Pilgub Jawa Barat: Pentingnya Ketokohan Bersih dan Populis

Pilgub Jawa Barat Pentingnya Ketokohan Bersih dan PopulisPerhelatan politik dalam rangka memilih gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat terlaksana sudah. Walaupun hasil resmi KPU Provinsi Jawa Barat belum final, namun beberapa lembaga yang melakukan hitung cepat menempatkan pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar sebagai pemenang.

Kemenangan Ahmad Heryawan-Dedy Mizwar kemudian disusul oleh Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki ini mematahkan beberapa lembaga survei yang sebelumnya merilis bahwa pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana sebagai pemenang, sementara untuk Rieke-Teten di urutan ketiga dengan elektabilitas yang tidak seberapa.

Dibandingkan provinsi lain, Jawa Barat merupakan provinsi dengan pemilih terbesar, dan sebagian wilayahnya mengelilingi Jakarta. Sehingga sangat strategis dalam kalkulasi politik nasional dan dianggap barometer perpolitikan nasional.

Pengaruh Isu Nasional

Dalam pelaksanaan pilkada Jawa Barat ini, isu-isu nasional ikut membayangi, seperti kasus suap daging sapi yang melibatkan elite PKS yang kebelulan kandidat incumbent adalah kader PKS. Kemudian kasus yang menimpa Demokrat juga merebak mengingat Dede Yusuf diusung oleh Demokrat. Juga fenomena kotak-kotak ala Jokowi tak ketinggalan, yang itu dimainkan Rieke-Teten. Bahkan dalam kampanyenya, Jokowi dihadirkan untuk menarik simpati massa.

Dari lima pasangan kandidat yang ada, rupanya hanya tiga pasang kandidat yang bersaing ketat, Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki dan Dede Yusuf-Lex Laksamana. Sementara dua pasang yang lain, yakni Irianto MS Syafiuddin (Yance)-Tatang Farhanul Hakim dan Dikdik M. Arief Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib berada di peringkat bawah dengan perolehan yang tidak signifikan.

Keterpurukan Dede Yusuf yang hanya menempati peringkat ketiga bisa jadi merupakan dampak dari kemelut di Partai Demokrat secara nasional yang sedang bermasalah. Padahal sebelumnya, pasangan inilah yang diunggulkan akan memenangi pilkada di Jawa Barat. Di samping itu, langkah politik Dede Yusuf yang berpindah partai dari sebelumnya kader PAN kemudian pindah ke Demokrat memberikan image negatif di mata publik, walaupun akhirnya Demokrat dan PAN berkoalisi mengusungnya sebagai calon gubernur. Namun terkesan kalau Dede Yusuf sebagai kutu loncat dan oportunis. Apalagi yang bersangkutan telah berkiprah di PAN cukup lama.

Kemenangan Ahmad Heryawan, bisa jadi karena yang bersangkutan adalah incumbent. Dan selama menjabat sebagai gubernur, yang bersangkutan tidak memiliki kasus serta kesalahan fatal yang berdampak pada citra negatif. Di samping itu, karena faktor Deddy Mizwar yang berpasangan dengannya mampu mendongkrak elektabilitas, beliau merupakan aktor senior yang sangat populis di masyarakat. Dan kalangan artis kebanyakan mendukungnya selama kampanye. Kombinasi keduanya menjadikan pasangan ini bisa meraup simpati publik. Pemilih dari kelompok Islam serta pemilih mengambang lebih mengarahkan pilihannya ke pasangan ini. Selain itu, mesin partai, terutama PKS, berjalan optimal, sehingga elektabilitasnya tinggi.

Figur Bersih

Fenomena lain yang di luar dugaan adalah melambungnya suara dari Rieke-Teten yang bisa menempati peringkat kedua dan membayang-bayangi perolehan Ahmad Heryawan. Hal ini dikarenakan Rieke-Teten merupakan figur pembaru yang dianggap paling bersih dibanding lainnya dan menawarkan konsep-konsep perubahan. Juga dampak dari Jokowi masih terasa di pilkada Jawa barat ini. Selain itu, mesin partai, dalam hal ini PDIP, cukup solid dalam mendukung Rieke-Teten.

Dari pilkada Jawa Barat ini ada beberapa hal yang bisa kita petik, di antaranya yang pertama, masih pentingnya mesin partai politik dalam memenangi pilkada. Kedua, faktor popularitas, dalam hal ini figur populis yang berkarakter. Dan yang ketiga, kampanye yang efektif serta simpatik untuk menarik massa pemilih.

 

 

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah