Pentingnya Pemilu Efisien

Rutinitas pesta demokrasi yang dilaksanakan secara periodik, yakni lima tahun sekali, di satu sisi memberikan legitimasi konstitusional bagi penyelenggara negara, namun di sisi lain, menguras energi yang begitu besar, baik itu tenaga, pikiran, maupun biaya (baca: anggaran).

Ditambah lagi adanya pemilu lokal (pilkada), baik di tingkat provinsi atau pun kabupaten/kota di seluruh wilayah Indonesia di mana waktu pelaksanaannya berbeda-beda, menjadikan negara ini penuh dengan hiruk pikuk pemilu setiap harinya; menghiasi pemberitaan di media massa.

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya Indonesia merupakan negara yang besar. Secara geografis dan demografis, terbentang dari Sabang sampai Merauke; dari Timor sampai Talaut. Secara administratif, teridiri dari 34 provinsi dan 410 kabupaten serta 98 kota.

Semua provinsi dan kabupaten/kota itu melaksanakan pilkada setiap lima tahunnya. Hanya Provinsi DIY saja yang tidak melaksanakan Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur, karena dilakukan mekanisme penetapan. Berarti, ada 541 pilkada yang itu merupakan pemilu lokal, dan ada dua pemilu nasional yakni pemilu legislatif dan pemilu presiden. Belum lagi kalau terjadi dua putaran, baik itu pilpres atau pun pilkada.

Borosnya Pemilu Indonesia

Dari kacamata anggaran tentunya cukup menguras APBN dan APBD kita. Untuk membiayai penyelenggara pemilu saja, sudah terakumulasi jumlah begitu besar. Karena, terhitung untuk KPU, baik di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Di tingkat kecamatan, ada Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), di tingkat desa ada Panitia Pemungutan Suara (PPS), sedangkan di tingkat TPS, ada KPPS. Di samping itu, juga ada Bawaslu dan Panwaslu. Faktor kali menjadikan jumlahnya menjadi sangat besar. Belum lagi untuk pengadaan logistik, biaya operasional, sosialisasi, dan keamanan.

Beberapa pos biaya yang sama, baik secara fungsi maupun teknis, pelaksanaan diulang untuk pemilu yang berbeda dan menyebabkan pemborosan anggaran.

Anggaran biaya pemilu, kalau diakumulasikan secara nasional, baik itu pemilu nasional, ditambah dengan pilkada seluruh Indonesia, maka akan menghasilkan nominal yang fantastis.

Slogan ‘hemat anggaran dan tepat sasaran’ kiranya perlu diterapkan pada konteks ini. Efektivitas dan efisiensi harus menjadi prioritas dalam pelaksanaan pemilu tanpa mengurangi esensinya.

Untuk menuju pemilu yang efektif dan efisien langkah awal yang harus diperbaiki adalah menyangkut mind set kita tentang pemilu. Selama ini, pemilu dipandang (baca: disebut) dengan istilah pesta demokrasi. Hal ini perlu diubah, mengingat kata ‘pesta’ berkonotasi pada hedonisme dan penghambur hamburan uang (baca: foya-foya). Karenanya perlu dicarikan istilah pengganti, misalnya ‘ritual demokrasi’ atau ‘ritual konstitusi’.

Kalau seandainya kata ‘pesta demokrasi’ diganti maka pemilu akan jauh dari kesan hura-hura, baik itu penyelenggaraannya maupun peserta pemilu itu sendiri. Pemakaian kata-kata yang pas sangat perlu. Lihatlah, beberapa motivator juga mempercayai kekuatan kata-kata.

Penyederhanaan Pelaksanaan Pemilu

Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah penyederhanaan dari pelaksanaan pemilu, dengan menggabungkan waktu pelaksanaan pemilu legislatif, pilpres, dan pilkada, baik itu provinsi atau kabupaten/kota. Seluruh pemilu itu dilaksanakan pada satu hari yang sama atau pun beberapa hari berselang; masih dalam satu bulan. Hal ini bisa dilakukan, mengingat teknis operasional dan pelaksanaan dari beberapa pemilu itu relatif sama.

Kalau pemilu legislatif, pilpres, dan pilkada dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan, akan ada penghematan triliunan anggaran.

Dibandingkan dengan negara lain, pelaksaanaan pemilu di Indonesia terbilang yang paling semarak dan heboh, dan tentunya juga yang paling boros. Oleh karena itu, perlu adanya reinterpretasi dan format ulang dari pelaksanaan pemilu. Yang terpenting bukanlah gebyar dari pelaksanaan pemilunya, tapi kualitasnya, serta hasil dari diadakannya pemilu.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah