Ramadhan dan Pendidikan Moral Politik

Buruknya perilaku politik yang tampak dalam kehidupan bernegara di Indonesia, seperti maraknya kasus-kasus korupsi, dianggap karena perilaku politik, terutama dilakukan oleh elit politik, yang dikendalikan oleh hawa nafsu.

Sementara bagi umat Islam, puasa ramadhan yang sebentar lagi akan berakhir ini adalah momen untuk melatih diri mengendalikan hawa nafsu. Agar puasa tidak sia-sia, makna ibadah ini perlu dimaknai oleh elit politik kita agar membawa perubahan perilaku politiknya demi kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Puasa hanyalah sebagai awal bagi manusia untuk merefleksikan kembali apa yang telah diperbuatnya, latihan untuk mengasah kepekaan nurani. Ketika nurani peka, mana yang hak dan batil akan terang, beramar ma’ruf nahi mungkar dan terinternalisasi nilai-nilai ilahiyah ini dalam perilaku politik untuk hari-hari yang akan datang.

Dengan demikian harapannya, puasa dapat dijadikan pelajaran, terutama bagi para elit politik untuk mampu mengekang hawa nafsunya.

Politisi dengan kekuasaannya memiliki peluang yang sangat besar terhadap terkuasainya hawa nafsu, akibatnya,  penyimpangan-penyimpangan terhadap nilai dan moral rawan terjadi. Sekali lagi mengingat adagium Lord Acton tentang sifat kekuasaan yang cenderung korup: “power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely”

Hawa nafsu dalam Politik

Hawa nafsu dalam Al Quran dipahami sebagai keinginan yang berasal dari diri/nafs (ammarah) yaitu struktur jiwa yang paling rendah (Q.S 14:37).

Islam berulangkali menyebutkan larangan untuk mengikuti hawa nafsu, di samping mengarah pada keburukan dan juga mengarahkan orang  untuk lalai dari Allah SWT dan Rasulnya (misalnya, Q.S 2:87, 2:120, 4:135, 5:48).

Dalam kehidupan, hawa nafsu mendorong kepada kesombongan, menolak keadilan, dan mengada-ada dari larangan dan perintah agama.

Dalam wilayah politik hawa nafsu mendorong  orang untuk menolak keadilan, memberikan kesaksian palsu yang pada intinya mengarah pada penghalalan segala cara untuk memuluskan atau melanggengkan hasrat kekuasaan yang melekat pada dirinya.

Ketika hawa nafsu mengendalikan perilaku politik maka praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme masih tetap marak terjadi. Begitu juga dengan hokum dapat diputarbalikkan dicari-cari celahnya agar selamatlah mereka melakukan penyelewengan.

Supremasi hukum juga jauh dari harapan lantaran cenderung tebang pilih bahkan sandiwara hukum menjadi kenyataan yang terjadi.

Intinya, hawa nafsu mendorong seseorang untuk mengagungkan hasrat duniawi dengan melupakan aspek spiritual dan melalaikan Allah.

Meskipun politik selalu berbicara masalah duniawi, namun Islam sebagai agama rahmatan lil alamin selalu mempertimbangan keseimbangan antara aspek duniawi dan ukhrawi.

Oleh sebab itu agama selalu mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam aspek duniawi semata namun mengarahkan untuk tetap memperhatikan aspek spiritualitas untu mewujudkan dunia yang lebih baik.

Puasa dan Latihan Melawan Hawa Nafsu

Bagi muslim, puasa  dipahami  sebagai suatu latihan untuk mengekang hawa nafsu. Puasa memang dimulai dari menahan untuk tidak makan, minum dan berhubungan badan sejak fajar hingga terbenam matahari.

Dari melatih diri untuk menahan apa yang dihalalkan, puasa seharusnya kemudian dihayati secara lebih luas, yakni sebagai latihan untuk mewujudkan keimanan dan ketakwaan dalam diri sebagai benteng perilaku manusia di dunia.

Puasa dalam bulan Ramadhan seharusnya  dipahami secara lebih luas. Puasa tidak sekedar dipahami sebagai sekedar ibadah dan momen untuk membersihkan diri dari segala macam dosa yang telah dilakukan selama satu tahun.

Jika ibadah ini dijadikan sebagai kesempatan bertaubat, tentunya pertobatan itu harus dilakukan secara sungguh-sungguh dengan menghindari dosa-dosa yang sama atau lainnya pada hari-hari kemudian.

Jika puasa dimakanai sebagai pertobatan yang sungguh maka akan terwujud perubahan perilaku yang lebih baik.

Puasa seharusnya dapat dijadikan sebagai upaya dalam melatih diri untuk mengasah kembali fakultas-fakultas spiritual. Menjadikan manusia, terutama politisi, untuk peka melalui pendengaran, penglihatan dan nurani terhadap kebenaran, keadilan, putunjuk atau bimbingan terhadap iman dan ilmu.

Ramadhan sebentar lagi akan berakhir. Siapapun tidak ingin sia-sia ibadah yang dilakukannya. Bagi politisi, agar ibadahnya tidak sia-sia, puasa seharusnya memberikan suatu pelajaran kepadanya untuk selalu menggunakan nuraninya dalam perilaku politik.

Agar makna puasa ini terinternalisasi dalam diri politisi, setidaknya mereka perlu membuka kesadarannya terhadap hal berikut.

Pertama, secara vertikal, bahwa seluruh manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya daripada Allah. Siapapun adalah abdi Allah di muka bumi. Tidak ada yang istimewa dihadapan-Nya kecuali tingkat ketakwaan.

Dengan menyadari hal ini,  setiap perilakunya, seorang politisi harus selalu sadar bahwa tindakannya selalu diawasi oleh Allah. Oleh sebab itu, jauhi perbuatan yang dilarangnya. Tidak bernafsu pada hasrat kekuasaan yang membuatnya sombong, sebagai awal mula kesyirikan.

Kekuasaan adalah titipan yang harus digunakannya secara sadar sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

Dari aspek horizontal, kekuasaan yang diduduki politisi adalah mandat rakyat. Kedudukan yang didapat politisi tidak lain adalah amanah yang harus diembannya. Maka kewajibannya adalah transparan terhadap rakyat yang memilihnya dan sepenuh hati dan tidak hianat memperjuangkan kepentingan rakyatnya.

Harapannya, dengan mengemban tugas horizontal ini, seorang politisi mendapat ridho dari Allah SWT. Wallahualam

 

 

Recommended For You

About the Author: Zaki Faddad