Konsensus Para Mantan Jenderal Jelang Pilpres 2014

Konsensus Para Mantan Jenderal Jelang Pilpres 2014

Publik menanggapi berlebihan perihal pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan sejumlah mantan Jenderal pada Rabu (13/3) di Istana Negara. Sebenarnya, apa yang perlu direspons dan tidak perlu direspons?

Tujuh mantan perwira tinggi TNI itu di antaranya: Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan; mantan KSAD, Jenderal TNI (Purn) Subagyo HS; Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi; Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo; Letnan Jenderal TNI (Purn) Johny Josephus, Letnan Jenderal TNI (Purn) Sumardi, dan Letnan Jenderal (Purn) Suaidi Marasabessy. Sekitar dua jam mereka mengobrol dengan SBY.

Dua hari sebelumnya, di tempat yang sama, SBY menerima Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto yang ditemani oleh Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon. Pertemuan kedua tokoh ini disinyalir ada agenda politik tertentu mengenai langkah kedua partai politik besutan keduanya (baca: Demokrat dan Gerindra). Namun, pihak istana menyatakan, kalau pertemuan itu silaturahmi biasa dan bertukar pikiran soal kondisi bangsa dan negara.

Pertemuan Biasa

Pertemuan SBY dengan beberapa purnawirawan perwira tinggi TNI ini menjadi hangat dalam dinamika politik belakangan ini. Hal ini tidak terlepas dari situasi perpolitikan nasional yang semakin panas menjelang Pemilu 2014 ini. Apalagi masa jabatan SBY sudah menginjak dua periode, yang tidak memungkinkan lagi menjadikannya presiden.

Namun, bertemunya SBY dengan beberapa tokoh (baca: mantan Jenderal) itu sebetulnya pertemuan biasa. Ini terlihat dalam protokoler kepresidenan. Misalnya, SBY sering pula menerima kunjungan para tokoh, baik pengusaha, mahasiswa, pimpinan ormas, maupun mantan pejabat negara. Setelah menerima kunjungan mantan Jenderal, presiden sudah mengagendakan bertemu dengan beberapa tokoh ormas keagamaan.

Para mantan Jenderal adalah manusia biasa, yang sudah tidak memiliki pengaruh, baik dalam dunia militer maupun pemerintahan, karena sudah memasuki masa pensiun. Bahkan mereka kini tidak menduduki jabatan di pemerintahan.

Namun, untuk Prabowo, ia sedang berkiprah sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra dan bertekad maju sebagai calon presiden tahun 2014. Kehadiran Prabowo ke istana yang berbeda waktu dengan tujuh mantan Jenderal yang lain itu, mengindikasikan adanya perbedaan persepsi serta agenda di antara mereka. Di samping itu, Prabowo dikenal berseberangan dengan tujuh mantan Jenderal.

Buat SBY, langkah ini menjadi spirit dan menjaring masukan dalam menjalankan roda pemerintahan. Selain itu, juga merupakan manuver politik untuk mencairkan suasana, terkait memanasnya situasi politik tanah air belakangan.

Menuju Pilpres 2014

Dengan semakin dekatnya pelaksanaan pemilu, serta suksesi kepemimpinan nasional pasca-SBY, tampaknya pertemuan ini menjadi momen untuk menimang calon pengganti SBY yang diharapkan dari kelompoknya.

Kedatangan para mantan perwira tinggi TNI pada dua waktu yang berbeda—Prabowo yang datang sendiri dan Luhut cs di lain waktu—disinyalir kedua kelompok ini memliki calon presiden sendiri. Prabowo tentu berharap SBY mendukungnya sebagai calon presiden mendatang, sementara Luhut cs menghendaki tidak, dan punya pilihan calon lain.

Hal lain yang menjadi titik tekan SBY adalah perlunya mengamankan jalannya program pemerintah. Jalannya pemerintahan yang saat ini diterpa masalah, seperti korupsi dan persoalan pangan tentu perlu diantisipasi agar tidak merusak citra pemerintah. Sesama alumni AKABRI dan mantan anggota TNI, para mantan perwira tinggi itu berusaha menunjukkan jiwa korsanya.

Paling penting sebetulnya, presiden berharap di akhir masa jabatannya tetap mendapat dukungan dan simpati publik serta memperoleh kebaikan di akhir hayat kekuasaannya (khusnul khatimah). Sementara penggantinya diharapkan dapat melanjutkan programnya.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah