Mengapa Belum Juga Muncul ‘Capres Alternatif’?

Lusinan inisiasi media massa mainstream dan lembaga survei seputar Capres Alternatif ternyata tidak terlalu membuahkan hasil. Hingga hari ini, tetap saja nama-nama lama yang beredar. Sebuah rekayasa isu tentang regenerasi kepemimpinan yang terburu-buru.

Bukan hal mudah memang menyelesaikan persoalan bangsa yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Lebih tidak mudah lagi memilih pemimpin yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan bangsa. Jauh lebih tidak mudah lagi bila memilih pemimpin yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan bangsa di tengah pragmatisme politik yang akut.

Pada satu waktu, tiba-tiba sosok yang belum memiliki prestasi sedikit pun, diapresiasi media massa dengan gegap gempita, hanya karena lembaga survei menempatkannya pada posisi teratas dalam laporan hasil surveinya.

Pada waktu lain, mendadak sosok yang dahulu benar-benar dibenci publik, tampil sebagai pahlawan yang dekat dengan rakyat kecil, hanya karena marketing politik yang menhabiskan bermiliar-miliar uang itu. Media massa mainstream menjadi faktor besar keberhasilan pencitraan tersebut.

Menyedihkan, bila ada pula, sosok yang sebenarnya merasa belum pantas tampil menjadi pemimpin nasional, tapi kemudian terus distimulasi untuk kemudian tampil ke pentas politik nasional. Sekali lagi, media massa mainstream, baik cetak maupun televisi, memegang peranan penting mengendalikan opini yang berkembang.

Padahal, banyak orang pun kini tahu, bahwa para penguasa media massa mainstream juga berkepentingan terhadap politik. Mereka bersikeras untuk membangun kerajaan politik dengan kendali opini media yang mereka punya. Jadi bukan hal sulit menghubungkan bisnis media, kepentingan politik, dan pemunculan Capres Alternatif.

Resistensi Alamiah

Namun mengapa wacana kuat tentang Capres Alternatif belum juga bergerak ke titik baru, kampanye intensif Capres Alternatif? Setidaknya, inisiasi media dan lembaga survei yang kemudian menggerakkan satu-dua orang dari lusinan nama itu untuk segera tampil. Pasti ada sebabnya.

Pertama, kepemimpinan nasional bukan hal mudah. Menjadi keprihatinan bersama bila negeri ini berjalan seperti sama saja, ada atau tidak ada pemimpinnya. Oleh sebab itu, kompetensi menjadi hal yang tidak dapat dibantah lagi. Kompetensi memimpin tidak lahir tanpa rekam jejak mumpuni. Kompetensi lahir dari sejarah panjang tentang susahnya mengurus Indonesia dan dedikasi menyejahterakan rakyat, serta komitmen melindungi seluruh anak bangsa.

Kedua, menjadi pemimpin nasional bukan hanya proses politik formal. Ia muncul dalam bingkai kesadaran kolektif untuk mempertahankan NKRI. Kekayaan dan keterkenalan, atau mungkin jabatan publik strategis, belum tentu berujung pada elektabilitas yang diharapkan. Pemimpin nasional pada kenyataannya didukung oleh bermacam kelompok anak bangsa yang bersepakat pada kredibilitas dan integritasnya. Tanpa kesepakatan tak tertulis itu, mustahil Indonesia akan tetap satu, seperti yang dicita-citakan Pendiri Bangsa.

Ketiga, adab penghormatan kepada sosok berilmu dan lebih tua, masih kental di Indonesia. Negeri ini masih punya unggah-ungguh untuk ora rumangsa bisa (tidak merasa bisa), karena merasa bisa yang berlebihan hanya akan membawa negeri ini ke jurang ketersesatan lebih jauh.

Maka wajar bila Capres Alternatif yang dimaksudkan media massa mainstream dengan daya dukung lembaga survei tetap saja menguap, bersama debu sejarah. Sebab, secara alamiah, akan terjadi resistensi dari subyek, pun dengan pilihan rakyat berikut komitmen menjaga keutuhan bangsa. Wallahu a’lam bi shawab.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.