Dinamika PKB dan Masa Depan Politiknya

Dinamika PKB dan Masa depan Politiknya

Dua orang tokoh Partai Kebangkitan Bangasa (PKB)  yang dikenal cukup vokal: Effendi Choiry dan Lily Wahid. Akhirnya resmi dicopot jabatannya sebagai anggota DPR RI. Hal ini tak lepas dari permintaan Dewan Pimpinan Pusat  PKB pimpinan Muhaimin Iskandar.  Yang  tampaknya gerah dengan kedua sikap tokoh ini, karena sering berseberangan dengan kebijakan partai yang dipipmpinnya.

Dalam pentas politik tanah air, PKB termasuk yang ikut bergabung dalam koalisi mendukung pemerintahan SBY. Karenanya Partai ini mendapatkan jatah dua menteri dalam kabinet Indonesia Bersatu, bahkan Muhaimin Iskandar  sebagai ketua umum partai ini diangkat sebagai menteri dalam kabinet. Itu sebabnya, PKB terlihat selalu loyal dengan kebijakan pemerintah tak terkecuali fraksinya di DPR.

Melihat komposisi jumlah kursi di parlemen yang tidak seberapa itu, PKB tentunya berupaya “mengamankan diri” dengan posisi politiknya. Olehnya itu, dinamika politik di parlemen, politisi dan fraksi PKB selalu patuh pada kebijakan setgab koalisi dan seirama dengan Demokrat (partai penguasa).

Effendi Choiri dan Lily Wahid yang sering “bermain” sendiri dan tidak loyal pada kebijakan fraksi sudah pasti disingkirkan.

Kita tahu, sepeninggal Gus Dur, PKB mengalami distorsi serta penurunan greget dalam kancah politik tanah air. Pemilu 2009 lalu misalnya, perolehan suaranya mengalami penurunan. Terjadinya perpecahan dalam kepengurusan serta ketidakharmonisan hubungan antara Cak Imin dengan kubu Gus Dur yang diwakili oleh Yeni Wahid, serta berdirinya partai baru dilingkungan NU yakni PKNU menjadi penyebab merosotnya suara PKB.

PKB adalah partai politik yang bisa disebut anak kandung NU. Mengingat kelahirannya dipelopori oleh tokoh-tokoh NU termasuk almarhum Gus Dur. Pemilu pertamakali pada 1999 suara PKB cukup signifikan, itu terlihat dengan  masuknya PKB dalam empat besar. Saat itu PKB dapat kita sebut berada pada masa keemasan, diperkuat lagi dengan terpilihnya Gus Dur menjadi Presiden. Namun setelah itu, konflik berkepanjangn mendera partai ini, sehingga  elektabilitasnya semakin menurun.

Tantangan PKB

Pemilu 2004 menjadi  tantangan tersendiri bagi PKB agar tetap eksis dalam percaturan politik tanah air. Oleh karena partai ini telah kehilangan figur sentral, Gus Dur. Di samping itu, manufer serta kiprah elite politiknya yang belakangan ini kurang menempilkan citra positif bagi partai. Ditambah lagi kinerja kementerian yang dipegang oleh kader PKB dirasa publik kurang memuaskan.

Persaingan antarpartai politik yang semakin ketat untuk mendongkrak elektabilitas menuntut kesiapan seluruh perangkat partai. Baik berupa dana, mesin partai, figur atau popularitas tokoh, jaringan, dan tentunya strategi pemenangan. Kalau semua itu berjalan baik, PKB masih akan terus eksis.

Selama ini PKB mengandalkan warga NU sebagai basis massanya, dan Jawa Timur merupakan lumbung suara ditambah sebagian Jawa Tengah. Sebaran suara yang tidak merata di semua wilayah Indonesia juga merupakan persoalan tersendiri. Apalagi saat ini partai lain berusaha menggarap kantong-kantong suara NU, terutama PPP yang juga banyak didukung oleh komunitas ini.

Perasaan was-was tentunya manghantui elite-elite PKB, apabila dukungan dari warga NU memudar. Oleh karena itu, perlu dibangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan NU baik secara struktural maupaun kultural. Sebab, bila tidak PKB akan tereliminasi dari parlemen. Mengingat, parlementary threshold sebesar 3,5 persen perolehan suara nasional bisa tidak tercapai.

Pemilu 2014 sebenarnya bisa dijadikan momentum bagi PKB untuk kembali meneguhkan dirinya sebagai partainya orang NU. Aktivis NU di daerah dan pusat dapat diakomodir aspirasi politiknya, tak lupa tokoh-tokoh kulturalnya diberdayakan untuk membangun basis massa.

 

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah