Keuangan 2012: Redenominasi untuk Kedigdayaan Rupiah

Belakangan ini, BI maupun Kementerian Keuangan sedang berupaya melakukan penataan moneter. Hal yang sudah diwacanakan bahkan mulai diagendakan adalah penyederhanaan nilai mata uang rupiah, yakni dengan redenominasi.

Redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya atau dengan kata lain menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut.

Hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat tidak berubah.

Pelaksanaan redenominasi dipandang perlu mengingat saat ini nilai mata uang rupiah semakin menurun sementara nominalnya besar. Pecahan Rp 1.000,00 misalnya, saat ini nilainya kurang berharga, padahal di negara lain nominal 1.000 masih cukup berharga. Kalau nanti dilakukan redenominasi maka tiga angka nol akan dikurangi, Rp 1.000 menjadi Rp 1 saja.

Langkah pemerintah ini tentunya menimbulkan pro dan kontra, tanpa menelaah lebih jauh berkaitan dengan kebijakan redenominasi ini. Dan patut disayangkan ketika ada seeorang tokoh politik yang tidak sepakat bahkan cenderung mencemooh terkait dengan rencana ini, dengan tanpa begitu memahami persoalan yang sesungguhnya.

Sanering

Kebijakan moneter terhadap rupiah di Indonesia sebenarnya bukan hal yang baru. Pada tahun 1950 pemerintah pernah melaksanakan hal serupa. Hanya bedanya metode yang dipakai adalah sanering.

Sanering adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat menurun.

Kebijakan ini dilaksanakan lebih radikal karena untuk meredam inflasi yang tinggi, dan kebijakan ini terkenal dengan nama Gunting Syafrudin (mengingat waktu itu Menteri Keuangannya Syafrudin Prawiranegara ). Kemudian pemerintah juga melakukan sanering pada tahun 1959 dan yang ketiga pada tahun 1965.

Belajar dari masa ini, dalam menerapkan kebijakan redenominasi, pemerintah nantinya mesti berhati-hati. Sebab, bisa terjadi kepanikan di mayarakat, dan akan berdampak buruk bagi perekonomian bangsa. Apalagi Indonesia merupakan negara dengan wilayah yang sangat luas serta banyak jumlah penduduknya; menjadikan kompleksitas ekonomi yang tinggi.

Untuk mengantisipasi dampak negatif dari penerapan redenominasi, perlu adanya tahapan yang sifatnya berjenjang, dan sosialisasi yang simultan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Bagi mayarakat kelas menengah ke atas barangkali tidak menjadi masalah, tapi bagi masyarakat bawah dan perdesaan dibutuhkan upaya yang serius untuk memberikan pemahaman tentang redenominasi.

Penerapan redenominasi akan memberikan dampak positif bagi perekonomian, karena akan lebih simpel. Bagi bursa efek atau pasar modal akan membuat kinerja transaksi maupun pencatatan menjadi lebih efisien. Industri keuangan yang transaksinya miliaran tiap hari bisa dihemat tiga digit sehingga pengolahan datanya lebih efisien. Secara umum dengan diterapkannya redenominasi, mata uang rupiah akan lebih bernilai dibandingkan dengan selama ini yang terkesan kurang berharga.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah