Pilgub Jawa Tengah: Berlaga di Kandang Banteng

Pilgub JatengPada Pilkada Jawa Tengah kali ini, proses pencalonan gubernur dan wakil gubernur terkesan alot dan lama, terutama dalam menentukan kandidat definitif di internal partai politiknya. Bakal calon mendaftar pada saat-saat akhir. Untuk kandidat non-partai politik (perseorangan) tidak satu bakal calon pun yang mendaftar.

Sampai ditutupnya waktu pendaftaran, akhirnya tiga pasang bakal calon gubernur dan wakil gubernur mendaftar, di antaranya Bibit Waluyo dan Sudijono Sastroatmodjo yang diusung oleh Partai Demokrat, Golkar, dan PAN. Bibit mendaftar pada sehari sebelum batas akhir, dan pada Selasa malam; injured time. Sementara itu, PDIP mengajukan Ganjar Pranowo yang berpasangan dengan Heru Sudjatmiko. Terakhir, Hadi Prabowo dan Don Murdono mendaftarkan diri, diusung oleh Partai Gerindra, PPP, PKS, PKB, Hanura, dan PKNU.

Berlarutnya proses pencalonan ini dikarenakan partai politik saling menunggu terhadap figur yang akan diusung. Beberapa nama yang sudah mengemuka di publik dan merupakan rivalitas yang kuat adalah Bibit Waluyo yang merupakan gubernur saat ini, Rustriningsih (wakil gubernur), Hadi Prabowo (Sekda), Ganjar Pranowo (DPR RI PDIP).

PDIP Mengusung Kader Sendiri

Beberapa partai politik menunggu PDIP terkait siapa yang akan mendapat rekomendasi untuk dicalonkan, sementara PDIP juga menunggu partai mana yang akan mengusung Bibit Waluyo yang merupakan incumbent. Selain itu, ada kalanya partai politik mencoba untuk mengeliminasi terbacanya peta oleh partai lainnya.

Bibit Waluyo yang dahulu diusung oleh PDIP berpasangan dengan Rustriningsih, kini pecah kongsi dengan partai yang mengusungnya dahulu. Ketidakharmonisan Bibit dan PDIP sudah berlangsung cukup lama, sehingga tidak ada alasan bagi PDIP untuk mencalonkan dirinya kembali. Tidak hanya itu, terjadi disharmoni antara Bibit sebagai gubernur dan Rustriningsih yang menjabat wakil gubernur.

Pilihan PDIP kemudian ada pada tiga kandidat yang mempunyai kans cukup besar, yakni Rustriningsih, Ganjar Pranowo, dan Hadi Prabowo. Ketiganya dipandang mampu mendongkrak elektabilitas. Namun rupanya, PDIP lebih tertarik pada kadernya sendiri, sebagaimana yang terjadi pada pilkada provinsi lainnya. Sehingga yang mengerucut tinggal dua nama: Ganjar dan Rustriningsih. Pada waktu-waktu akhir, rekomendasi jatuh ke Ganjar Pranowo, dipasangan dengan Heru Sudjatmiko (Bupati Purbalingga).

Akankah Kandang Banteng Dapat Bertahan?

Pelaksanaan Pilgub Jawa Tengah yang terselenggara setelah provinsi lain—sebelumnya DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Utara—tentunya dalam beberapa hal menjadi bahan instrospeksi bagi partai politik maupun kandidat yang akan berlaga. Strategi pemenangan yang dimainkan serta hasil yang diperoleh menjadi bahan pembelajaran untuk meraih kemenangan.

Sebagai provinsi yang menjadi pusat peradaban Jawa, sudah semestinyalah Jawa Tengah menjadi barometer perpolitikan nasional. Jawa merupakan etnis mayoritas dan relatif menguasai negeri ini dalam banyak hal, tak terkecuali dalam kancah politik. Dan selama ini, Jawa Tengah merupakan basis PDIP atau lebih populer distilahkan sebagai kandang banteng.

Oleh karena itu, PDIP akan berusaha sebisa mungkin untuk memenangkan pilkada di Jateng, apalagi kali ini yang diusung, baik itu calon gubernurnya maupun wakil gubernurnya adalah kader PDIP. Sehingga  seluruh elemen partai tentu akan digerakkan dalam hal ini, tak terkecuali ketokohan Jokowi yang sedang popular tentu akan dimainkan untuk mendongkrak elektabilitas Ganjar Pranowo. Apalagi Jokowi berasal dari Solo.

Untuk menang di kandangnya sendiri, tentu merupakan pekerjaan besar yang menuntut kejelian bagi PDIP, mengingat calon yang lain pun diusung oleh partai koalisi yang kalau mengacu pada perolehan pada pemilu lalu, suaranya pun cukup signifikan karena gabungan beberapa partai.

Di samping itu, dengan jumlah kandidat yang hanya tiga pasang membuat persaingan semakin ketat. Ketiga calon gubernur adalah orang kuat; satu adalah incumbent, satunya birokrat mumpuni (Sekda), dan satunya lagi politisi nasional. Sehingga peluangnya relatif sama. Dan kemungkinan, perolehan suaranya akan bersaing dan berbeda tipis.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah