Ramadhan: Kesalehan Sosial dan Pengentasan Kemiskinan

Bulan ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi ummat muslim. Seluruh ummat muslim wajib hukumnya untuk melaksanakan ibadah puasa, yang merupakan salah satu dari rukun islam.

Di bulan ini beragam kegiatan ramadhan mulai dari puasa wajib, taraweh, tadarus, iktikaf dan ibadah-ibadah lainya menjadi agenda rutin dari pelosok desa hingga ke sudut-sudut kota.

Puasa diperintahkan kepada ummat islam sebagaimana dalam Alquran Surat Al- Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Ini adalah perintah kepada manusia sebagai pengakuan dan ketundukan kepada Allah SWT. Bagaimana dengan puasa dalam dimensi sosial?

Puasa Dalam Dimensi Sosial

Puasa dalam dimensi sosial adalah sebuah ibadah yang memiliki konsekuensi logis dalam kehidupan masyarakat. Artinya puasa adalah pembentukan ke arah kesahalehan sosial, yang dimaknai tidak hanya sebatas menahan, haus, lapar dan nafsu syahwat dari matahari terbit hingga terbenam.

Puasa juga sebuah euforia, dengan berjibaku dalam batasan ritual-ritual keagamaan, tetapi lebih dimaknai dalam konsep universalitas tugas kemanusian untuk melakukan pembebsan dan pembelaan terhadap yang lemah (mustadafin).

Yudhi Latief yang dituliskanya dalam akun twitternya yang menyatakan, puasa adalah penundaan kesenangan sebagai kunci pencapaian kemuliaan hidup. Pemuliaan hidup adalah ketika manusia dalam hidupnya dapat berbuat untuk kemaslahatan masyarakat. Sebagai hadist Rasulullah “sebaik-baik orang adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain”.

Manusia sebagai makluk sosial merupakan individu dari bagian terkecil masyarakat. Dan ketika manusia berinteraksi dalam kelompok sosial, maka manusia memiliki peran dalam pembentukan pola-pola nilai dan aturan dalam masyarakat.

Tidak dapat dipungkiri, manusia adalah makhluk dengan dualism sebagai individu dan makhluk sosial sekaligus. Sehingga pada bulan puasa ramadhan inilah, integritas diri manusia sebagai makluk individu dan sosial akan teruji.

Hakekat keimanan manusia merupakan hubungan transenden dengan sang khaliq yang berdimensi vertikal (Hablumin Allah), sehingga segala pikiran dan perasaannya digunakan senantiasa untuk jalan kebenaran (Li Illah).

Dan Amal shaleh adalah cerminan dari perilaku yang berdimensi harizontal (Hablu min anas), sehingga segala ucapan, perbuatan merupakan bagian dari akhlak yang terpuji. Dapat dikatakan bahwa puasa sebagai pengakuan keimanan seorang muslim, konsekuensinya adalah tingkah laku yang selaras dengan perilaku individu dalam komunitas sosialnya.

Ibadah puasa dalam dimensi sosial bermakna kita dapat merasakan hal-hal yang telah dirasakan oleh orang-orang yang lemah dan fakir miskin. Di samping itu puasa juga memberi makna bahwa, sesungguhnya manusia dalam hal ini adalah makhluk yang memiliki kesetaraan.

Ibadah puasa adalah kewajiban bagi seorang muslim tanpa memandang status sosial, rasa, budaya ataupun bangsa. Semuanya memiliki kadar yang sama untuk melaksanakan puasa, terkecuali bagi mereka yang tmendapat keringanan karena sebab tertentu.

Puasa dan Pembebasan Kemiskinan

Komaruddin Hidayat menuliskan, negara-negara yang maju ekonominya, umumnya melakukan “puasa sosial”, dengan menahan kenikmatan hari ini untuk kepentingan jangka panjang.

Hikmah dari sebuah puasa adalah upaya membangun keshalehan sosial dan jawaban atas problematika yang melanda ummat manusia. Jika bangsa lain saja mampu melakukan puasa social, lantas bagaimana dengan bangsa Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam?

Di tengah ketimpangan sosial dan kemiskinan yang terjadi di Indonesia, sepatutnya kita bisa melakukan transformasi sosial dari hakekat ibadah puasa, demi terwujudnya kesetaraan sesama makhluk Tuhan.

Dalam menyikapi masalah-masalah sosial, puasa ummat islam tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan. Tetapi harus mengarah pada transformasi sosial. Sehingga ibadah puasa yang kita lakukan hanya mendapat rasa lapar dan haus semata.

Dalam pengertian ini, hikmah puasa memuat kandungan nilai dari cita-cita perubahan yang dalam bahasa Kunto Wijoyo, didasarkan pada cita-cita profetik yang mencakup humanisasi/emansipasi, liberasi, dan transendensi.

Jadi esensi puasa seperti yang disebut di atas adalah sebuah ibadah yang secara sosial memberi petunjuk ke arah pembebasan kepada kaum mustadaafin dan transformasi ke arah keshalehan sosial.

Humanisasi puasa adalah bahwa puasa mengajarkan kita sebagai umat muslim untuk berbelas kasih dan saling memberi sebagai sesama, terkhusus dari si kaya kepada yang lemah. Sehingga puasa dapat menajdi jembatan dari ketimpangan sosial pada suatu masyarakat.

Manusia yang pada hakekatnya adalah makluk dari asal-usul yang sama dan disatukan atas dasar persaudaraan (brotherhood). Dalam hal ini puasa adalah kekuatan spiritual yang menjadikan puasa sebagai liberasi (pembebasan).

Daya tonjok spiritual puasa harus mampu memberikan kesadaran diri untuk membebaskan si miskin/yang lemah dari belenggu kemiskinan dan monopoli dalam sebuah masyarakat.

Puasa hendaknya dijadikan momentum untuk pendistribusian kebutuhan secara merata. Dengan kewajiban amalan-amalan dari si kaya kepada si miskin dan zakat yang wajib kita bayarkan di akhir bulan ramadhan (saat labaran). Hal ini harus diupayakan sedemikian rupa, mengingat juga mengajarkan tentang kejujuran dan penahanan diri dari nafsu.

Terakhir adalah transendensi, yaitu sebagai konsekuensi dari keimanan dan ketaqwaan mereka yang menjalankan ibadah puasa.

Sebagaimana puasa dalam tingkatan yang terakhir dalam kacamata Ghazali adalah bagi mereka yang tidak hanya mampu melakukan mengosongkan dari nafsu dunia (makan, minum, syahwat), mengisi dengan hal-hal yang bermanfaat kepada sesama dan menyempurnakan ibadah puasanya. Allahu’alam

Recommended For You

About the Author: Supriyono

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FIK UMS, Penulis Liar (Freelance) dan Penggiat Diskusi Di Keluarga Insan Cendikia