Ical: Tragedi Lapindo dan Pencapresan 2014

Enam tahun silam, Indonesia di kejutkan dengan bencana besar di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo-Porong Sidoarjo Sidoarjo. Bencana yang terjadi 29 mei 2006 ini tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Pasalnya dari kejadian ini, masyarakat Sidoarjo harus kehilangan tempat tinggal, mata pencaharianya bahkan harta bendanya.

Tidak berhenti di masyarakat lokal, bencana yang menjadi tanggung jawab PT Lapindo ini pun berimbas pada perekonomian di Jawa Timur secara luas, dengan penutupan akses-akses penting sepeti sekolah, kantor pemerintahan, jalan utama dan lain sebagainya.

Enam tahun sudah kejadian ini lewat dalam pemberitaan tanah air dan dunia. Namun sayang, semuanya masih mengenaskan.  Semburan lumpur terus melebar dan memaksa terjadi penutupan terhadap akses-akses penting di Sidoarjo dan Jawa Timur.

Dampaknya berujung pada matinya perputaran perekonomian. Lebih mengenasakan ganti rugi kepada para korban lapindo ini pun tidak kunjung selesai setelah enam tahun lamanya.

Peristiwa ini, cukup mengejutkan. Nama-nama besar pemimpin nasional pun tidak luput dari perhatian media. Nama politisi Golkar, Abu Rizal Bakrie, yang kini menjabat Ketua Umum di partai berlambang pohon beringin, sebagai salah satu pemilik saham PT. Lapindo Brantas, disebut-sebut menjadi pihak yang seharusnya ikut betanggungjawab.

Namun sayang politisi yang akrab di panggil Ical ini selalu berkilah dengan janji-janinya. Ya begitulah politisi, paling jago beretorika, namun gagap dalam tanggungjawab.

Pencapresan Ical dari Golkar

Suksesi pemilu 2014, boleh dikatakan masih lama bagi masyarakat kecil yang tidak terlalu berkepentingan. Tetapi ini tidak untuk para politisi yang berkepentingan di dalamnya. Sejumlah nama-nama politisi lama masih menjadi trend dalam bursa calon presiden untuk pemilu dua tahun mendatang.

Sejumlah nama-nama politisi mulai terpampang lewat baliho, spanduk, poster dan leaflet-leaflet yang menghiasi sepanjang jalan-jalan utama. Bahkan dari media cetak hingga elektronik, namanya terpampang lengkap dengan slogan dan janji-janji surganya.

Dari daretan nama besar, mungkin nama dan sekaligus calon kuat dari partai Golkar yang paling mengejutkan rakyat secara umum, dan khususnya warga korban lumpur di Sidoarjo.

Siapa yang tidak mengenal sosok ini, selain namanya sering seliweran di media, juga semburan lapindonya seolah menjadi deretan lagu berjudul “tangisan” rakyat kecil di Sidoarjo, yang hingga kini belum juga belum terselesaikan.

Ical adalah nama yang bakal menjadi calon kuat dalam bursa pemilihan presiden 2014 nanti. Dengan kekuatan finansial yang dimilikinya dan sosoknya sebagai orang nomer satu di partai, pastinya menjadi faktor kuat atas pencalonannya nanti.

Apalagi partai besar akan memboyongnya. Partai beralambang pohon beringin ini telah mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden di bursa suksesi 2014 dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar di Bogor, Jumat, 29 Juni 2012.

Tangisan Korban Lapindo yang Terlupakan

Ical boleh saja mencalonkan dirinya sebagai orang nomer satu di Republik ini. Karena itu adalah haknya. Tetapi semburan Lapindo, tidak boleh dilupakan begitu saja.

Ical tidak perlu terlalu janji terlalu banyak. Cukuplah ia berbicara satu soal tentang penyelesaian semburan lapindo brantas yang sudah berusia enam tahun ini.

Karena bagaimana mungkin seorang pemimpin, akan dapat mengemban amanah rakyat Indonesia yang besar ini, jika amanahnya di Lapindo saja belum mampu terselesaikan dengan baik.

Terlalu banyak air mata yang terbuang percuma atas tragedi ini dengan segudang janji surga yang menebar, tanpa pernah menjadi pengobat hati dan tangisan warga Sidoarjo.

Kiranya sebagai publik figur dan tokoh nasional dari partai besar yang meneriakan semboyan kesejahteraan, dan sebagai calon presiden Indonesia perlu memberi tauladan yang baik kepada rakyatnya.

Bukan janji tetapi bukti. Singkatnya demikian sebuah seruan untuk sang Capres. Jika pun dalam perjalanannya nanti ternyata adalah hal yang tertunda, bukankah lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Karena tidak ada yang bisa membasuh tetesan tangisan rakyat selain, sebuah janji yang berbuah bukti dalam kerja nyata.

Jika ini ternyata tidak dapat di lakukan, maka cukuplah hanya ada satu kata untuk capres Ical yang terhormat “Kata-kata yang keluar dari mulut manismu tak semanis janji-janjmu kepada masyarakat Sidoarjo”.

Recommended For You

About the Author: Supriyono

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FIK UMS, Penulis Liar (Freelance) dan Penggiat Diskusi Di Keluarga Insan Cendikia