Mengukur 10 Parpol Peserta Pemilu 2014

Setelah melakukan proses verfikasi, KPU akhirnya menetapkan partai politik peserta Pemilu 2014 sebanyak sepuluh parpol, terdiri dari sembilan parpol lama yang sudah duduk di parlemen, ditambah satu parpol baru, Nasional Demokrat.

Peserta Pemilu 2014 ini lebih sedikit dibandingkan pemilu sebelumnya, setelah reformasi. Pada Pemilu 1999, 48 parpol berpartisipasi. Selanjutnya, pada Pemilu 2004, ada 24 parpol. Dan Pemilu 2009 mencatat keikutsertaan 34 parpol.

Jumlah yang sedikit dikarenakan persyaratan untuk menjadi parpol peserta pemilu yang dirasa berat. Itu pun KPU sudah melakukan toleransi (baca: fleksibel) dalam melakukan verifikasi. Sebab, kalau tidak, bisa jadi, tidak ada parpol yang lolos.

Menilik Parliamentary Threshold

Lolosnya parpol dalam proses verifikasi merupakan langkah awal untuk bisa bertarung dalam Pemilu 2014. Selanjutnya, parpol harus benar-benar mempersiapkan diri jika tidak ingin tereliminasi. Parliamentary threshold sebesar 3,5 persen juga merupakan batu sandungan, mengingat pemilu yang lalu saja dengan PT 2,5 persen hanya sembilan parpol yang lolos. Apalagi beberapa hasil survei menyatakan bahwa elektabilitas parpol cenderung menurun.

Dari komposisi peserta pemilu yang lolos verifikasi tersebut, kemungkinan besar, seluruhnya lolos PT, dan bisa memenuhi perolehan di atas 3,5 persen. Namun, dengan sebaran perolehan suara yang relatif sama dengan angka yang tidak terlalu besar. Hasilnya, tidak akan ada lagi partai mayoritas.

Parpol lama yang sudah mempunyai anggota dewan di parlemen atau pun anggota dewan yang menjadi caleg lagi (incumbent) tentunya akan mempertahankan suaranya mati-matian. Basis dukungan mereka di daerah pemilihannya akan menjadi lahan perolehan suara dan akan tetap dipelihara. Caleg incumbent di daerah pemilihan tersebut punya peluang yang besar untuk terpilih lagi, mengingat mereka sudah mapan, baik itu secara jaringan maupun logistik.

Sementara untuk partai baru (Nasdem) juga mempunyai peluang yang besar untuk meraih suara. Sebagai partai baru satu-satunya, membuat Nasdem lebih leluasa untuk bermanuver dan memainkan isu serta meraih simpati dari pemilih. Ditambah lagi dukungan media yang dipunyai oleh tokoh elitenya membuat partai ini bisa malakukan kampaye dengan serangan udara, tanpa henti, serta pencitraan partai. Selain itu, bergabungnya beberapa tokoh serta dukungan amunisi yang memadai, menjadikan Nasdem relatif mapan, meskipun partai baru.

Parpol sebagai Representasi Pemilih

Sepuluh parpol peserta pemilu sudah cukup mewakili kepentingan masyarakat. Kalau berdasarkan politik aliran, toh jumlah itu sudah lebih dari mewakili. Partai yang lolos dipandang sudah memenuhi ketentuan dan kemampuan untuk mengikuti pemilu dan meraup suara. Sebab, misalnya seluruh partai diloloskan, paling banter hanya sepuluh partai itu yang dapat memperoleh suara signifikan (baca: lolos PT).

Sebaran perolehan suara dari partai diperkirakan tidak terpaut jauh antara parpol satu dengan lainnya. Hanya saja kemungkinannya akan terbagi menjadi tiga kasta atau bahkan dua kasta. Kasta pertama akan diduduki oleh tiga partai, yakni Golkar, PDIP, Demokrat dengan perolehan suara yang juga seimbang. Kemudian kasta di bawahnya perolehan juga relatif merata, yakni partai Gerindra, PKS, PPP, PAN, Hanura, PKB, dan Nasdem.

Pertarungan di Dapil

Untuk bisa menaikkan elektabilitas, partai politik mestinya tidak hanya mengandalkan kekuatan parpol secara umum, namun juga harus mengoptimalkan kinerja dari caleg di masing-masing dapil. Sehingga penyusunan daftar caleg juga merupakan agenda penting dari parpol. Elektabilitas parpol sangat ditentukan oleh elektabilitas dari caleg di masing-masing dapil.

Pertarungan yang lebih riil dalam pemilu sebenarnya di masing-masing dapil. Parpol harus berusaha ekstra keras untuk bisa mendapatkan kursi di setiap dapil. Jangan sampai ada suara terbuang sia sia dalam jumlah besar, karena kalau tidak bisa memperoleh suara di dapil yang bersangkutan maka secara otomatis suaranya akan hangus dan tidak bisa digabungkan.

Oleh karena itu, strategi serta kinerja parpol dan caleg di masing-masing dapil sangat penting, kalau parpol berharap memperoleh suara besar dan menempatkan wakilnya di parlemen.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah

1 Comment

Comments are closed.