Wibawa Negara dan Pemerintah Tegas

“Sekarang ini, wibawa pemerintah tidak ada. Satu per satu rakyat mati, dan negara tidak bisa apa-apa. Lama-lama rakyat kita habis.”

Kalimat sederhana tapi penuh makna tersebut bukan lahir dari seorang politisi, akademisi bidang politik, atau konsultan politik. Kegerahan luar biasa itu diucapkan seorang pengemudi angkutan umum di Kota Kretek, Kudus. Ketika itu, saya tengah dalam perjalanan menuju Yogyakarta.

Awalnya, tersiar berita dari radio angkot yang saya tumpangi tentang perampokan sebuah kampus di Kota Kudus. Pembicaraan pun menghangat, seputar modus perampokan, mengapa perampok sekarang segampang itu mendapatkan senjata api, dan tak lupa, berempati pada korban yang jatuh.

Jadi perbincangan sama sekali tidak diarahkan untuk mengkritisi negara dan kepemimpinan. Namun rupanya, saya salah kira. Topik kriminal yang terkadang dianggap biasa, karena saking seringnya terjadi, justru menggiring opini pada tegas dan tidaknya negara dalam melindungi rakyatnya.

Taruhlah memang itu hanya referensi parsial dari seorang pengemudi angkutan kota. Tapi bila ditelisik lebih jauh, tentu saja ada benarnya. Negara ada untuk melindungi rakyatnya. Bila kemudian rakyat tidak terlindungi, padahal negara itu ada, lantas apa peran negara?

Bukan hanya mempertanyakan eksistensi negara, tapi kemudian negara hilang legitimasinya begitu terjadi pembiaran terhadap meninggalnya warga negara Indonesia. Bila negara sudah dianggap tidak ada, semakin runyamlah situasi kenegaraan kita. Sebab, rakyat sudah tidak lagi mempercayai pemerintah sebagai pelaksana negara.

‘Lebih Enak Zaman Pak Harto’

Siapa sangka, kalau kemudian kini bertebaran di mana-mana, pernyataan tentang lebih enaknya zaman Soeharto ketika masih berkuasa. Bak truk, angkutan umum, sepeda motor, dan masih banyak lagi menampilkan foto Soeharto tersenyum, lantas tertera pesan penting ‘lebih enak zamanku’, dengan bahasa yang bervariasi.

Entah siapa yang memulainya. Entah siapa yang merencanakan semua itu. Atau memang itu ekspresi wajar rakyat atas muaknya mereka pada kinerja pemerintahan. Sangat kompleks. Bukankah hari ini harus selalu lebih baik dari hari kemarin, bila tak ingin dikatakan celaka?

Orang mulai membandingkan, dulu zaman Pak Harto, kriminal dengan tegas segera ditindak. Mereka pun tidak segampang sekarang, berkeliaran. Bahkan bila pun ada kejadian kriminal di jalan, masyarakat tidak berani ambil sikap. Mereka cari aman sendiri. Pun dengan aparat keamanan. Artinya, kriminal kini justru menjadi momok yang ditakuti rakyat. Lantas di mana negara?

Orang mulai membandingkan, dulu zaman Pak Harto, pekerjaan gampang didapat. Tidak seperti sekarang. Sekolah sudah mahal, setelah lulus, belum tentu mendapatkan pekerjaan layak. Belum lagi bila harus berobat. Biayanya pun tidaklah murah.

Wibawa Negara

Indonesia hadir sebagai negara yang dapat melindungi rakyatnya. Bukan negara boneka yang hanya menuruti keinginan penguasa dunia. Bukan negara pengisap rakyat, yang justru memanfaatkan rakyat dan jabatan publiknya untuk memperkaya diri sendiri dan golongannya. Bukan negara yang tanpa kendali, ketika persoalan di sana-sini tak kunjung selesai.

Negara yang berwibawa terwujud karena pemerintah yang berani dan tegas. Berani melawan siapa pun, bila memang rakyatnya menghendaki. Tegas menindak siapa pun yang mengganggu ketenteraman warga negara.

Bila pemerintah tak sanggup mewujudkannya, terang saja negara sudah usang seketika. Orang akan berpikir, “Mati hidup pun sendiri, buat apa menghormati negara?”

Sungguh mengkhawatirkan.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.