Pilkada DKI 2012: Masyarakat Urban dan Menata Urbanisasi

Puluhan tahun Jakarta meradang karena arus pendatang. Selama itu pula, urbanisasi menjadi lingkaran setan tak tertembus. Pilkada DKI 2012 semoga dapat melahirkan pemimpin baru yang, terutama, dapat menata urbanisasi menjadi potensi.

Motif kedatangan banyak orang ke Jakarta sangatlah bervariasi. Sebagian besar berharap dapat mengais pendapatan yang jauh lebih layak. Sebagian lain menjadikan Jakarta sebagai tumpuan bermacam kepentingan pribadi mereka. Motif-motif tersebut beradon membuncah dalam dinamika Jakarta yang seperti selalu menarik untuk dikunjungi para pengumpul rupiah.

Sebut saja usia Jakarta yang sudah sangat berumur, maka wajar bila banyak orang bersandar harap masa depan yang lebih baik. Katakan saja karena Jakarta adalah pusat pemerintahan dan perekonomian, maka wajar bila sistem transaksi telah berjalan sedemikian mapan. Dan para pendatang dari generasi ke generasi pun tergiur pada gelimang harta Jakarta.

Tapi baiklah. Bukan kemudian dengan semua peluang itu Jakarta menjadi kota tanpa masalah. Justru karena berduyun-duyunnya orang daerah ke Jakarta itulah, yang kemudian menuai bermacam masalah. Meski sepenuhnya tak dapat dikatakan bahwa para pendatang adalah faktor utama masalah perkotaan, tapi praktis perubahan Jakarta menjadi megapolitan tentu tak lepas dari kontribusi para pendatang.

Masyarakat Urban dan Kepentingan Politik

Salah satu ciri mendasar masyarakat urban adalah sadar informasi dan rasional. Mereka terus mencari informasi sebanyak mungkin untuk membuat mereka eksis. Mereka juga tak mau serta-merta turut situasi, tanpa mempertimbangkan keadaan; apakah akan menguntungkan atau tidak. Masyarakat jenis ini memiliki cara berkompetisi wajar dengan mengobral diferensiasi sepenuhnya. Ya, banyak warga negara berpendidikan yang belum tentu dapat hidup layak di Jakarta.

Sejauh itu, tentu akan dapat ditengarai, apa kepentingan politik yang ada di benak mereka. Semua upaya dukungan selalu dimotifkan pemenuhan hajat ekonomi mereka secara pribadi. Para pedagang akan senang pada elite politik yang mampu memberikan jaminan dagang memadai. Para buruh dan karyawan juga akan berkontribusi pada politik, bila tunjangan dan upah mereka dapat dikatakan memenuhi standar. Begitu seterusnya.

Seradius apa pun kepercayaan dibangun oleh elite politik Jakarta, maka tidak akan melenceng jauh dari, apakah kemudian masyarakat dapat terus bertahan hidup di tengah keganasan kompetisi, yang bagi sebagian kalangan, mengerikan. Masyarakat urban sadar betul, tanpa ukuran keberhasilan yang nyata, berpartisipasi dalam politik justru membuang waktu, energi, dan pikiran mereka, di mana sedianya digunakan untuk mencari nafkah. Jakarta jauh lebih realistis-pragmatis.

Bukan berarti perilaku ini tidak dapat dipengaruhi. Justru dengan larut ke cara masyarakat urban berpikir, maka di situlah kebijakan atau manuver politik dapat diarahkan. Bila distribusi kesejahteraan benar-benar diperhatikan, sangat mungkin dukungan pada saat Pemilu digelar, mencapai angka yang mengejutkan alias dapat memenangi pertempuran politik.

Sosialisasi kebijakan publik atau kepentingan politik yang tidak hanya berurusan dengan propaganda dan marketing politik, dengan lebih detail mengakses interest publik pada figur tertentu, menjadi pilihan realistis untuk menjalin dan membangun dukungan.

Menata Urbanisasi

Tahukah Anda, bila Anda adalah calon pemimpin Jakarta yang berbakat, Anda akan selalu berpikir positif? Bermacam masalah sebaiknya dapat diolah menjadi potensi menggiurkan, dengan sentuhan yang sungguh-sungguh. Tumpukan kertas tentang data kependudukan bukan menjadi laporan yang membosankan, bila beriring dengan partisipasi publik yang memang disediakan perantinya.

Urbanisasi tak akan melulu menjadi masalah, bila kini, anggapan tentang Jakarta yang multietnis dapat dipahami. Semakin banyak pendatang di Jakarta, maka peluang Jakarta untuk menjadi lebih baik akan terbuka semakin lebar. Bayangkan, jutaan orang dengan pengetahuan, skill, dan inovasi itu pasti akan membuat Jakarta menjadi kota tujuan yang menyenangkan dan dapat menghidupi.

Tidak dapat dipungkiri, para pendatang telah menemukan jalan mereka sendiri untuk turut ber-Jakarta dan ‘menjadi Jakarta’. Mereka berjibaku untuk hidup yang layak, di mana otomatis menggerakkan perekonomian Jakarta pula. Tanpa pendatang, mana mungkin Jakarta akan menjadi pusat dagang nasional dengan nilai transaksi gila-gilaan.

Padanan kata untuk masyarakat urban sebaiknya memang bukan cenderung pada para pendatang. Lebih baik disimpulkan pada sebutan masyarakat perkotaan. Karena pada kenyataannya, Jakarta akan limbung tanpa warga daerah yang mencari penghidupan di Jakarta. Tak lagi ada jeda antara Betawi dan non-Betawi. Mereka benar-benar saling dukung menuju kesejahteraan yang dimaksud.

Soal membludaknya pendatang, itu lantaran tidak ada persepsi yang dibangun tentang peran mereka yang justru akan membuat semakin baik Jakarta. Faktor penataan permukiman dan kependudukan yang berantakan juga menyisakan segelintir orang yang seperti trauma pada pendatang, tapi sebenarnya tak cukup alasan untuk menghalau.

Silakan Jakarta memilih. Dan urbanisasi tetap akan menjadi fenomena turun-temurun, lantaran Jakarta telanjur dikesankan menjanjikan harta melimpah oleh banyak orang daerah.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.