat, tampaknya menjadikan partai ini semakin PD menatap 2014. Ditambah lagi, partai ini juga menjadi partai yang menguasai media-media swasta besar di Indonesia.

Wajah lama lain yang tampil dengan wajah baru kedua, adalah partai Nasional Republik (Nasrep). Partai politik yang didirikan oleh Hutomo Mandala Putra alias Tommy Suharto, dan dipimpin oleh Neneng A. Tuty yang juga memegang jabatan Ketua Umum Laskar Merah Putih, tersebut akan semakin menjadikan suksesi Pemilu 2014 menarik dalam dinamika demokrasi.

Kecenderungan masyarakat yang mulai kecewa pasca-Reformasi bergulir dan ketidakmampuan pemerintah memperbaiki masalah yang ada di negeri ini, tidak menutup kemungkinan mulai menggiring kerinduan masyarakat pada era Orde Baru. Di sinilah celah peluang yang diambil oleh partai ini. Mereka merupakan metafora baru Orde Baru, oleh anak sulung pemimpin diktator tiga dekade, Soeharto.

Bagaimana dengan Partai Hanura?

Partai Hanura yang merupakan partai oposisi pemerintah, pada awalnya mulai populer di hati rakyat. Bersama partai oposisi yang lain, dengan gigihnya Hanura menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang hendak dinaikkan oleh Pemerintahan SBY. Tetapi batalnya kenaikan BBM, yang ternyata tidak diikuti oleh turunnya harga sembako pun tidak beitu signifikan mengangkat citra Partai Hanura.

Keberadaan Hanura di pihak oposisi belum menjadikan partai ini populer. Hal ini bisa dilihat dari rilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) terbaru yang menyatakan Partai Hanura hanya memperoleh suara 5%. Bahkan hasil survei lembaga ini tidak menempatkan Hanura pada peringkat lima besar. Lebih mencengangkan lagi, dari deretan nama kandiditat di bursa pencalonan presiden, nama Wirantoo yang merupakan Ketua Umum Hanura dan menjadi bakal calon yang paling potensial partai ini, tidak mencuat namanya di publik.

Meskipun kevalidan masih perlu dibuktikan pada pelaksanaan gelaran suksesi pada tahun 2014 nanti, tidak menutup kemungkinan, survei ini dapat merasuki cara pandang masyarakat. Artinya, di luar kontroversi hasil survei, Partai Hanura di bawah kepemimpinan Wiranto perlu melakukan antisipasi atas hasil survei sementara ini. Tidak ada salahnya jika hasil ini pun menjadi warning dan antispasi dini Partai Hanura untuk lebih bisa berbuat banyak.

Langkah Hanura dan Gerakan Jemput Bola

Keberadaan di pihak oposisi yang belum terlalu signifikan di kalangan publik menjadi pekerjaan rumah Hanura. Dan jika dibanding dengan partai-partai lain, yang secara publikasi lebih masif dan didorong oleh komponen yang lebih komplit, harus mendorong partai dan Wiranto untuk lebih giat melakukan gerakan publikasi dan langkah-langkah nyata di tengah rakyat yang menanti kehadiran mereka. Karena, pada dasarnya, rakyat kecil terlalu lelah dengan janji-janji partai dan menunggu kerja secara nyata dalam bentuk aksi.

Partai ini harus lebih berani dan tampil beda dengan mengambil dan menyikapi isu-isu yang menyentuh masyarakat tingkat bawah. Permasalahan hukum yang tebang pilih, ekonomi yang tidak memihak rakyat kecil, dan seabrek masalah mahalnya pendidikan dan kesehatan barangkali dapat menjadi alternatif isu stategis untuk Hanura. Partai ini akhirnya dapat berbuat banyak untuk memperjuangkan kepentingan rakyat kecil.

Jika partai lain secara masif melakukan publikasi dengan cost yang besar. Kenapa tidak, Hanura tampil dengan gerakan jemput bola turun ke tengah-tengah masyarakat?

Selain kebutuhan material yang menjadi kebutuhan dasar manusia, dorongan psikis dan moral kepada masyarakat kecil dari para tokoh/pemimpin negeri pun menjadi kebutuhan lain yang sangat dibutuhkan. Dengan demikian, diharapkan partai ini, mampu memahami secara langsung apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan konstituennya. Karena, pada kenyataannya, publikasi hanya akan menjadi janji-janji kosong jika tidak direalisasikan.

Semoga harapan ini dapat menjadi satu pertimbangan partai yang menamakan dirinya Hati Nurani Rakyat. Partai yang mampu mengejewantahkan hati rakyat yang sesungguhnya.

Recommended For You

About the Author: Supriyono

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FIK UMS, Penulis Liar (Freelance) dan Penggiat Diskusi Di Keluarga Insan Cendikia