Catatan 2012: Konstitusi dan Eksistensi Negara

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibangun dan ditegakkan dengan konstitusi. Bukan konstitusi yang semata untuk kelengkapan berdirinya sebuah negara. Tapi konstitusi yang dapat memberi efek terbaik bagi seluruh anak bangsa.

Apa yang terjadi pada negeri ini? Apa yang terjadi dengan bangsa kaya budaya dan sumber daya alam ini? Apa yang telah dilakukan para pemimpin negara dengan ratusan juta penduduk ini? Bukankah negara ini didirikan dengan segenap darah dan air mata para pendahulu bangsa? Bukankah tanpa kebersatuan dan komitmen menaati kebersamaan sebagai bangsa, negeri ini hanyalah serpihan pulau-pulau rebutan banyak kalangan serakah di dunia?

Mari berhenti sejenak. Tahun 2012 sebentar lagi berlalu. Tahun dengan ingar-bingar politik yang bukannya semakin mengendur jelang akhir tahun, menyisakan perasaan berat sesama anak bangsa, tentang mimpi negara bersih yang seperti sulit diwujudkan. Tahun dengan angka-angka keberhasilan yang selalu diumumkan, tapi pada kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Rakyat masih saja kurang berpendidikan, tak kunjung sejahtera, dan didera beban masa depan yang luar biasa, lantaran kesempatan untuk eksis yang semakin sulit.

Alangkah sulitnya berharap pada para pemimpin formal, kini. Bukan karena mereka tak pandai, tapi lantaran kepandaian mereka tak berbanding lurus dengan kemengertian mereka. Bukan karena mereka tak punya kekuatan, tapi karena kekuatan mereka lebih sering digunakan untuk membangun kedigdayaan diri atau segelintir orang.

Semakin hari, publik justru semakin menaruh kepercayaan luar biasa pada pemimpin-pemimpin nonformal. Kredibilitas negara sebagai representasi berbagai macam bangsa perlahan tapi pasti melekang, jengkal per jengkal, sejak para pemimpin negara tidak lagi dapat mengambil hati rakyat. Mereka gagu, di tengah penderitaan yang luar biasa. Mereka masih sempat tertawa lebar di depan ketidakmampuan rakyat berurusan dengan masalah, yang seharusnya diselesaikan negara.

Lihatlah, disintegrasi masih saja menjadi wabah menakutkan. Ditambah dengan isu kesenjangan Pusat-Daerah, memberi tempat tersendiri bagi sebagian rakyat yang sudah terlalu lama dikecewakan.

Konflik horisontal seperti tidak dapat dikendalikan. Aparat keamanan yang diberi kewenangan penuh untuk melakukan penanganan efektif, justru terlalu banyak berhitung, dan seperti diketahui, masih saja sebagian dari anak bangsa saling bermusuhan.

Nasib anak bangsa yang berada di luar negeri karena bekerja pun terlunta-lunta. Berapa saja dari mereka yang kemudian menemui ajal, hanya karena penanganan negara yang tidak dapat diandalkan.

Bukankah negara ada untuk melindungi rakyatnya, entah di dalam atau di luar negeri?

Apa Kabar Konstitusi?

Sebenarnya, dalam bernegara, para pendiri bangsa telah mempersiapkan aturan mainnya. Ia dapat menjadi patokan penting dalam mengisi kemerdekaan. Ia adalah UUD 45.

Bila konstitusi ada, sementara negara tetap karut-marut, berarti memang ada yang salah dengan pemahaman, pemaknaan, dan pelaksanaan konstitusi di tingkat elite politik negeri ini. Konstitusi didesain untuk meraih cita-cita kemandirian, saling menjaga, berdaulat, dan dapat memberi ekses positif bagi bangsa lain. Konstitusi disusun untuk mengentaskan bangsa ini dari keinferioran, menuju martabat sebagai bangsa seratus persen, tanpa menjilat atau mengemis.

Sudah saatnya, konstitusi dibaca kembali dan ditafsirkan lebih baik dengan situasi kekinian yang barangkali sudah jauh berubah, dibanding saat konstitusi disusun. Zaman yang berubah, bukan berarti menjadi justifikasi penegasian atau penyiasatan konstitusi sesuai keinginan segelintir orang saja. Justru zaman yang sudah jauh berbeda seperti sekarang, telah semestinya memberi tempat pada keaslian desain negara ini dengan menaati konstitusi.

Mari terus belajar. Belajar memahami maksud dan tujuan pendiri bangsa yang telah berkorban darah dan segalanya. Belajar meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Belajar untuk tidak merasa lebih pintar. Dan belajar untuk konsisten pada kejujuran, kepribadian bangsa, dan keluhuran budi pekerti yang religius. Selamat tahun baru 2013.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.

1 Comment

  1. Judul tulisanmu kui asline apek tapi sayang pemaparan koledoskop persoalan konstitusi di tanah air nyaris tidak kamu sebutkan, sehingga yang terjadi adalah sebuah retorika retorika persoalan hukum. Maka sebelum menulis alangkah indahnya rangkuman data – data itu diungkapkan sehingga tidak parsial dalam menyajikan persoalan. Sekali lagi tulisan ini sebenarnya bagus tapi sayang materi tentang hukum hukum ketatanegaraan minim dikuasai sehingga bersifat semu hasilnya.

Comments are closed.