Puasa dan Silaturahmi Elit Politik terhadap Rakyat

Masih saja ada kejadian yang menggambarkan ketidak adilan di negeri ini. Banyak jeritan rakyat yang merasa ditindas hak-haknya. Mereka mencoba menyuarakan apa yang dialaminya meskipun dengan cara harus mengorbankan diri. Namun bayak suara-suara rakyat tersebut tidak mendapatkan respon maupun perhatian dari elit politik kita yang semestinya menjadi tugas mereka untuk memperjuangkannya.

Bulan puasa tidak hanya dimaknai sebagai ibadah untuk pribadi namun juga ibadah sosial. Oleh sebab itu dengan berpuasa adalah saat yang tepat untuk membuka nurani para elit politik agar mau menangkap berbagai jeritan rakyat dan mengadakan silaturahmi terhadap kaum mustadzafin  untuk memperjuangkan hak-haknya.

Jeritan rakyat atas ketidak adilan

Masihkah ingat tentang kejadian yang menimpa Sondang Hutagalung? Tidak banyak yang merespon kejadian tragis yang menimpanya. Seorang aktivis 22 tahun yang membakar dirinya di depan Istana Negara pada Desember tahun lalu. Ia terinspirasi aksi yang sama dilakukan oleh pemuda pedagang kaki lima di Tunisia sehingga memicu terjadinya Arab Spring.

Sondang merasa kecewa dengan keadaan yang sedang dialami bangsa ini. Ia menuntut perubahan atas ketidak adlilan, kemiskinan, korupsi dan masalah-masalah yang lain. Namun putus asa yang mungkin dirasakannya sehingga harus melakukan aksi nekat itu.

Ia membayangkan akan terjadinya sebuah perubahan di negeri ini setelah aksi yang dilakukannya. Namun apa yang terjadi aksi martirnya tidak banyak mengundang reaksi dari elit-elit politik negeri ini untuk meresponnya.

Selain Sondang, keputus asaan juga dialami oleh penduduk desa pulau Meranti. Pada awal bulan ini 6 orang perwakilan penduduk mengancam akan membakar diri di depan Istana Negara  jika tuntutan mereka tidak terpenuhi. Sikap ini diambil lantaran protes mereka terhadap pemerintah sudah dilakukan semenjak 2009 lalu, dan menuntut pemerintah mencabut SK Menteri Kehutanan.

Mereka kecewa terhadap sikap pemerintah yang tidak berpihak kepada mereka sebagai rakyat kecil atas sikap pemerintah yang pada 2009 lalu menerbitkan SK Menteri Kehutanan tentang konsesi izin pengelolaan hutan di Pulau Meranti seluas 40.000 hektar, hampir separuh pulau, yang akan dijadikan tanaman kertas oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Pengelolaan hutan untuk industri kertas tidak saja mengancam kerusakan alam namun juga merampas hak-hak masyarakat setempat yang lahannya termasuk wilayah konsesi RAPP.

Pengorbanan fisik yang tidak kalah beratnya dilakukan oleh Hari Suwandi-44 tahun yang berjalan selama 25 hari dari Sidoharjo menuju ke Jakarta. Ia mengadakan protes untuk segera dipenuhi hak-haknya, keluarganya, dan para penduduk korban genangan lumpur Lapindo yang hingga saat ini belum jua usai.

Ramadhan: Buka Nurani Adakan Silaturahmi

Ketiga kejadian di atas menggambarkan suatu kekecewaan yang amat mendalam dari sebagian rakyat di Indonesia. Keadilan masih saja tercerabut meskipun dalam kondisi demokratis sekalipun. Apakah memang benar apa yang dikatakan Amartya Sen yang secara utilitarianistik demokrasi menjadi suatu solusi atas problem ketidak adilan dan kemiskinan.

Apa yang terjadi di negeri ini masih menunjukkan disfungsi demokrasi. Ketiga kejadian di atas hanyalah sekelumit contoh mengenai ketidak adilan di negeri ini sehingga membuat mereka rela untuk mengorbankan diri menuntut hak-haknya.

Kaum politisi baik partai maupun mereka yang duduk dalam pemerintahan seharusnya mampu menjembatani suara rakyat dengan lebih membuka nuraninya dan menjalin silaturahmi yang intensif dengan rakyat di tingkat grass root. Dan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk melatih diri membuka nurani agar memiliki kepekaan kondisi riil masyarakat.

Puasa adalah untuk melatih untuk melawan hawa nafsu untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkannya.

Pada puasa ramadhan inilah para elit politik seharusnya mampu meresapi kembali eksistensinya, bahwa keberadaannya bukanlah untuk menuruti hawa nafsu bahwa kehadirannya hanyalah untuk menikmati kue-kue kekuasaan untuk pribadi dan golongan di sekelilingnya.

Elit politik harus lebih memahami hakikatnya yaitu sebagai pengemban suara rakyat. Selain itu elit politik juga dituntut untuk memiliki suatu kepekaan terhadap sesama terutama kepada kaum tertindas.

Islam mengajarkan bahwa ibadah mencakup dua dimensi yaitu hablumminallah dan hablumminannas, dengan kepedulian terhadap sesama adalah bentuk suatu keimanan terhadap Allah.

Ibadah puasa seharusnya dipahami oleh para elit politik, tentu saja yang menjalankannya, agar membuka batinnya sebagai bagian dari ibadah untuk mendengar, meresapi dan mampu menyuarakan penderitaan rakyat yang masih terperangkap dalam jejaring ketidak adilan di negeri ini.

Selain itu pada bulan Ramadhan ini setiap muslim dituntut untuk mengadakan silaturahmi. Silaturahmi sebenarnya bermakna menyambung tali persaudaraan. Silaturahmi dapat diperluas dalam pengertian  sebagai ibadah sosial.

 

Silaturahmi adalah untuk menyambung suatu komunikasi lebih intesif antara sesama manusia. Dengan silaturahmi adalah sebagai langkah praksis bagi elit politik untuk mendekatkan diri mereka terhadap rakyat untuk tujuan ibadah yakni membela dan memberikan apa yang menjadi haknya.

Semoga hikmah puasa mampu diresapi oleh para elit politik untuk mampu memahami secara riil nasib yang sedang dialami rakyat Indonesia.

 

 

 

Recommended For You

About the Author: Zaki Faddad