Investasi Hortikultura: Membangun Kepercayaan Petani pada Elite Politik

Infrastruktur pertanian Indonesia masih berantakan. Bagaimana mungkin peningkatan investasi pertanian dapat dilakukan bila political will elite lemah? Investasi hortikultura mendesak disikapi, mengingat petani seperti bertemu jalan buntu, menuju kesejahteraan.

Tak dapat disangkal, pertanian merupakan amunisi pokok eksis atau tidaknya elite politik. Dalam skala kebijakan dengan prioritas tinggi seperti swasembada pangan, kemandirian ekonomi, dan pengendalian krisis, petani tetap tak dapat dianggap sebelah mata. Kali ini, terutama tentang pertanian hortikultura.

Hortikultura (horticulture) berasal dari bahasa Latin, hortus (tanaman kebun) dan cultura/colere (budidaya), yang dapat diartikan sebagai budidaya tanaman kebun. Hortikultura kemudian digunakan secara lebih luas, bukan hanya untuk budidaya di kebun. Istilah hortikultura digunakan pada jenis tanaman yang dibudidayakan.

Bidang kerja hortikultura meliputi pembenihan, pembibitan, kultur jaringan, produksi tanaman, hama dan penyakit, panen, pengemasan, dan distribusi. Hortikultura juga disebut-sebut sebagai metode budidaya pertanian modern.

Pertanian Hortikultura Pertanian Rakyat

Menurut keterangan Kementerian Pertanian, usaha hortikultura di Indonesia, pada umumnya merupakan pertanian rakyat, dengan skala usaha kecil dan tersebar. Pengelolaannya secara perorangan dan kurang didukung oleh infrastruktur yang memadai.

Selama ini, pelaku usaha banyak mengeluhkan sulitnya mendapatkan akses memadai dalam hal sarana, prasarana, teknologi, pembiayaan, maupun informasi. Lemahnya aksesibilitas tersebut menyebabkan rendahnya produktivitas, mutu, dan efisiensi, yang menyebabkan rendahnya daya saing hortikultura Indonesia.

Seperti diketahui, dominasi transaksi komoditas pertanian menjadi kendala sungguh-sungguh yang sulit dipecahkan. Produksi massal berkualitas di tataran hulu hingga hilir pun akan menemui kesulitan ketika harus berhadapan dengan dinamika harga pasar, yang seringnya, merugikan petani. Banyak kasus, harga jual komoditas pertanian yang lebih rendah dari biaya operasional pemanenan, memaksa petani untuk tidak memanen hasil jerih payahnya berbulan-bulan.

Pada satu sisi, iInfrastruktur memang bukan perkara sepele. Jadi sesegera mungkin harus diwujudkan. Namun pada sisi lain, integrasi di tingkat hulu hingga hilir, sebaiknya lantas bermuara pada maintenance pemerintah yang tak meninggalkan kesejahteraan petani. Bila kepentingan untung semata, sebagai konsekuensi bisnis, menjadi tolok ukur, maka wajib adanya bagi pemerintah dan elite politik untuk berdiri bersama petani; menyiasatinya.

Investasi Pertanian Hortikultura

Bagaimanapun, investasi diperlukan untuk mendongkrak masifikasi pertanian hortikultura. Petani, sebagai basis loyal yang rasional, membutuhkan sentuhan pasti tentang investasi. Selanjutnya, bila pemerintah yang melakukan itu, rakyat akan menganggap kinerja mereka baik. Pun bila elite politik yang mengusahakannya, dukungan juga tentu akan mengalir.

Setiap kali isu pertanian diembuskan, setiap itu pula seperti isapan jempol yang lantas tak berlanjut ke medan nyata. Nasib petani masih begitu-begitu saja. Ketahuilah, follow-up dari semua ini sangat ditunggu para petani. Dan bila petani memanen kesejahteraannya, kepentingan politik apa pun yang berbasis petani akan menang.

Terkadang, petani tak lagi ambil pusing. Mereka berpikir, dukungan politik akan mereka berikan kepada figur-figur yang dapat menyejahterakan. Tak lagi dipungkiri, pragmatisme petani sesungguhnya sama sekali berbeda. Mereka sadar, tanpa kalkulasi yang tepat, mereka tak akan bisa bertahan hidup. Kalkulasi dengan rasionalisasi akurat.

Mari menyejahterakan petani.

 

 

 

 

 

 

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.