Blunder Oportunisme Akbar Faizal

Akbar FaizalNasdem, partai yang sudah mulai goyah dengan mundurnya beberapa pengurus di usianya yang masih belia, ternyata masih menarik hati politisi Hanura, Akbar Faizal, yang duduk di DPR untuk bergabung ke dalamnya. Selama ini, Akbar Faizal dikenal publik sebagai anggota DPR yang kritis dan vokal. Namanya semakin terkenal ketika terlibat dalam Pansus Century.

Kemunduran Akbar Faizal dari Partai Hanura sebenarnya cukup mengejutkan bila dilihat reputasinya selama ini. Mengingat beliau, dalam kacamata publik, termasuk orang yang mempunyai reputasi baik dan dianggap tidak pragmatis, apalagi oportunis.

Langkah Akbar Faizal ini bisa dilihat dalam dua sudut pandang yang berbeda, yakni dari diri yang bersangkutan maupun dari Partai Hanura yang ditinggalkannya.

Oportunisme

Langkah Akbar Faizal meloncat ke Partai Nasdem, paling tidak menyimpan beberapa indikasi, di antaranya adalah soal oprtunisme, di mana tentunya dia beranggapan dan berkalkulasi bahwa Nasdem akan menjadi partai yang besar dan akan lebih menampung keinginannya, baik secara politis maupun yang lain. Sementara Partai Hanura dianggap sudah tidak bisa diharapkan elektabilitasnya, bahkan dianggap tidak akan mampu lolos parliamentary threshold.

Ditambah lagi hasil survei belakangan ini yang menempatkan Hanura pada peolehan paling sedikit, yakni 1 persen. Di samping itu, Nasdem juga sedang membutuhkan figur potensial, dan juga memberikan jabatan ketua DPP baginya pada kepengurusan di bawah Ketua Umum, Surya Paloh.

Kemudian juga barangkali keinginannya mencoba barang baru atau pun menyalurkan hobinya traveling (berkelana), dalam dunia politik. Mengingat sebelumnya Akbar Faizal juga pernah aktif di Partai Demokrat, dan kemudian berpindah ke Partai Hanura , dan kali ini masuk ke Partai Nasdem.

Sikap Tegas Ketua Umum

Sementara itu, bagi Partai Hanura, persoalan mundurnya Akbar Faizal ini akan memberikan dampak politis apabila tidak dipikirkan dan ditanggapi secara serius langkah antisipasinya. Dan akan semakin menurunkan elektabilitasnya ke depan.

Kalau Akbar Faizal mengundurkan diri dan bergabung ke partai lain, itu merupakan hak pribadi dan tidak bisa dicegah, namun jangan sampai hal ini akan mempengaruhi soliditas serta citra partai. Jangan sampai kemudian publik berpikiran orang sekaliber Akbar Faizal saja sudah tidak yakin kepada Hanura apalagi yang lain. Untuk itu perlu diambil langkah antisipatif serta tindakan tegas dari Ketua Umum Partai Hanura.

Marwah dan citra Partai Hanura mesti diselamatkan, apalagi selama ini Hanura dipandang sebagai partai yang bersih dari kasus korupsi dan kasus amoral. Walaupun di DPR kursinya paling sedikit namun kiprah politik kader Hanura di parlemen cukup menonjol.

Tidak Terpengaruh

Fraksi Hanura di DPR diharapkan tidak terpengaruh dan tetap kritis menyuarakan apirasinya sepeninggal Akbar Faizal. Posisi partai yang bukan sebagai mitra koalisi dengan partai penguasa, menjadikan Hanura lebih leluasa dalam bermanuver dan terus kritis terhadap kebijakan pemerintah.

Hanura memang harus berbenah dan berjuang keras untuk meningkatkan elektabilitas menjelang pemilu nanti. Hasil survei yang menempatkannya dengan perolehan terkecil harus menjadi cambuk untuk berlari lebih cepat mengejar ketertinggalan.

Agenda Hanura untuk meningkatkan perolehan suara tidak hanya lolos PT (3,5 persen) tapi juga mendapatkan 77 kursi di DPR, yang itu berarti 13 persen perolehan, serta mengusung Ketua Umumnya, Wiranto, sebagai calon presiden membutuhkan loyalitas dan semangat juang yang tinggi dari semua kader.

Dengan target 77 kursi berarti paling tidak di setiap daerah pemilihan harus bisa mendapatkan satu kursi, mengingat ada 77 daerah pemilihan untuk DPR RI.

Kalau nantinya Hanura bisa memperoleh suara signifikan sesuai target yang diharapkan dalam pemilu mendatang, tentunya ini akan membuat menyesal Akbar Faizal dengan langkahnya saat ini.

 

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah