Peringatan Milad RI-67: Keadilan Sosial Untuk Kebanggaan sebagai Satu Bangsa

Usia kemerdekaan Indonesia tidak lagi muda. Menginjak umur ke-67 sudah seharusnya negara ini banyak belajar untuk mampu mewujudkan cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa. Namun persoalannya, sudahkah negara ini disebut merdeka dalam pengertian yang sebenar-benarnya seperti cita-cita para pendiri bangsa ini.

Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini, menengok kembali sejarah, tidak dapat dilepaskan dari sebuah persatuan nasional. Ini tumbuh bermula dari satu kebanggaan dan persatuan nasional untuk bersama-sama berdikari sebagai bangsa yang mandiri, tidak terjajah oleh bangsa lain.

Di sini kita akan kembali sejenak merenungkan apa yang sejatinya diharapkan oleh Founding Fathers negeri ini. Bahwa kemerdekaan sejati yang diinginkan tidak hanya berdaulat yakni terbebas sepenuhnya dari penjajah, juga menjadikan rakyat Indonesia yang adil dan makmur.

67 tahun kita resmi terlepas dari penjajahan bangsa asing. Penjajahan sangat membuat rakyat Indonesia menderita yakni tercerabutnya rakyat dari kesamaan hak dan keadilan ekonomi. Sehingga cita-cita para pendiri bangsa tidak lain adalah mengarahkan negara agar berfungsi mendistribusikan perekonomian secara lebih adil dan merata.

Nasionalisme: Kebanggaan Nasional dan Kohesi Sosial

Nasionalisme sering dikaitkan dengan adanya persamaan senasib dan seperjuangan, yakni bersama-sama menjadikan bangsa ini tumbuh berdikari. Konsekuensinya adalah saling bergotong-royong mengelola bangsa ini dan mendistribusikan kekayaan yang didapatkannya untuk memenuhi kesejahteraan seluruh anak bangsa dengan berkeadilan.

Oleh sebab itu, negara ini sejak semula diarahkan untuk mengelola seluruh kekayaan yang dimilikinya berdasar atas asas kekeluargaan dan kegotong-royongan. Harapannya terdapat pemerataan ekonomi secara berkadilan.

Nasionalisme yang dibentuk pada masa awal pendirian bangsa ini dapat dikatakan rasional. Kesatuan berbagai daerah-daerah menyatakan perasaan sebangsanya tidak lain sebagai upaya untuk terlepas dari bentuk ketidak-adilan ekonomi pada masa penjajahan.

Konstitusi awal jelas telah mengarahkan perekonomian untuk dikelola secara adil dan merata bagi kesejahteraan seluruh rakyat.

Jika menghayati makna ini, maka nasionalisme merupakan bentuk perwujudan dari kebanggaan bernasional, dan kohesi kebangsaan yang mampu menyatukan seluruh pluralitas bangsa untuk sama-sama saling bergotong royong ke arah pembangunan bangsa yang sejahtera, adil dan makmur.

Nasionalisme dalam Titik Nadir

Menginjak usianya yang ke 67 tahun ini, cita-cita ekonomi yang berkeadilan tampaknya perlu direnungan kembali.

Masih banyak persoalan yang belum terselesaikan, terutama munculnya konflik-konflik yang dilatar belakangi oleh persoalan ekonomi sumber daya.

Kasus Mesuji dapat dijadikan contoh bahwa konflik disebabkan oleh ketidakadilan. Kompensasi atas penggunaan lahan milik masyarakat setempat tidak pernah terealisasikan. Akibatnya, hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh rakyat tidak terpenuhi.

Hal serupa juga terjadi di Papua. Desentralisasi yang dibentuk untuk mempermudah redistribusi ekonomi tidak berjalan dengan baik. Pengelolaan terhadap kekayaan alam yang dimiliki daerah tersebut ternyata tidak dibarengi oleh peningkatan kesejahteraan masyaraat setempat. Akibatnya timbul ketidak nyamanan masyarakat yang mengancam pada disintegrasi bangsa ini.

Memang dalam perjalanannya saat ini, Indonesia mengalami peningkatan ekonomi yang sangat cepat. Pendapatan perkapita kita mencapai angka USSD 3.300. Pertumbuhan kelas menengah meningkat secara tajam.

Namun di bawah, masih dijumpai ketimpangan kesejahteraan yang sangat lebar. Sebagian masyarakat kita masih banyak yang masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sekolah menjadi barang yang mewah karena harga-harga pangan semakin mahal. Kebutuhan pangan kita masih saja impor sehingga para petani kita berubah nasibnya.

Persoalan-persoalan inilah yang mengakibatkan rasa nasionalisme dalam titik nadir. Masihkah negara mengharapkan terbentuknya nasionalisme secara seremonial dari rakyat yang masih belum merasakan keadilan?

Apa yang dapat dibanggakan dari bangsa ini jika untuk hidup saja masih kesulitan. Janganlah mengharap persatuan nasional jika masih ada jurang social yang begitu lebar. Untuk itu, sebagai refleksi atas kemerdekaan yang ke-67 ini, nasionalisme dan peringatan kemerdekaan tidak cukup sekedar menghimbau rakyat untuk mengadakan upacara bendera dan mengibarkan bendera di rumah-rumah.

Nasionalisme dan kemerdekaan dalam artian sebenarnya dapat terwujud ketika sudah tegaknya keadilan sosial yang menjadi cita-cita kemerdekaan bangsa.

Recommended For You

About the Author: Zaki Faddad