Dampak Elektabilitas Manuver Hary Tanoe

Dampak Elektabilitas Manuver Hary TanoeSebagai pengusaha yang belum lama terjun ke kancah politik nasional, Hary Tanoe rupanya menikmati hiruk-pikuk perpolitikan yang dijalaninya sekarang ini. Berbagai manuver politik digulirkannya akhir-akhir ini.

Setelah turut membesarkan Partai Nasdem, dan kemudian keluar, lalu masuk Hanura, Hary Tanoe kini mewacanakan pemimpin nasional dari kalangan muda, soal korupsi yang marak di negeri ini, masalah pendidikan, dan yang terakhir, mendirikan organisasi kemasyarakatan.

Hary Tanoe menjadi sorotan publik setelah hengkang dari Nasdem, kemudian masuk ke Hanura. Di partai barunya ini, yang bersangkutan diberi jabatan strategis, yakni Ketua Dewan Pertimbangan Partai. Namun, hal ini tak menyurutkan langkahnya untuk mencari mainan baru.

Seminggu setelah masuk Hanura, secara resmi Hary Tanoe mendirikan ormas yang diberi nama Persatuan Indonesia (Perindo). Tokoh inti yang membidani lahirnya ormas ini adalah gerbong Hary Tanoe ketika masih di Nasdem ditambah beberapa tokoh nasional.

Ormas dan Partai Perindo

Ormas Perindo nantinya akan menjadi organisasi sosial kemasyarakatan yang berkontribusi pada kemajuan bangsa. Karena bersifat nasional maka nantinya Perindo juga akan tersebar di seluruh kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, selepas dikukuhkannya kepengurusan di tingkat pusat maka akan dibentuk pula di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

BIla melihat gelagat politik dari ormas Perindo ini, tidak menutup kemungkinan kalau ke depannya, ia akan menjadi partai politik, seperti halnya ormas Nasdem yang kemudian menjadi Partai Nasdem. Sebagaimana pernah ditegaskan Hary Tanoe pada saat deklarasi, bahwa organisasi masyarakat Persatuan Indonesia (Perindo) dapat saja berubah menjadi partai politik. Peralihan Perindo ke partai politik sangat tergantung dengan situasi tanah air. Bila keadaan 2014 sampai 2019 masih seperti sekarang, ada kemungkinan Perindo berubah menjadi partai politik.

Kedudukan Hary Tanoe sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Hanura tentunya akan membuat persepsi publik tentang adanya hubungan antara Hanura dan Perindo. Namun, hal ini sudah sering kali ditepis bahwasanya tidak ada hubungan khusus antara keduanya. Perindo bukanlah sayap partai Hanura. Rencana mendirikan ormas tersebut sudah digulirkan ketika Hary Tanoe belum masuk ke Hanura. Walaupun demikian, posisi Hary Tanoe sebagai poitisi Hanura tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai Ketua Perindo.

Bagi Hanura, kehadiran Perindo bisa membawa berkah tersendiri secara politik apabila dikelola dengan baik fungsi dan perannya masing masing. Tidak adanya hubungan struktural antara keduanya, memberikan peluang bagi Perindo untuk leluasa berkiprah, sementara bagi Hanura bisa ‘nebeng’ serta memperoleh dampak elektabilitas.

Fatsun Politik Hary Tanoe

Berbagai manuver politik Hary Tanoe yang cenderumg akrobatik belakangan ini, kalau tidak direspons secara bijak oleh elite Hanura juga bisa membahayakan partai. Karena bagaimanapun juga, saat ini Hary Tanoe adalah kader Hanura dan menjabat posisi strategis, dan harus tunduk pada kebijakan partai.

Dalam berbagai kesempatan dan dirilis media, Hary Tanoe juga sering melontarkan tentang soal calon presiden alternatif dari tokoh muda. Padahal jauh-jauh hari, di internal Hanura, sudah mengusung Ketua Umumnya Wiranto sebagai calon presiden.

Dan secara fatsun politik, Hary Tanoe dan ormas bentukannya Perindo semestinya mendukung Wiranto sebagai calon presiden dan membesarkan Partai Hanura sebagai kendaraan politik.

 

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah