Pilgub DKI 2012, Hanura, dan Masa Depan Politik Urban

Sebentar lagi, Pilgub DKI 2012 akan digelar. Tak tanggung-tanggung, Pilgub kali ini tak hanya didominasi incumbent. Beberapa kandidat juga habis-habisan untuk turut memenangkan kursi penting, yang menurut sebagian orang, miniatur kepemimpinan Indonesia.

Sebenarnya tak bijak juga terus-terusan membahas momentum Pilgub DKI. Sebab, selain nuansa generalisasi yang mengental, lantaran Jakarta seperti manifestasi kepentingan Republik, Pilkada hari ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Berbagai survei menyebutkan hasil tentang masyarakat yang sudah tidak lagi memiliki interest cukup pada politik.

Meski demikian, minimal momentum Pilgub DKI kali ini akan menjadi simalakama, ketika mau tidak mau, banyak sekali kepentingan penduduk Jakarta yang harus diakomodasi, terutama melalui jalur politik formal. Banjir, macet, maintenance pendatang, PKL, pengangguran, bahkan hingga ke tawuran pelajar seperti tak mau hengkang, bila Jakarta hanya dipimpin seorang penggila kekuasaan.

Praktis, masyarakat Jakarta akhirnya menumpukan harap pada setengah lusin kandidat pemimpin yang sebenarnya sangat sulit menakar tingkat keberhasilan mereka di masa yang akan datang. Meski beberapa di antaranya telah dikatakan berhasil pada kepemimpinan mereka sebelumnya, Jakarta jelas lahan baru yang sangat membutuhkan kerja keras dan ketegasan luar biasa.

Jakarta dan Jawa

Tampaknya memang berlebihan menghubungkan kepemimpinan Jakarta dengan Jawa. Jawa sebagai etnis pendatang yang jumlahnya sangat banyak. Juga tentang nuansa Jawa yang kental memengaruhi dinamika perpolitikan nasional. Namun, tak bisa dipungkiri, Jawa sebagai etnis penggerak perekonomian dan roda politik di berbagai belahan bumi Nusantara sangatlah perlu untuk ditelaah perannya pada momentum Pilgub DKI.

Sebut saja fenomena sepinya Jakarta saat Lebaran tiba. Arus jalan yang macet justru mendominasi jalan-jalan menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Atau ramainya jalur transportasi Jakarta ke kota-kota Jawa Tengah dan Jawa timur, entah itu darat atau udara, yang tak pernah sepi.

Jawa juga menjadi etika kepemimpinan Orde Lama dan Orde Baru yang signifikan. Praktis, Jakarta sebagai entitas birokrasi pendukung inti, lantaran kawasan Ibu Kota negara, tak lagi dapat menepis, peran kejawaan yang benar-benar nyata ada.

Praktisnya, calon pemimpin Jakarta harus melampaui ridha Jawa untuk memenangkan pertempuran. Mereka juga harus mengerti cara bergerak Jawa untuk memahami kepentingan Jakarta. Sebab, Jawa bahkan telah merepresentasi kepentingan republik.

Tentu saja ini bukan tentang politik primordial. Memahami kejawaan bukan lantas mendikotomi identitas warga Jakarta menjadi pro-Jawa atau anti-Jawa. Berurusan dengan Jakarta, pada kenyataannya, membutuhkan negoisasi kepentingan Jawa dengan segala etika dan kepentingan ekonomi-politiknya.

Foke, Hanura, dan Pemilu 2014

Mafhum adanya bila dukungan Partai Hanura diarahkan pada kandidat incumbent, Fauzi Bowo atau akrab disebut Foke. Beberapa hal alasannya sangat bisa ditengarai. Pertama, sebagai incumbent, Foke tentu memiliki jaringan dan akses yang jauh lebih baik. Potensi ini sangat tepat diolah, karena bisa jadi dapat meraup suara yang sangat menentukan menang atau tidaknya dia.

Kedua, sebagai partai yang masih mencari fondasi gerak, Hanura tentu membutuhkan pijakan dukungan pemerintah daerah. Walhasil, bila Foke terpilih kembali, tentu Partai Hanura akan mendapatkan angin segar agak longgar. Finalnya, Pemilu 2014 akan meningkatkan suara Hanura.

Ketiga, dibanding calon lain, Foke lebih dapat dikatakan mewakili Jakarta sebagai etnis Betawi. Praktis, Hanura seyakin-yakinnya mendukung pemenangan Foke untuk menanti dukungan warga Jakarta yang asli Betawi.

Namun, ada beberapa hal penting yang harus dijawab Hanura terkait dukungan ini. Sebab, bisa jadi kemenangan atau kekalahan Pilgub kali ini justru tidak juga berdampak pada Pemilu 2014.

Pertama, diasumsikan menang, Hanura akan berbagi kue dengan partai lain, yang dalam sketsa politik nasional berseberangan. Tentu ini akan menyulitkan gerak partai ke depan. Lebih lanjut, bila pun kekuatan-kekuatan politik pendukung incumbent dapat duduk bersama, intervensi nasional jelas akan membuat Hanura goyah.

Kedua, diasumsikan menang, impak langsung pasca-pemenangan belum dapat diukur. Warga Jakarta memang membutuhkan pemimpin dan tim kerja yang dapat menjawab persoalan Jakarta, tapi sama sekali tak ada hubungannya dengan keinginan memilih mereka pada Pemilu 2014. Itu momentum yang sama sekal berbeda. Sosiologi Jakarta membuat semua menjadi tak terkendali.

Ketiga, diasumsikan kalah, betapa Hanura akan dikesankan sebagai partai yang cenderung status quo, dan toh tak dapat memenangkan Pilgub. Risiko agregasi opini publik tentang citra Hanura yang relatif pragmatis menjadi pekerjaan rumah berat bagi Pimpinan Partai, baik di daerah maupun pusat.

Urgensi Politik Urban

Jelas ini hanya istilah, untuk menggambarkan strategi politik khusus di daerah urban atau bagi masyarakat urban. Jakarta dapat dikatakan telah sama sekali berubah, lantaran berisi bermacam-macam etnis Nusantara. Mereka bersatu padu membangun Jakarta untuk masa depan yang lebih baik.

Politik urban memberi identitas tegas tentang pentingnya memahami karakter urban, untuk kemudian memberikan dukungan kepada figur yang tepat. Selamat memilih, Jakarta.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.