Menguji Agama sebagai Alat Pemenangan Pemilu

Beberapa hari ini, media massa secara massif memberitakan mengenai isu pelanggaran kampanye dengan menggunakan dalih agama dalam menyambut putaran II Pemilukada DKI. Salah satu topic perdebatan dalam merespon Pemilukada DKI2012 adalah boleh atau tidaknya seseorang memilih calon pemimpin dari agama lain.

Banyak pihak mengarahkan orang untuk memilih pemimpin yang seagama dengannya. Sebaliknya, ada juga yang memandang bahwa agama juga membenarkan umatnya untuk memilih seseorang yang bukan seagama asalkan dirinya dianggap paling adil.

Perdebatan ini justru ada di dalam tubuh MUI (Majlis Ulama Indonesia). Beberapa anggotanya memiliki perbedaan pendapat mengenai hal ini, seperti yang disampaikan di atas.

Salahkah Menggunakan Agama untuk kepentingan Poilitik?

Menggunakan agama untuk memenangkan pertarungan politk mungkin dilihat aneh dewasa ini. Anehnya, karena penggunakan agama (isu SARA) untuk menyerang kandidat lain dianggap menjadikan agama untuk kepentingan orang-orang yang berhasrat memenangkan politik.

Namun jika ditinjau dari segi politik dan ekonomi, tidak ada salahnya agama dijadikan sebagai strategi untuk memenangkan pertarungan politik. Sebagai fenomena politik, hal ini rasional. Suka atau tidak, cara-cara ini selalu menjadi pemantik perdebatan yang panas antara yang pro dan kontra.

Namun yang jelas, seseorang boleh melakukan strategi apapun untuk memenangkan pertarungan politik sepanjang tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan. Tidak ada suatu alasan logis yang dapat digunakan untuk melarang menggunakan muatan agama untuk kampanye, sepanjang tidak menyalahi aturan tentangnya..

Sebagai strategi, agama tetap dipandang sebagai cara yang ampuh untuk mempengaruhi perilaku politk. Selain itu tidak ada bedanya mengkampanyekan salah satu kandidat karena seagama, dengan mengkampanyekan satu kandidat karena dianggap lebih cerdas dari kandidat lainnya.

Isu Agama dan  Politik

Jika akan melihat aturan mana yang melarangnya, ditinjau dari sudut pandang agama, Islam terutama terkadang tidak secara spesifik atau mendetail memuat aturan-aturan mengenai keterlibatan agama dalam politik.

Dari sinilah timbul dua pemikiran. Kelompok pertama merasa bahwa agama harus dipisahan dari politik atau menggunakannya untuk mencapai hasrat politik karena akan mengotori agama itu sendiri. Sedang yang lain beranggapan bahwa agar kehidupan politik berjalan dengan baik harus melibatan agama .

Menurut penulis, bagaimanapun, sepanjang agama melekat dalam diri manusia, agama tidak pernah dapat dipisahkan dari politik. Maka tidak heran, jika dukungan terhadap seseorang calon pimpinan maupun tidak mendukungnya, selalu melibatkan hujjah agama.

Aturan hukum tentunya tidak perlu mengatur tentang penggunakan agama dalam melakukan kampanye. Karena bagaimanapun beragama adalah hak asasi manusia. Jadi jika politik tidak pernah dilepaskan dari kehidupan beragama maka melibatkan agama dalam politik juga hak asasi manusia.

Etika Kampanye

Meskipun seseorang sah-sah saja mendorong orang lain untuk memilih kandidat dengan dalih agama, tentunya ada hal-hal yang harus diperhatikan. Baik agama maupun aturan hokum lainnya cenderung sepakat ada hal-hal tertentu yang tidak boleh dilakukan saat kampanye.

Sebagai contoh, melakukan kampanye hitam. Menyebarkan isu-su yang menyudutkan kandidat lainnya berdasarkan atas kebohongan. Menyebarkan rumor yang tidak disertai dengan bukti dan data-data yang kuat untuk menghancurkan reputasi kandidat lainnya yang berbeda ideology dan agama.

Untuk penegakan hokum, hukumlah mereka yang menyebarkan fitnah atau kebohongan dengan tujuan menghancurkan reputasi kandidat lainnya karena hal ini tentunya sangatlah merugikan public.

Namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan agama sebagai alat kampanye, yaotu bahwa masyarakat kita sudah sangat rasional. Yang diinginkan masyarakat adalah pemimpin yang mampu membuat perubahan kea rah yang lebih baik. Artinya track record seorang pemimpin lebih menjadi perhatian daripada ideology apa yang berada dibaliknya.

 

Recommended For You

About the Author: Zaki Faddad