Selamatkan Harga Kedelai dengan Penguatan Produksi Lokal

Negeri kita terkenal dengan negeri dengan penduduk yang gemar akan tempe. Ya tempe dapat dimasak apa saja, mulai digoreng, dibuat mendoan, dioseng, maupun dibuat kripik yang enak disantap sembari santai bersama keluarga. Hampir tidak ada keluarga yang tidak mengkonsumsi tempe.

Pamor tempe semakin meningkat manakala tempe sangat terkenal akan nutrisinya. Makanan favorit rakyat Indonesia ini kaya akan protein. Selain itu tempe adalah makanan alternatif yang murah sebagai pengganti daging.

Dahulu tempe hanya dikonsumsi mayoritas oleh orang Jawa namun lama kelamaan seiring mobilitas penduduk yang cepat tempe dikonsumsi hampir oleh seluruh keluarga di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Jadi, dapat dikatakan bahwa negeri ini merupakan negeri “tempe”.

Namun apa hendak dikata, produksi kedelai di Indonesia tidak mampu memenuhi jumlah konsumsi. Kini hampir 80 persen kedelai di tanah air diimpor. Namun fluktuasi perekonomian di dunia membuat harga kedelai meningkat dua kali lipat dari harga biasanya.

Pembuat tempe enggan menurunkan harganya. Begitu juga dengan importir kedelai tidak ingin menurunkan harga yang memang sedang membumbung tinggi di negara pengimpor (Amerika). Sementara para petani local juga sama saja tidak mempunyai kuasa untuk dapat mengendalikan harga, karena terbatasnya produksi selain harga pupuk yang juga ikut melambung.

Kontan tempe yang menjadi makanan favorit semua kelas masyarakat mungkin akan menjadi barang yang langka dan mahal. Bisa jadi, harga tempe akan sama mahalnya dengan daging. Jika ini terjadi, tempe yang menjadi sumber nutrisi utama bagi masyarakat tidak mampu tidak lagi dapat terbeli. Maka, bukan tidak mungkin kasus kurang gizi masyarakat kita semakin bertambah.

Kejadian ini disebabkan karena kegagalan pemerintah dalam mengupayakan ketahanan pangan di negeri ini. Pemerintah juga telah salah menggantungkan konsumsi dalam negeri dengan impor. Sebaliknya tidak ada upaya untuk mendorong petani lokal untuk mampu memproduksi pangan hingga mencapai pemenuhan pangan nasional.

Kebijakan ini kontan membuat para petani kewalahan menghadapi gempuran produk-produk impor. Mereka sudah kalah dari segi kuantitas dan harga yang dapat bersaing di pasar. Sekaligus mereka kehilangan pasar karena para konsumen dan penjual lebih senang membeli produk impor karena lebih murah.

Paradigma ketahanan pangan kita masih mengorientasikan diri pada mekanisme pasar global. Pemerintah terlalu terlena dengan kebijakan ini. Pemerintah tidak mengantisipasi akan terjadinya lonjakan harga tiba-tiba karena negara importir mengalami kesulitan produksi karena kekeringan.

Kasus ini merupakan tamparan dua arah, petani lokal selalu dirugikan dengan kebijakan impor yang diterapkan pemerintah, dan ketika harga komoditi naik, rakyat konsumenlah sangat dirugikan. Sebagai langkah terakhir, pemerintah guna mengendalikan harga tempe adalah mencabut bea pajak impor bagi komoditi kedelai.

Namun begitu, langkah pemerintah ini adalah langkah sesaat. Negara sudah dirugikan karena pajak kedelai tidak masuk dalam penerimaan negara, di samping itu petani lokal tidak pernah diberdayakan untuk mampu meningkatkan produksi kedelai. Sehingga konsumsi kedelai kita masih saja bergantung pada impor dan petani kedelai selalu saja tidak mampu ditingkatkan kesejahteraannya.

Satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan ini adalah sudah saatnya pemerintah berpihak pada sector pertanian dan memperkokoh industri pangan dalam negeri. Bukankah lahan dan sumber daya manusia yang kita miliki cukup mumpuni untuk melakukan hal ini? Cukup ironis memang, jika bangsa yang kaya dan subur pada sektor pertanian harus mengimpor pangan dari negara lain, bagai ayam mati di lumbung padi.

 

Recommended For You

About the Author: Zaki Faddad