Pertanian 2012: Eksistensi Bangsa dalam Peternakan yang Minus

Menurut Kementerian Pertanian, neraca perdagangan pertanian selama 2012 diperkirakan mengalami surplus 16,96 miliar dolar AS. Peternakan belum mendapat sekuritas memadai. Upaya politik pangan internasional yang harus dihadapi dengan diplomasi internasional.

Dari kegiatan ekspor-impor selama Januari hingga September 2012, tercatat nilai ekspor komoditas pertanian mencapai 27,22 miliar dolar AS sedangkan impor 10,52 miliar dolar AS. Komoditas perkebunan seperti sawit, karet, teh, kopi, dan kakao masih merupakan komoditas andalan ekspor. Negara tujuan utama ekspor seperti China, Amerika Serikat, sejumlah negara Eropa dan India.

Sayangnya, neraca perdagangan untuk subsektor peternakan mengalami defisit yang ditaksir hingga 1,6 miliar dolar AS karena ekspor pada 2012 hanya 409,1 juta dolar sedangkan impor mencapai 2,08 miliar dolar.

Swasembada Daging 2014

Bandingkan dengan program Swasembada Daging 2014. Untuk menyukseskan program tersebut, pemerintah akan menurunkan kuota impor daging dari 100 ribu ton menjadi 38 ribu ton sehingga mencapai 10% kebutuhan konsumsi masyarakat. Selain itu, meningkatkan populasi sapi potong menjadi 14,2 juta ekor tahun 2014 dengan rata-rata pencapaian pertumbuhannya sebesar 12,48%. Terakhir, meningkatkan produksi daging dalam negeri sebesar 420,3 ribu ton pada tahun 2014 atau meningkat 10,4% setiap tahunnya.

Pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus membesar tentu saja akan berbanding lurus dengan permintaan konsumsi daging. Sementara pasokan daging domestik atau impor daging masih terkendala banyak hal seperti regulasi, persaingan bisnis, atau bahkan diplomasi internasional.

Benarkah pemerintah dapat mewujudkannya? Mari menjadi saksi bersama-sama. Sebab, program ini relatif akan tampak mengada-ada, bila tanpa gerakan politis yang juga sungguh-sungguh untuk melakukan pembelaan di tingkat peternak.

Politik Pembelaan Peternak

Selama ini, program pencitraan politik yang dianggap dapat dijual dalam isu pertanian selalu saja tentang kesejahteraan petani. Meski masuk akal, lantaran jumlah petani di Indonesia memang lebih banyak dibandingkan peternak. Namun sebagian besar politisi lupa bahwa banyak petani Indonesia yang juga memiliki ternak dalam skala besar. Selain bertani, mereka juga beternak. Bertani dan beternak adalah dua hal yang sulit dipisahkan.

Artinya, pembelaan terhadap peternak dapat mendongkrak popularitas politisi. Selain itu, pembelaan kesejahteraan peternak dalam lingkup yang lebih besar—spektrum internasional—dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa. Lihatlah bagaimana negara-negara kaya melindungi produk peternakan mereka dengan mati-matian. Semua ini tentang unjuk bargain politik internasional.

Apabila diplomasi ini berhasil, dan transaksi hasil ternak meningkat, bangsa ini tidak akan mengalami defisit neraca penjualan hasil ternak. Lebih lanjut, para peternak akan hidup sejahtera, dan mereka tidak akan segan memilih politisi yang mereka anggap, memperjuangkan aspirasi para peternak Indonesia. Bukan hal yang mustahil untuk menuju ke sana.

Meski tak dapat dipungkiri, bahwa industrialisasi ternak juga memungkinkan penumpukan modal hanya di segelintir peternak. Nah, tugas politisi dan birokrasi lah agar pendapatan peternak dapat terdistribusi. Inovasi produk dapat memberi ruang besar bagi para peternak Indonesia, baik besar maupun kecil, untuk mendapatkan keuntungan tambahan. Seperti misalnya, ternak organik.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.