Berkaca dari Kisruh Partai Demorat

Prahara di tubuh Partai Demokrat rupanya tak ada habis-habisnya. Di penghujung tahun 2012, seorang kadernya, Ruhut Sitompul, mendapat kado istimewa dengan diberhentikan dari kepengurusan DPP Partai Demokrat. Soliditas internal, pesan penting dari studi kasus ini.

Sebelumnya, rentetan kasus korupsi mendera elite partai, di antaranya yang baru saja terjadi adalah ditetapkannya Sekretaris Dewan Pembina, yang juga Menpora, Andi Malarangeng, sebagai tersangka oleh KPK, karena terlibat Kasus Hambalang. Sementara di sisi lain, Angelina Sondakh juga divonis 12 tahun penjara karena kasus korupsi. Nasib Ketua Umum Anas Urbaningrum juga di ujung tanduk, karena sering disebut-sebut terlibat Korupsi Hambalang.

Angin ribut yang menerpa Partai Demokrat mulai bertiup kencang setelah Bendahara Umumnya, Muhammad Nazaruddin, tertangkap KPK dan kemudian bernyanyi sumbang. Nyanyiannya lantas menjadi bola liar dan akhirnya menyeret beberapa petinggi partai.

Kubu yang Tidak Saling Dukung

Kejadian yang dialami oleh Partai Demokrat sebenarnya merupakan dampak dari Kongres 2010 di Bandung yang kemudian mengantarkan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum. Anas mengungguli pesaingnya, Marzuki Ali dan Andi Mallarangeng yang didukung oleh SBY. Cikeas sebenarnya menginginkan Andi Mallarangeng yang menjadi Ketua Umum, namun gagal.

Di tahun 2012, kumandang nyanyian Nazaruddin semakin nyaring bunyinya. Berulang kali, dia menyebut keterlibatan Anas Urbaningrum sebagai pihak yang punya andil besar dalam pengumpulan rente dari sejumlah proyek besar. Namun rupanya, keberuntungan masih menyelimuti sang Ketua Umum. KPK lebih memilih Andi Mallarangeng sebagai tersangka.

Kemelut yang terjadi di Partai Demokrat mengindikasikan beberapa hal, di antaranya yang pertama, soal soliditas partai yang kurang mantap, sehingga mudah retak. Ditambah lagi faksi yang terjadi pada saat kongres ikut terbawa dan masih berintrik dalam tubuh partai.

Kedua, adanya dua kutub kekuatan yang berjalan tidak selaras, yakni antara Dewan Pembina dan Dewan Pengurus. Kedua poros ini menjadikan partai terpolarisasi oleh kepentingan yang berbeda dan menjadikan partai jalan di tempat.

Kemudian yang ketiga, Public Relation (PR) yang kurang tertata dengan baik. Hal ini membuat manajemen isu yang berantakan. Hal-hal yang semestinya bukan konsumsi publik dan merupakan konsumsi internal atau bahkan aib partai justru terekspose keluar dan menjadi bulan-bulanan media. Posisi Partai Demokrat sebagai partai penguasa (pemerintah) justru menjadi bumerang. Padahal seharusnya, hal itu menjadi keuntungan tersendiri.

Pengurus yang Kredibel dan Kapabel

Untuk memperbaiki citra Partai Demokrat ke depan, diperlukan adanya langkah-langkah konkret dan radikal dari DPP, utamanya Ketua Umum. Hal ini bisa dimulai dengan penataan kembali jajaran pengurus yang mempunyai kredibilitas dan kapabilitas.

Selain itu juga mengoptimalkan kinerja organisasi dari tingkat pusat sampai ke daerah dengan manajemen kepartaian yang modern. Fungsionaris partai harus bersama-sama memoles citra partai dengan mengolah manajemen isu dan memperbaiki PR dari Partai Demokrat.

Memang dibutuhkan kecerdasan politik bagi elite Partai Demokrat untuk bisa terlepas dari prahara dan kemudian bisa menyanyikan lagu Badai Pasti Berlalu.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah