Ramadhan: Melatih Kecerdasan Spiritual

Manusia adalah makhluk yang paling cerdas, dan Tuhan, melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks. Temuan para ahli mengarahkan pada fakta bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan paling unggul dan akan menjadi unggul asalkan menggunakan keunggulannya (William W Hewitt).

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa, sebagai perangkat internal diri agar memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna di balik realitas yang nampak.

Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi tekotak-kotak dan melembaga. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa.

Orang yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa dan peka terhadap masalah. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.

Sehingga diri kita akan merasakan kekerdilan kita di hadapan kebesaran-Nya. Kita berusaha mengadopsi nilai-nilai dari Nya dan meniru sifat-sifat-Nya. Agar kita menjadi demikian peka , cerdas menyikapi hidup dan dengan jernih mampu memaknai kehidupan ini.

Ramadhan adalah sebuah momentum yang  senantiasa turut mewarnai kehidupan berbangsa di negri ini. Bahkan hari kemerdekaan negeri ini juga bertepatan di bulan Ramadhan, sebuah bulan yang menjadi keyakinan umat muslim dan senantiasa menyuguhkan kita kepada sikap God-sentristik yang membimbing nurani dan semua urusan agar senantiasa berpangkal dan berujung pada Tuhan.

Pancasila dengan sila pertamanya; Ketuhanan yang Maha Esa adalah dasar dari kehidupan berbangsa dalam rangka mengabdikan diri kepada Tuhan yang Maha Esa. Sikap berbangsa seperti ini akan mampu membingkai pikiran dan kalbu kita dengan keikhlasan.

Selain itu, kita mampu menguburkan rasa pamrih sehingga dalam jiwa kita akan lahir kerendahan hati dan terkubur rasa takabbur, congkah, dan pongah. Dari diri kita akan lahir rasa syukur dan terkubur sikap kufur. Dari jiwa kita akan lahir optimisme dan akan terkubur pesimisme dan akan lahir sikap adil dan akan terkubur sikap zhalim.

Sudah seharusnya  karakter kader berkecerdasan spiritual  terbangun, yang akan menjadi kosmik kecil dari sifat-sifat Tuhan. SQ ini akan membuat kita senantiasa menyemburatkan nilai-niali ketuhanan dalam bersikap dan berprilaku dalam rangka mengabdi pada nusa dan bangsa.

Permasalahan terbesar bangsa kita saat ini adalah mengenai kehidupan yang miskin spiritual dan moral. Padahal kecerdasan spiritual memiliki dampak erat atas solusi kondisi bangsa hari ini. Sebuah pemahaman akan pemaknan diri, motivasi, etika dan tujuan hidup setiap individu dalam berbangsa dan melakukan aktifitas pengabdian diri adalah hal mendasar yang perlu kita bangun.

Oleh karena itu, momen Romadhan seyogyanya memberikan dampak sehingga dapat dijadikan titik pijakan untuk merenungkan dan kemudian berbuat untuk membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah porak poranda karena kebodohan emosional dan kebodohan spiritual kita sebagai bangsa.

Kecerdasan spiritual memungkinkan diri kita untuk berfikir secara kreatif, berwawasan jauh dan bahkan akan menuntun kita berani mengubah aturan yang dianggap telah keluar dari hati nurani.

Kecerdasan spiritual menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, menilai bahwa tindakan atau jalan hidup diri kita lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan spiritual menjadikan manusia benar-benar utuh secara intelektual, emosional, dan spiritual.

Pemahaman seperti ini seharusnya wajib dimiliki dalam diri seorang kader bangsa yang mengagungkan kebersamaan dan yang mampu memaknai hidup dengan sebaik-baiknya. Meskipun Kecerdasan spiritual tidak mempunyai hubungan yang liner dengan masalah kehidupan beragama.

Kecerdasan spiritual tidak sama dengan kualitas kehidupan beragama dan masalah perilaku keagamaan. Namun demikian penguasaan dan kualitas yang baik dalam kehidupan beragama akan sangat membantu dalam mempermudah meningkatkan kecerdasan spiritual, sehingga individu dapat menangkap makna dan nilai kehidupan dengan lebih baik.

Semoga momentum romadhon dapat menjadi titik awal pembangunan kesadaran diri kita sebagai bangsa yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual sehingga kita tidak tergopoh-gopoh dan panik ketika harus menghadapi rentetan persoalan kehidupan. Bangkit dan raih kembali kejayaan bangsa kita melalui moment Ramadhon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Recommended For You

About the Author: Roseno Hendratmojo

Praktisi psikologi yang juga pencinta alam. Lekat dengan program kaderisasi dan pemberdayaan rakyat membawanya larut ke masalah-masalah kebanyakan. Mentor kaum muda yang tekun dan bersemangat.