Menemukan Sosok Negarawan di Era Demokrasi

Selama ini banyak sekali di berbagai media dijumpai suatu opini yang menyatakan bahwa Indonesia sedang mengalami krisis negarawan.

Alasannya karena kondisi bangsa kita yang belum pernah lepas dari krisis, seperti halnya korupsi, kemiskinan, selain itu konflik horizontal juga belum terselesaikan sehingga dianggap negara lemah.

Banyak berpikir bahwa berbagai krisis yang sedang melanda, negeri ini membutuhkan seorang sosok negarawan yang diharapkan mampu menyelesaikan berbagai persoalan dengan bijaksana dan tegas.

Lantas tidak adakah sosok negarawan yang dimiliki oleh bangsa ini? Jika asosiasi negarawan selalu melekat pada politisi yang memegang kekuasaan, tentu siapapun dia yang duduk dalam kekuasaan dan sehebat apapun kebijakan yang dilakukannya tidak pernah dapat mengelak dari kritik yang ditujukan padanya. Artinya sangat sulit merujuk kata negarawan pada seorang politisi yang sedang duduk dalam kekuasaan.

Keadaan ini justru terbalik ketika politisi itu tadi sudah tidak memegang kekuasaan, sosok negarawan mungkin saja melekat kepadanya. Orang justru akan banyak menghargainya ketika tidak lagi duduk dalam kekuasaan.

Tidak heran apabila ada anekdot bahwa seseorang dapat disebut negarawan ketika ia tidak lagi memegang kekuasaan atau mantan penguasa yang sudah meninggal. Meski begitu, sosok negarawan masih mungkin dimiliki oleh para politisi di negeri ini.

Negarawan dalam Era Demokrasi

Dalam era demokrasi, negarawan tidak selalu diasosiasikan dengan seorang tokoh panutan yang mana setiap apa yang dikatakannya selalu benar.

Tidak juga seorang negarawan diposisikan sebagai seorang penyelamat yang mampu memperbaiki segala keadaan. Jika negarawan diposisikan seperti ini maka negarawan yang diinginkan adalah wujud dari Messiah, Satria Piningit atau sang Mahdi.

Jika retorika tentang negarawan adalah panutan yang selalu benar, maka yang terjadi harapan terhadap sosok negarawan yang diinginkan itu merupakan pola pikir dalam masyarakat dengan sistem aristokrasi. Jika demikian, segala tindakan seorang negarawan selalu benar adanya, dan fitrahnya untuk benar adalah bentuk given dari Tuhan.

Demikian juga ketika mengandaikan negarawan sebagai wujud seorang Messiah atau Mahdi maka sosok negarawan merupakan mistifikasi.

Negarawan sangatlah mungkin dimiliki oleh setiap bangsa dengan sistem demokrasi yang dianutnya. Negarawan dalam era demokrasi harus mampu membawa diri dan memiliki kebajikan-kebajikan di tengah kekuasaan dalam dunia yang penuh dengan ketidak sempurnaannya.

Begitu juga dengan seorang negarawan, ia perlu diposisikan sebagai manusia biasa dengan ketidak sempurnaannya. Oleh sebab itu menjadi negarawan perlu memperhatikan beberapa kriteria dan etika agar memiliki kebajikan dalam kekuasaannya di era demokrasi.

Etika Negarawan

Menjadi seorang negarawan yang baik tidak perlu berpretensi untuk selalu benar. Menjadi negarawan di era demokrasi perlu menyadari akan dirinya diamanatkan untuk berada di kekuasaan yang cenderung dekat dengan kesalahan. Maka jika dirinya berasal dari rakyat, ia harus tunduk pada pengawasan rakyat bukan mengawasi dirinya sendiri.

Negarawan harus bekerja untuk rakyat, bukan bekerja untuk dirinya sendiri atau kelompok dan orang-orang yang dekat dengannya. Menjadi negarawan harus memiliki visi dan pandangan untuk generasi bangsa yang akan datang, bukan untuk kepentingan sesaat yaitu untuk kepentingan agar masih duduk di kursi kekuasaan.

Sehingga seorang negarawan harus berani mengambil resiko dalam mengambil kebijakan yang meski tidak popular, namun dipertimbangkan dapat berlaku efektif untuk kepentingan rakyat dan masa depan bangsa yang lebih baik.

Terakhir, negarawan adalah berasal dari rakyat, maka ia tidak boleh jumawa. Tidak lantas mendapuk bahwa dirinya yang paling berjasa.

Ia selalu merasa bahwa ada pihak-pihak lainnya yang juga berpaya untuk berbuat yang terbaik untuk bangsa ini. Hal ini karena seorang negarawan adalah rakyat dan bagian dari rakyat yang menginginkan yang terbaik untuk bangsa.

Recommended For You

About the Author: Zaki Faddad