Silang Tafsir Ideologi Hanura

Silang Tafsir Ideologi Hanura

Seorang kawan bertanya, apa ideologi Hanura. Pertanyaan masygul pertanda ideologi berpartai seperti gelegar petir di tanah kerontang. Ya, dibutuhkan, tapi tidak serta-merta menemukan tempatnya. Lantas bagaimana dengan ideologi Partai Hanura?

Riuh rendah penjelasan tentang hati nurani gemuruh massal dalam setiap jamuan kepartaian di Hanura. Entah seberapa jauh pemahaman fungsionaris dan anggota Hanura, tapi lekat dalam interaksi kepartaian, bahasan tentang ideologi telah dianggap selesai. Hanura punya hati nurani rakyat.

Maka sebutlah hati nurani rakyat itu sebagai ideologi. Namun senyatanya, kehendak rakyat tidaklah sama. Bagi perindu keadilan, atau bagi pencoreng keadilan, sama-sama berkehendak. Bahkan mereka adalah rakyat. Jadi hati nurani rakyat masihlah pemahaman abstrak.

Maka sebutlah hati nurani rakyat itu spirit perjuangan Hanura. Bila semua orang di Hanura mengedepankan hati nuraninya, negeri ini akan adil dan tenteram, serta sejahtera. Namun benarkah hati nurani sebagai moral untuk berbuat dapat diukur segampang publik menghitam-putihkan citra koruptor? Ternyata juga tidak segampang yang dikira.

Atau sebutlah hati nurani rakyat sebagai pegangan independensi etis. Sebuah kemerdekaan pikir dan aksi berdasarkan kebenaran yang diyakini, sementara program atau kebijakan politik adalah hal yang harus disepakati standarisasinya. Barangkali ini lebih dapat menemukan pasarnya. Publik dengan gampang akan mengamininya. Bahwa memang ada tumpuan kepercayaan pada kebenaran untuk berbuat banyak, terutama berpolitik. Pada konteks hanura, hati nurani adalah tumpuan kepercayaan itu.

Namun masalah baru akan muncul. Hanura memang belum dapat menjelaskan ideologinya. Hanura kemudian melebur dalam semua kebijakan partai yang mewakili kebenaran, karena bertitik tumpu pada hati nurani, tapi lekang dalam diskursus ideologi.

PDIP dan PKS

Seperti diketahui, partai yang masih dianggap memenuhi kaidah ideologis, atau bahkan pencitraan ideologis, atau bolehlah disebut sebagai partai ideologis adalah PDIP dan PKS. PDIP mewakili kepentingan wong cilik, sementara PKS eksis dengan gerakan dakwah Islamnya. Kedua partai tersebut memiliki loyalis kentara yang dapat diukur setiap saat, untuk menang atau kalah dalam kancah politik formal.

Bak sedarah, di beberapa daerah, terutama di Jawa Tengah, tukang becak atau para PKL berbangga dengan atribut PDIP. Bahkan di Solo, setiap kali ada yang meninggal dunia, PDIP tiba-tiba menjadi sangat sibuk. Mereka tampak ingin menjadi yang pertama berurusan dengan keluarga yang terkena musibah. Soal penanganan PKL, Solo bahkan dijadikan referensi banyak negara.

Beberapa Pilkada terakhir dimenangkan PKS, sementara dalam waktu bersamaan, PKS sedang diterpa isu korupsi. Publik seakan tidak ambil pusing, dan justru memenangkan calon kepala daerah yang didukung PKS. Senyatanya, kerja politik PKS berjalan maksimal. Mereka menembus konstituen langsung, tak hanya citra yang semu. Mereka berbicara dalam dakwah-dakwah terstruktur untuk menyampaikan kebaikan dalam bingkai politik.

Ideologi Hanura

Sebagai generalisasi, barangkali Partai Demokrat dapat memenangkan SBY sebagai Presiden bukan karena simpati publik, selepas ‘dizalimi’ Megawati. PD besar karena timnya mampu membangun komunikasi baik dengan para donator politik. Mereka berurun hingga menggelembungkan pendanaan partai tak tanggung-tanggung.

Demokrat bukan Golkar yang telah matang organisasi politiknya. Demokrat bukan PDIP atau PKS, karena tidak ideologis. Namun Demokrat dapat memenangkan kontestasi, sebagai partai baru yang banyak uang dan mampu bernegoisasi konkret dengan pemilih.

Sebutlah Hanura identik dengan Golkar. Pada kenyataannya tidak demikian. Hanura ada di belakang pola antrian Demokrat. Ada Nasdem di belakang antrian Hanura. Kecuali Hanura mampu menerjemahkan ideologi partai ke dalam aktivitas politiknya. Mari kita tunggu gebrakan selanjutnya, setelah banyak tokoh memutuskan untuk bergabung dengan Hanura.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.