Hary Tanoe dan Kisah Kenegarawanan

Akhirnya, Hary Tanoe hengkang dari Nasdem. Pertanda apakah ini? Partai baru yang tidak solid, atau justru strategi politik untuk mencapai kepentingan yang lebih besar?

Beberapa bulan lalu, sebelum ditetapkannya partai politik peserta pemilu oleh KPU, dalam perbincangan politik di tingkat bawah, seseorang yang hendak terjun ke dunia politik menyatakan kepada temannya bahwa kalau ingin masuk politik dan menjadi caleg, masuk aja ke Partai Nasdem.

Sebab, Nasdem akan menjadi besar dengan dana kuat. Apalagi setelah Hary Tanoe masuk ke Partai Nasdem. Pendiri Nasdem, Surya Paloh, adalah pengusaha kaya dan pemilik Metro TV, ditambah lagi Hary Tanoe, CEO MNC group. Kombinasi dua bos media akan menjadi modal yang besar bagi perkembangan Nasdem di masa depan. Dukungan blow-up media akan menjadi kekuatan besar untuk menggiring opini publik.

Namun kenyataannya, sekarang Hary Tanoe, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar, mengundurkan diri dari Partai Nasdem, diikuti oleh beberapa jajaran pengurus DPP.

Perpecahan di internal Nasdem patut disayangkan, mengingat Nasdem merupakan partai baru satu satunya yang lolos verifikasi. Sebagai partai baru, Nasdem mempunyai infrasrtruktur yang bagus. Dan bergabungnya beberapa tokoh menjadikanya semakin mapan, termasuk back-up media yang kuat, mengingat dua bos media ada di dalamnya.

Kalau seandainya Nasdem tetap solid sampai pemilu, bisa jadi partai ini akan menjadi kuda hitam, dan menjadi harapan masyarakat akan warna baru perpolitikan nasional.

Latar Belakang Pecah Kongsi Surya Paloh-Hary Tanoe

Terhadap rentannya perpecahan dan kemungkinan menurunnya elektabilitas Partai Nasdem dalam pemilu mendatang, ada beberapa hal yang melatarbelakanginya, di antaranya: minimnya jiwa korsa, oportunisme fungsionaris, serta rendahanya rasa kenegarawanan.

Yang pertama, soal minimnya jiwa korsa. Dalam sebuah organisasi, terutama partai politik, jiwa korsa sangat dibutuhkan. Jiwa korsa adalah jiwa satu rasa dan satu asa dalam mencapai satu tujuan, atau biasa disebut rasa peduli dan sepenanggungan terhadap sesama di dalam suatu organisasi (kelompok) yang mempunyai satu tujuan.

Jiwa Korsa juga dapat diartikan sebagai rasa persatuan, kekeluargaan, setia kawan, rasa tolong-menolong, bahu-membahu, rasa memiliki bersama, dan rasa persaudaraan yang sangat erat. Ibnu khaldun menyebut hal ini sebagai ashabiyah.

Sebagai partai terbuka yang berhaluan nasionalis, Nasdem berisikan orang-orang dari berbagai latar belakang dan juga mantan kader partai lain. Usia partai yang relatif baru dan kurangnya kesamaan persepsi serta kepentingan menjadikan Nasdem belum bisa mengikat kadernya dengan platform dan ideologi kepartaian. Nasdem lebih identik dengan kepentingan Surya Paloh, dan kemudian ditambah lagi dengan kepentingan Hary Tanoe.

Kemudian yang kedua, sikap oportunisme dari beberapa kalangan yang masuk ke Nasdem. Beberapa orang yang masuk partai ini, baik itu di tingkat pusat maupun daerah, berharap bisa mengambil untung dan kesempatan.

Mereka berharap, dalam pemilu nanti, Nasdem akan memperoleh suara yang signifikan layaknya demokrat dulu, tanpa mengeluarkan biaya yang besar. Apalagi pendirinya, Surya Paloh dianggap orang kaya, ditambah lagi dengan bergabungnya Hary Tanoe. Dan keduanya memiliki jaringan media yang kuat. Pengurus daerah berharap gelontoran dana dari pusat untuk menghidupi partai, serta ada rumor yang menyatakan kalau caleg akan diberi stimulan dana.

Dan yang tak kalah pentingnya, ketiga, adalah masih rendahnya sikap kenegarawanan dari politisi kita. Kiprah mereka dalam politik hanya sebatas untuk mengejar kepentingan baik itu kekuasaan maupun pengembangan bisnis. Keinginan untuk memperbaiki bangsa dan negara hanyalah lip service, karena toh akhirnya perebutan jabatan menjadi faktor keretakan.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah